482. Mereka Datang Lagi

Romance Completed 594

BAB 482 — MEREKA DATANG LAGI

Shadowcresent.

Hari itu seharusnya menjadi hari biasa.

Setidaknya...

begitulah yang dipikirkan Fiona.

Ia berjalan santai menyusuri salah satu lorong panjang istana bersama Raizen.

Tangan mereka saling menggenggam.

Langkah mereka terdengar ringan di atas lantai batu kuno.

Sesekali Fiona berhenti hanya untuk melihat lukisan-lukisan tua yang menghiasi dinding.

Raizen mengikutinya tanpa keberatan.

Namun sejak pagi...

ada sesuatu yang terasa berbeda.

Raizen tidak bisa menjelaskannya.

Ia hanya merasa...

ada sesuatu yang salah.

Sesuatu yang belum terlihat.

Namun seolah-olah ruang di sekeliling Shadowcresent sedang menahan napas.

Raizen berjalan beberapa langkah tanpa berkata apa-apa.

Fiona yang berada di sampingnya akhirnya menoleh.

"Raizen?"

"Hm?"

"Kau diam."

Raizen menatapnya.

Fiona memiringkan kepala.

"Apa yang terjadi?"

Raizen menatap wajah Fiona beberapa saat.

Kemudian pandangannya bergeser ke lorong di depan mereka.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada suara aneh.

Tidak ada laporan.

Tidak ada tanda serangan.

Hanya istana yang tenang.

Ia kembali menatap Fiona.

"Nothing."

Raizen tersenyum lembut.

"Mungkin hanya perasaanku."

Fiona memperhatikan wajahnya sebentar.

Kemudian tersenyum.

"Oh..."

Ia menggenggam tangan Raizen sedikit lebih erat.

"Kalau begitu, jangan terlalu dipikirkan."

Raizen mengangguk.

"Baik."

Fiona kembali berjalan.

Beberapa detik kemudian—

ia mulai tertawa karena sesuatu yang dikatakan Raizen.

Suara tawanya memenuhi lorong.

Ringan.

Hangat.

Berbeda jauh dari suasana Shadowcresent yang biasanya terasa dingin.

Raizen ikut tersenyum.

Ia memandang Fiona beberapa kali.

Dan setiap kali tatapan mereka bertemu—

Fiona tersenyum.

Hari itu terasa seperti hari biasa.

Bagi Fiona...

memang begitu.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar istana.

Tidak tahu bahwa sesuatu telah memasuki wilayah Shadowcresent.

Tidak tahu bahwa Veyth kembali.

Baginya—

hari itu hanya hari lain bersama Raizen.

Mereka berjalan melewati aula.

Kemudian melewati taman dalam istana.

Fiona berhenti di depan sebuah jendela besar.

Ia melihat ke luar.

"Cuacanya bagus."

Raizen berdiri di belakangnya.

"Ya."

Fiona menoleh.

"Kita bisa berjalan ke taman nanti."

"Kalau kau mau."

"Aku mau."

Raizen tersenyum.

Kemudian tanpa peringatan—

ia menarik Fiona perlahan ke dalam pelukannya.

Fiona sedikit terkejut.

"Eh?"

Raizen menunduk.

Mengecup keningnya dengan lembut.

Fiona langsung tersipu.

"Hei..."

Ia menoleh ke belakang.

"Mufasa melihat."

Raizen menatapnya santai.

"Tidak."

Fiona mengerutkan kening.

"Bagaimana kau tahu?"

Raizen melirik ke belakang.

"Mufasa tidak melihat."

Fiona ikut menoleh.

Beberapa meter di belakang mereka—

Mufasa berdiri.

Diam.

Sangat diam.

Matanya menatap lantai.

Lebih tepatnya...

menatap sepatunya sendiri.

Dalam hati—

*Seandainya saja aku bisa menjadi tidak terlihat.*

Mufasa menarik napas panjang.

*Kenapa aku masih berada di sini?*

Namun sebagai kepala pertahanan Shadowcresent—

ia tidak punya pilihan.

Ia harus mengikuti.

Ia harus memastikan keselamatan Fiona.

Dan tentu saja...

ia harus menjadi saksi tidak resmi dari kemesraan rajanya.

Mufasa menghela napas.

Kemudian—

*Bzzzt.*

Sebuah cahaya kecil muncul dari kantong jubahnya.

Mufasa berhenti.

Alisnya langsung berkerut.

Communication stone miliknya menyala.

Bukan panggilan biasa.

Cahayanya berdenyut perlahan.

Mufasa melirik ke depan.

Raizen masih bersama Fiona.

Fiona sedang mengatakan sesuatu sambil tertawa kecil.

Raizen terlihat begitu tenang.

Mufasa menatap mereka beberapa detik.

Kemudian berbalik.

Ia berjalan menuju sudut lorong terdekat.

Setelah memastikan jaraknya cukup jauh—

Mufasa mengaktifkan communication stone.

"Apa yang terjadi?"

Suara dari sisi lain terdengar cepat.

"Sir."

Nada suara penjaga terdengar tegang.

Mufasa langsung berdiri lebih tegak.

"Ada apa?"

"Mereka datang lagi."

Mufasa menutup mata sebentar.

Ia sudah tahu siapa yang dimaksud.

Veyth.

Lagi.

Mufasa mengusap dahinya.

"Baik."

Ia menarik napas.

"Mainkan permainan yang sama."

Suara penjaga terdengar ragu.

"Sir..."

"Hm?"

"Mereka berbeda kali ini."

Mufasa membuka mata.

"Apa maksudmu?"

"Mereka tidak mengikuti jalur lama."

Mufasa mengerutkan kening.

"Terus?"

"Mereka menggunakan jalur baru."

Mufasa terdiam.

Penjaga melanjutkan.

"Mereka sudah berhasil membaca beberapa perubahan ruang."

Mufasa melihat ke arah jendela.

"...Berapa jauh mereka sudah masuk?"

"Lebih jauh daripada sebelumnya."

Mufasa mengusap dahinya lagi.

Tentu saja.

Mereka benar-benar belajar.

Namun sebelum ia bisa menjawab—

penjaga berkata lagi.

"Sir..."

"Apa?"

"Mereka sudah merusak beberapa rune pertahanan."

Mufasa membeku.

"...Apa?"

"Beberapa rune di jalur pertama rusak."

Suara penjaga semakin serius.

"Dan satu mekanisme pengubah jalur juga terganggu."

Mufasa tidak langsung menjawab.

Tatapannya perlahan berubah.

"Mereka datang dengan persiapan."

"Ya, sir."

Mufasa menatap lantai.

Beberapa detik lalu...

ia masih berdiri di belakang Raizen dan Fiona sambil berharap menjadi tidak terlihat.

Sekarang—

kepala pertahanan Shadowcresent kembali bekerja.

"Berapa banyak?"

"Enam orang."

Mufasa langsung tahu.

Darrien.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Elyon.

Elarion.

Mereka semua.

Mufasa menarik napas perlahan.

"Jangan menyerang."

Penjaga terdiam.

"Sir?"

"Jangan menyerang mereka secara langsung."

Mufasa menatap lorong tempat Raizen dan Fiona berada.

"Gunakan pertahanan."

Ia berhenti.

"Biarkan mereka masuk lebih jauh."

Suara penjaga terdengar ragu.

"Seberapa jauh?"

Mufasa menutup communication stone sebentar.

Ia berpikir.

Kemudian kembali mengaktifkannya.

"Sejauh yang diperlukan."

Ia menatap ke arah jendela.

"Dan jangan biarkan mereka mencapai istana tanpa aku tahu."

"Dimengerti."

"Juga..."

Mufasa terdiam sebentar.

"...ubah pola pertahanan."

"Baik, sir."

"Jangan ulangi pola lama."

"Dimengerti."

Communication stone mulai meredup.

Namun sebelum panggilan benar-benar terputus—

suara penjaga terdengar sekali lagi.

"Sir."

Mufasa menghela napas.

"Apa lagi?"

"Mereka membawa seseorang yang auranya berbeda."

Mufasa berhenti.

"...Siapa?"

Hening beberapa detik.

"Kami belum tahu."

Mufasa mengerutkan kening.

"Jelaskan."

"Pria itu..."

Penjaga terdengar kesulitan memilih kata.

"...magicurenya jauh lebih padat daripada sebelumnya."

Mata Mufasa menyipit.

"Seberapa padat?"

"Berbeda dari kunjungan terakhir."

Mufasa diam.

Sangat diam.

Ia tahu siapa yang mereka bicarakan.

Darrien.

Namun...

apa yang berubah dalam dirinya?

Mufasa menatap tangannya sendiri.

Kemudian menoleh ke arah Raizen.

Rajanya masih berdiri bersama Fiona.

Fiona tertawa kecil.

Raizen tersenyum.

Tidak ada tanda bahwa keduanya mengetahui apa yang sedang terjadi.

Mufasa menghela napas.

"...Jangan panik."

Ia berkata kepada penjaga.

"Teruskan pertahanan."

"Baik."

"Dan kalau mereka berhasil melewati satu lapisan..."

Mufasa menatap lorong panjang di depannya.

"...beri aku laporan segera."

"Dimengerti."

Communication stone mati.

Mufasa memasukkannya kembali ke jubah.

Ia berdiri sendirian selama beberapa detik.

Kemudian mengusap wajah.

"Bagus..."

Ia bergumam.

"Mereka datang lagi."

Tatapannya beralih kepada Raizen dan Fiona.

Fiona sedang mencoba mengatakan sesuatu kepada Raizen.

Raizen tertawa kecil.

Mufasa menatap mereka.

"...Dan Yang Mulia bahkan belum tahu."

Ia menghela napas panjang.

"Kenapa selalu aku?"

Mufasa berbalik.

Langkahnya menjadi lebih cepat.

Ia harus kembali ke area pertahanan.

Namun baru beberapa langkah—

ia berhenti.

Sebuah getaran tipis terasa dari lantai.

Sangat halus.

Hampir tidak terasa.

Mufasa menunduk.

Matanya menyipit.

Salah satu rune di bawah lantai...

berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian padam.

Mufasa membeku.

"...Mereka sudah sampai sejauh itu?"

Ia segera bergerak.

Kali ini tanpa bercanda.

Tanpa mengeluh.

Tanpa menghela napas.

Karena untuk pertama kalinya sejak Veyth kembali—

pertahanan Shadowcresent tidak lagi terasa seperti permainan.

Mereka benar-benar sedang ditembus.

Dan jauh di dalam pegunungan...

Darrien terus melangkah maju.

Magicure barunya bergerak tenang di dalam tubuhnya.

Ia tidak tahu bahwa beberapa kilometer di depan—

Shadowcresent telah mulai menutup pintunya.

Dan kali ini...

gunung itu tidak akan membiarkan mereka lewat dengan mudah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience