405. Sarapan Di Istana Vampire

Romance Completed 594

BAB 405 — SARAPAN DI ISTANA VAMPIRE

Suasana di dalam kamar masih terasa aneh.

Fiona duduk di tepi tempat tidur.

Raizen berdiri beberapa langkah darinya.

Mufasa berada di dekat meja, masih memegang nampan kosong yang perlahan mulai kehilangan uap hangatnya.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian—

Raizen akhirnya berkata,

“Makan.”

Fiona menoleh.

Raizen menunjuk ke arah meja.

“Sarapan.”

Fiona menatap nampan tersebut.

Kemudian menatap Raizen.

“….”

Tidak ada jawaban.

Raizen tetap diam.

Fiona kembali melihat makanan.

Roti.

Buah.

Minuman hangat.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal untuk seseorang yang baru saja diculik oleh Raja Vampire.

Fiona akhirnya menghela napas.

“Kau benar-benar berharap aku makan?”

Raizen menjawab singkat.

“Ya.”

Fiona mengangkat alis.

“Setelah kau menculikku?”

Raizen tidak menjawab.

Fiona menyilangkan tangan.

“Dan menyegel magicure-ku?”

Tetap diam.

“Dan memisahkanku dari Darrien?”

Tatapan Raizen tetap tenang.

Fiona mendengus.

“Luar biasa.”

Mufasa yang berdiri di samping meja menundukkan kepalanya sedikit.

Ia memilih untuk tidak ikut campur.

Ini bukan percakapan yang ingin ia masuki.

***

Beberapa saat kemudian—

Fiona akhirnya berjalan mendekati meja.

Namun sebelum duduk—

ia berhenti.

Tatapannya kembali kepada makanan.

Ia menyipitkan mata.

Kemudian menatap Mufasa.

“…”

Mufasa langsung tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu.

Fiona menunjuk nampan.

“Kau yakin tidak ada racun di dalamnya?”

Mufasa terdiam.

Ia melihat makanan.

Kemudian melihat Fiona.

“Tidak ada.”

Fiona masih terlihat curiga.

“Benar?”

“Benar.”

“Bagaimana kamu tahu?”

Mufasa menarik napas.

Namun sebelum ia menjawab—

Karachi berbicara.

“Tidak perlu khawatir.”

Fiona menoleh.

Raizen berjalan perlahan mendekati meja.

Tatapannya tetap tenang.

“Aku tidak tertarik meracuni seseorang yang ingin kupelajari.”

Fiona mengerutkan kening.

“Dipelajari?”

Raizen berhenti beberapa langkah darinya.

“Pure magicure-mu.”

Fiona terdiam.

Raizen melanjutkan,

“Aku hanya tertarik pada kekuatanmu.”

Tatapannya turun kepada kedua pergelangan tangan Fiona.

“Sudah sangat lama aku tidak melihat seseorang…”

Ia berhenti sejenak.

“…atau elf…”

Kemudian kembali menatap Fiona.

“…yang mampu mendispel auraku.”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia masih memandangnya dengan curiga.

Raizen tidak terlihat sedang bercanda.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada kebohongan yang mudah dibaca.

Hanya rasa ingin tahu yang tenang.

Fiona akhirnya berkata,

“Jadi itu alasanmu?”

Raizen mengangguk kecil.

“Untuk saat ini.”

Fiona menangkap dua kata terakhir.

“Untuk saat ini?”

Raizen tidak menjelaskan..

Fiona menghela napas.

“Baiklah.”

Ia menarik kursi.

“Kalau begitu aku akan makan.”

Mufasa sedikit mengangkat alis.

Fiona duduk.

Namun sebelum mengambil roti—

ia menatap Raizen sekali lagi.

“Dan jangan salah paham.”

Raizen menatapnya.

“Aku makan bukan berarti aku setuju menjadi ratumu.”

Mufasa langsung menundukkan kepalanya.

Ia hampir tersenyum.

Fiona mengambil sepotong roti.

“Jelas?”

Raizen menjawab tenang.

“Jelas.”

Fiona menggigit roti tersebut.

Ia mengunyah perlahan.

Kemudian menatap ke arah jendela.

Ia sengaja tidak melihat Raizen.

Raizen tetap berdiri di tempatnya.

Mengamatinya.

Fiona mengambil buah.

Makan lagi.

Kemudian minum sedikit.

Beberapa saat berlalu.

Akhirnya—

Fiona berkata tanpa menoleh,

“Berhenti menatapku.”

Raizen tidak menjawab.

Fiona mengerutkan kening.

“Aku tahu kau masih melihatku.”

Raizen tetap diam.

Fiona mendengus kecil.

“Vampire aneh.”

Mufasa menahan napas.

Ia menatap langit-langit.

*Jangan tertawa.*

*Jangan tertawa.*

***

Beberapa menit kemudian—

Fiona akhirnya meletakkan makanannya.

“Aku sudah selesai.”

Mufasa segera bergerak.

Ia mengambil nampan.

“Kalau begitu…”

Ia menundukkan kepala.

“Terima kasih.”

Fiona menatapnya.

“Untuk makanannya?”

Mufasa mengangguk.

Fiona menghela napas.

“Setidaknya kau lebih mudah diajak bicara.”

Mufasa terdiam.

Ia melirik Raizen

Raizen masih berdiri di tempat yang sama.

Mufasa segera menundukkan kepala kembali.

“Saya akan pergi.”

Raizen hanya mengangguk.

Mufasa berbalik.

Namun sebelum keluar—

ia berhenti sebentar.

Ia melihat Fiona.

Kemudian Raizen.

Kemudian Fiona lagi.

Mufasa tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menarik napas panjang.

Lalu keluar.

Pintu tertutup.

***

KORIDOR SHADOWCRESENT.

Mufasa berjalan perlahan.

Nampan masih berada di tangannya.

Beberapa langkah.

Sepuluh langkah.

Dua puluh langkah.

Kemudian—

ia berhenti.

Mufasa menatap ke depan.

Menghela napas panjang.

“…”

Ia mengangkat wajahnya ke langit-langit.

“Akhirnya.”

Ia benar-benar lega.

Bukan karena tugas sarapan telah selesai.

Namun karena—

ia berhasil keluar dari kamar itu tanpa terlibat dalam masalah apa pun.

Mufasa mengusap wajahnya.

“Ini jauh lebih melelahkan daripada membawa laporan perang.”

Ia kembali berjalan.

Namun pikirannya masih tertinggal di kamar tadi.

Raizen.

Fiona.

Dan tatapan Tuannya terhadap Pure Light Elf itu.

Mufasa mengerutkan kening.

Ia telah melayani Raizen cukup lama.

Ia tahu bagaimana sang Raja memandang orang lain.

Dingin.

Tidak peduli.

Sulit dibaca.

Namun tadi—

ada sesuatu yang berbeda.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tetapi Mufasa menyadarinya.

Ketertarikan.

Bukan hanya terhadap Fiona.

Melainkan terhadap sesuatu yang ada di dalam dirinya.

Pure Light magicure.

Mufasa menghela napas lagi.

“Masalah baru…”

Ia berjalan menuju koridor lain.

Kemudian bergumam,

“Semoga aku tidak perlu ikut campur.”

Ia berhenti.

“Dan semoga Tuanku tidak memintaku menjelaskan tentang gadis itu.”

Mufasa menatap nampan di tangannya.

“Karena aku juga tidak tahu apa-apa.”

Ia menggeleng.

Kemudian melanjutkan langkahnya.

Untuk pertama kalinya pagi itu—

Mufasa merasa sedikit lega.

***

Kembali di dalam kamar—

Raizen masih belum bergerak.

Fiona berdiri di dekat jendela.

Punggungnya membelakangi Raizen.

Ia menatap pemandangan Shadowcresent.

Tangannya perlahan menyentuh kaca.

“Darrien…”

Ia berbisik.

Kemudian menarik napas.

“Aku tahu kau akan datang.”

Raizen mendengar suara itu.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Tatapannya tetap tertuju pada Fiona.

Bukan kepada wajahnya.

Bukan kepada tubuhnya.

Melainkan—

kepada aura Pure Light yang tersembunyi di balik segel magicure-nya.

Ia masih penasaran.

Bagaimana mungkin magicure semurni itu mampu menembus auranya?

Berapa besar kekuatan sebenarnya?

Dan—

apa yang akan terjadi jika segel itu dilepaskan?

Raizen menyipitkan mata.

Sebuah pertanyaan kecil muncul dalam pikirannya.

*Seberapa jauh kekuatanmu sebenarnya?*

Ia tidak mengetahui jawabannya.

Namun satu hal telah berubah sejak pertemuan mereka.

Fiona bukan lagi sekadar perempuan yang dibawa kepadanya sebagai bagian dari tuntutan balas dendam.

Ia telah menjadi—

sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dan Raizen —

tidak terbiasa mengabaikan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Di sisi lain ruangan—

Fiona masih menatap langit Shadowcresent.

Tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan sang Raja.

Ia hanya memiliki satu keyakinan.

Darrien akan datang.

Dan ia akan menunggu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience