Series
382
BAB 236
Fiona membuka matanya perlahan.
“…”
Ia mengedip beberapa kali.
Pandangannya masih buram.
Namun ketika matanya mulai fokus—
ia langsung mengenali tempat itu.
Crystal Hall.
Fiona berdiri di tengah lantai kristal yang berkilauan.
Cahaya lembut memantul di sekelilingnya.
Ia menatap tangannya.
Kemudian gelang di pergelangan tangannya.
Masih ada.
Fiona tersenyum kecil.
“Jadi aku benar-benar kembali.”
Sebuah suara tawa kecil terdengar.
“Eh?”
Fiona menoleh.
Dua tiny elf muncul dari balik pilar kristal.
Keduanya terbang mengelilinginya.
“Ah…”
Fiona tertawa.
“Kalian lagi.”
Kedua tiny elf itu tertawa lebih keras.
Fiona menghela napas.
“Kalian benar-benar tidak pernah bisa bicara, ya?”
Mereka hanya saling memandang.
Kemudian salah satunya menunjuk ke arah lorong.
Fiona mengikuti arah jarinya.
“Oh?”
Ia menatap lorong panjang di depannya.
“Kalian mau membawaku ke suatu tempat?”
Kedua tiny elf itu mengangguk bersamaan.
Fiona tersenyum.
“Baiklah.”
Ia mulai berjalan.
Kedua tiny elf terbang di depan.
Namun kali ini—
Fiona tidak terburu-buru.
Ia justru memperhatikan sekeliling.
“Tempat ini…”
Ia memandang dinding kristal.
“Rasanya seperti aku pernah melewati sini.”
Tiny elf pertama menoleh.
Kemudian tertawa.
“Kalian tahu sesuatu, kan?”
Tidak ada jawaban.
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
Tawa kecil kembali terdengar.
Fiona menggeleng.
“Kalian berdua benar-benar menyebalkan.”
Namun ia tetap mengikuti mereka.
***
Mereka melewati taman kristal.
Pohon besar yang sebelumnya menjadi tempat Fiona tidur masih berdiri di sana.
Cahaya lembut mengalir dari batang hingga ke ujung ranting.
Fiona berhenti sebentar.
“Pohon ini…”
Ia mendekatinya.
Tangannya menyentuh batang pohon.
Hangat.
Sangat familiar.
Fiona tersenyum kecil.
“Aku pernah tidur di sini.”
Tiny elf menunjuk ke depan.
Fiona menoleh.
“Sudah?”
Keduanya mengangguk.
Fiona berjalan lagi.
Mereka melewati sebuah koridor panjang.
Kemudian berbelok.
Dan akhirnya—
berhenti.
Fiona ikut berhenti.
Di depannya berdiri sebuah pintu.
Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.
Namun ada sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh.
Pintu itu memiliki ukiran daun perak.
Fiona langsung melihat gelangnya.
Simbol yang sama.
“…”
Ia perlahan mengangkat tangannya.
“Ini…”
Gelangnya mulai bersinar.
Fiona menatapnya.
“Kalian sengaja membawaku ke sini?”
Tiny elf pertama mengangguk.
Yang kedua tertawa kecil.
Fiona menghela napas.
“Baiklah.”
Ia berdiri tepat di depan pintu.
Tangannya perlahan meraih gagang.
Namun sebelum menyentuhnya—
ia berhenti.
“Kalau aku membukanya…”
Ia menoleh kepada kedua tiny elf.
“Apa aku akan menemukan jawabannya?”
Kedua tiny elf saling pandang.
Kemudian—
mereka hanya tersenyum.
Fiona memelototi mereka.
“Itu bukan jawaban.”
Mereka tertawa.
Fiona mengembungkan pipinya.
“Baik.”
Ia kembali menghadap pintu.
“Kalau begitu aku buka sendiri.”
Tangannya menyentuh gagang.
**Klik.**
Pintu bergerak sedikit.
Cahaya putih keluar dari celahnya.
Fiona menyipitkan mata.
Namun sebelum pintu terbuka sepenuhnya—
sebuah suara samar terdengar.
Bukan suara tiny elf.
Bukan suara Darrien.
Suara seorang wanita.
Sangat jauh.
Sangat lembut.
“…”
Fiona membeku.
“Apa…?”
Suara itu terdengar lagi.
“Fiona…”
Matanya membesar.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya cahaya.
Fiona mencoba membuka pintu lebih jauh.
Namun tiba-tiba—
seluruh ruangan bergetar.
Tiny elf terbang mundur.
Fiona kehilangan keseimbangan.
“Apa yang terjadi?!”
Cahaya menjadi semakin terang.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dan sebelum ia sempat melihat apa yang berada di balik pintu—
semuanya menjadi putih.
***
Di dunia nyata—
matahari mulai turun.
Fiona masih tertidur di taman kecil.
Tubuhnya bersandar pada Darrien.
Darrien sudah menyadari bahwa ia tidak akan segera bangun.
Ia tidak membangunkannya.
Hanya duduk diam di sampingnya.
Sesekali ia melihat wajah Fiona.
Tenang.
Tidak ada tanda-tanda mimpi buruk.
Darrien menghela napas lega.
“Semoga kau menemukan apa yang kau cari.”
***
Di dalam perpustakaan—
Elarion masih mencari.
Satu buku.
Dua buku.
Tiga buku.
Tidak ada jawaban.
Namun akhirnya—
ia menemukan sebuah catatan lama.
Simbol daun perak.
Elarion langsung terdiam.
“…”
Ia membaca tulisan di bawah simbol tersebut.
Namun sebagian besar kalimat telah hilang.
Hanya satu bagian yang masih terbaca.
**“…cahaya yang kembali…”**
Elarion mengerutkan kening.
“Cahaya yang kembali?”
Ia membalik halaman.
Kosong.
“Hebat.”
Ia menghela napas.
“Justru bagian pentingnya hilang.”
Namun ia tidak menyerah.
Ia kembali mencari.
***
Sementara itu—
di Lunaris,
Elyon, Sylvester, King Zeith, dan Queen Seraphine masih berada di Crystal Hall.
Crystal utama kembali berdenyut.
Kali ini—
cahayanya lebih lembut.
Namun lebih dalam.
Sylvester menatapnya.
“Perubahannya berbeda.”
Elyon mengangguk.
“Ya.”
King Zeith bertanya,
“Apakah itu berarti sesuatu?”
Elyon terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Mungkin.”
Queen Seraphine menatapnya.
“Kau masih berpikir tentang Fiona?”
“Ya.”
“Dan kau masih tidak tahu siapa dia?”
Elyon tertawa kecil.
“Kalau aku tahu, aku tidak akan berada di sini.”
Sylvester menghela napas.
“Dua hari lagi.”
Elyon mengangguk.
“Dua hari lagi.”
Pesta Veyth.
Upacara pewaris.
Dan mungkin—
jawaban yang selama ini mereka tunggu.
***
Kembali ke dalam mimpi—
Fiona perlahan membuka matanya.
Cahaya putih sudah menghilang.
Ia masih berdiri di depan pintu.
Namun kali ini—
pintu tersebut sudah terbuka.
Fiona menatap ke dalam.
Matanya perlahan membesar.
“…”
Di balik pintu—
ada sebuah ruangan.
Ruangan yang sangat familiar.
Fiona menelan ludah.
“Ini…”
Ia melangkah masuk.
Kemudian berhenti.
Karena di tengah ruangan—
ada sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah meja kristal.
Di atasnya terdapat sebuah kotak kecil.
Dan di atas kotak itu—
terukir simbol daun perak yang sama.
Fiona mendekat perlahan.
Tangannya hampir menyentuh kotak tersebut.
Namun sebelum ia membukanya—
sebuah suara kembali terdengar.
“Fiona…”
Kali ini lebih dekat.
Fiona membeku.
Ia perlahan menoleh.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara tawa kecil kedua tiny elf dari belakangnya.
Fiona menatap mereka.
“Kalian tahu siapa dia?”
Kedua tiny elf hanya tersenyum.
Fiona menghela napas.
“Baiklah…”
Ia kembali melihat kotak di depannya.
“Kalau begitu…”
Tangannya perlahan menyentuh penutup kotak.
“…aku akan cari tahu sendiri.”
Dan tepat ketika ia mulai membukanya—
cahaya kembali memenuhi ruangan.
Share this novel