Completed
594
BAB 497 — MATA YANG TIDAK BISA DILUPAKAN
Fiona masih berdiri di tempatnya.
Di balik penghalang transparan milik Raizen, ia bisa melihat seluruh medan pertempuran.
Suara benturan terdengar dari berbagai arah.
Pedang beradu.
Sihir meledak.
Tanah bergetar.
Ace bahkan masih terdengar berteriak sesuatu yang tidak jelas dari kejauhan.
Namun semua suara itu terasa seperti berada jauh di belakang Fiona.
Perhatiannya hanya tertuju pada satu tempat.
Darrien.
Ia tidak tahu kenapa.
Ia tidak tahu sejak kapan.
Tetapi setiap kali pria itu bergerak, dadanya terasa aneh.
Bukan sakit.
Bukan takut.
Lebih seperti...
sebuah bagian dari dirinya sedang mencoba mengetuk dari balik pintu yang terkunci.
Fiona perlahan menyentuh dadanya.
“Kenapa...?”
Tidak ada jawaban.
Hanya perasaan asing yang terasa begitu akrab.
Kemudian Darrien menoleh.
Mata mereka bertemu.
Fiona membeku.
Mata pria itu.
Entah mengapa, bagian itu selalu membuat dadanya terasa paling berat.
Bukan karena warna matanya.
Bukan karena tatapannya terlihat mengancam.
Justru sebaliknya.
Ketika Darrien melihatnya...
tatapan itu berubah.
Seolah seluruh medan perang menghilang.
Seolah tidak ada pasukan.
Tidak ada Raizen.
Tidak ada darah.
Tidak ada kerajaan.
Hanya dirinya.
Fiona.
Fiona menelan ludah.
“Kenapa kau melihatku seperti itu...?”
Suara kecil itu bahkan hampir tidak terdengar.
Namun kali ini, ia tidak memaksa dirinya untuk berpaling.
Tidak seperti sebelumnya.
Ia tidak mencoba mengusir perasaan itu.
Ia hanya...
membiarkannya datang.
Dan ketika ia melakukannya—
kepalanya tiba-tiba terasa sedikit berdenyut.
“Ah...”
Fiona menutup mata.
Sebuah bayangan muncul.
Sebuah danau.
Malam.
Angin dingin.
Seseorang berdiri di belakangnya.
Lalu sebuah tangan menutup matanya dari belakang.
Suara seorang pria terdengar lembut.
“Jangan lihat dulu.”
Fiona membuka matanya.
Napasnya sedikit memburu.
Tangannya masih berada di dadanya.
“...Mimpi itu lagi.”
Ia terdiam.
Biasanya, ia akan mencoba mengusirnya.
Namun kali ini tidak.
Karena semakin ia mencoba menahannya...
semakin sakit rasanya.
Fiona mengingat rasa sakit itu.
Ia tidak menyukainya.
Jadi kali ini...
ia memilih cara yang berbeda.
Ia menarik napas perlahan.
“Kalau ini memang ingatanku...”
Matanya kembali menatap Darrien.
“...aku akan melihatnya.”
Di dalam ruang kesadarannya yang tersegel—
dua elf kecil berdiri di depan kristal.
Retakan yang sebelumnya hanya kecil kini semakin panjang.
Krek...
Salah satu elf kecil memegang kedua tangannya di depan kristal.
“Dia tidak menolaknya lagi.”
Elf yang lain mengangguk.
“Biarkan.”
“Kalau begitu... kristalnya akan terus terbuka.”
“Memang itu yang seharusnya terjadi.”
Kristal kembali bergetar.
Krek.
Namun tidak pecah.
Belum.
Karena ingatan Fiona tidak sedang kembali sekaligus.
Ia hanya...
membuka pintu sedikit demi sedikit.
***
Di tengah medan pertempuran.
CLANG!
Pedang Darrien dan pedang Raizen kembali bertabrakan.
Percikan sihir meledak di antara keduanya.
Keduanya langsung mundur.
Hanya beberapa meter.
Darrien menarik napas berat.
Tangannya terasa kebas.
Pedangnya bergetar akibat benturan tadi.
Di seberangnya—
Raizen masih berdiri tegak.
Namun ekspresinya telah berubah.
Tidak lagi tenang.
Tatapan crimson-nya semakin dingin.
“Aku sudah memperingatkanmu.”
Darrien mengangkat pedangnya.
“Dan aku sudah memberitahumu.”
Ia mengatur napas.
“Aku akan membawa Fiona pulang.”
DUARRR!
Raizen menghilang.
Darrien langsung mengangkat pedangnya.
CLANG!
Pedang Raizen menghantam dari samping.
Darrien menahan.
Tanah di bawah kakinya langsung retak.
“Ugh!”
Darrien memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang dari bawah.
Raizen melompat.
Dalam waktu yang sama, tangan kirinya mengarah ke bawah.
Lingkaran sihir merah tua muncul.
BOOM!
Ledakan menghantam tanah.
Darrien melompat menjauh.
Namun Raizen sudah berada di belakangnya.
Darrien berbalik.
Terlambat.
Pedang Raizen hampir mengenai bahunya.
Darrien memutar pedangnya.
CLANG!
Kedua pedang kembali bertemu.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa puluh sentimeter.
Raizen menatapnya tanpa berkedip.
“Berhenti.”
Darrien mengeraskan rahangnya.
“Tidak.”
“Dia milikku.”
Darrien mendorong pedang Raizen menjauh.
“Dia bukan benda.”
Mata Raizen menyipit.
“Dan kau pikir kau lebih pantas mendapatkannya?”
Darrien tidak menjawab.
Ia langsung menyerang.
Pedangnya bergerak cepat.
Satu tebasan.
Dua.
Tiga.
Raizen menangkis semuanya.
Namun kali ini Darrien tidak hanya menggunakan pedang.
WHOOOM!
Magicure hitam pekat mengalir dari tubuhnya menuju pedang.
Bilah pedangnya berubah semakin gelap.
Raizen langsung menyadarinya.
“Begitu rupanya.”
Darrien menerjang.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Pedang mereka bergerak begitu cepat hingga suara benturannya hampir terdengar seperti satu rangkaian panjang.
Raizen memutar pedangnya.
Darrien menangkis.
Raizen menendang.
Darrien menghindar.
Keduanya langsung menggunakan sihir pada saat bersamaan.
BOOM!
Gelombang energi menghantam mereka dari tengah.
Darrien terdorong beberapa meter.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah untuk menghentikan tubuhnya.
Napasnya berat.
“Haah...”
Ia mengusap sedikit darah di sudut bibirnya.
Lalu tersenyum tipis.
“Lumayan.”
Raizen memandangnya.
“Masih bisa tersenyum?”
“Kalau tidak tersenyum...”
Darrien mengangkat kembali pedangnya.
“...aku mungkin sudah menyerah.”
Raizen menghilang.
Darrien langsung memperkuat tubuhnya dengan magicure.
BOOM!
Serangan Raizen menghantam penghalang tubuhnya.
Darrien terdorong.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Namun ia tetap berdiri.
Raizen kembali menyerang.
Kali ini lebih cepat.
Pedangnya menyapu dari kanan.
Darrien menunduk.
Serangan kedua datang dari kiri.
Darrien mengangkat pedang.
CLANG!
Lalu Raizen menggunakan tangan kirinya.
Lingkaran sihir muncul tepat di depan dada Darrien.
Mata Darrien membesar.
“...Sial!”
DUARRR!
Tubuhnya terlempar.
Ia menghantam tanah dan berguling beberapa kali.
Namun sebelum sempat berdiri—
Raizen sudah berada di atasnya.
Pedang turun.
Darrien mengangkat pedangnya.
CLANG!
Tanah di bawah punggungnya retak.
Raizen menekan semakin kuat.
“Dia tidak akan mengingatmu.”
Darrien mengeraskan giginya.
“Aku tidak peduli.”
“Dia bahagia bersamaku.”
“Aku tahu.”
“Dia memilihku.”
Darrien menatap mata crimson itu.
“Tidak.”
Raizen berhenti sepersekian detik.
Darrien mendorong pedangnya.
“Dia memilihmu karena dia tidak mengingatku.”
Magicure Darrien meledak.
BOOOOM!
Raizen terdorong mundur.
Darrien bangkit.
Namun lututnya sedikit goyah.
Ia mengatur napas.
“Dan aku akan membuatnya mengingat.”
Raizen berdiri kembali.
Tatapannya benar-benar berubah.
Untuk pertama kalinya—
amarahnya terlihat jelas.
“Kalau begitu...”
Aura Raizen meledak.
WHOOOOOM!
Seluruh medan perang seperti membeku sesaat.
Bahkan beberapa vampire guards menoleh.
Darrien menatap Raizen.
Jantungnya berdetak keras.
Bukan karena takut.
Ia tahu sekarang.
Raizen tidak lagi bertarung untuk menguji kekuatannya.
Ia bertarung karena satu kalimat tadi.
Aku akan membuatnya mengingat.
Dan bagi Raizen—
itu adalah ancaman terbesar yang mungkin diberikan seseorang.
Raizen menggenggam pedangnya lebih erat.
“Jangan pernah berpikir kau akan mengambilnya dariku.”
Darrien mengangkat pedangnya sekali lagi.
“Kalau begitu...”
Ia menarik napas dalam.
“...hentikan aku.”
Raizen menghilang.
Darrien ikut bergerak.
CLANG!
BOOM!
CLANG!
DUARRR!
Pedang dan sihir kembali bertabrakan.
Kali ini—
tidak ada yang menahan diri.
***
Fiona berdiri diam di balik penghalang.
Ia melihat semuanya.
Namun anehnya...
ia tidak merasa takut ketika melihat Darrien.
Justru matanya mengikuti setiap gerakannya.
Dan ketika Darrien terluka—
dadanya ikut terasa sakit.
Fiona menyentuh dadanya lagi.
“Kenapa aku...”
Ia menatap pria itu.
“...peduli?”
Jawabannya tidak datang.
Namun dari tempat yang sangat jauh di dalam dirinya—
sebuah suara kecil seolah menjawab.
Karena kau pernah mencintainya.
Fiona memejamkan mata.
Air mata kecil jatuh tanpa ia sadari.
Ia tidak tahu kenapa.
Ia tidak tahu dari mana perasaan itu berasal.
Tetapi kali ini...
ia tidak menghapus air mata tersebut.
Ia membiarkannya jatuh.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak takut pada kenangan yang datang.
***
Kembali ke medan utama.
BOOOOM!
Darrien terlempar sekali lagi.
Tubuhnya menghantam tanah.
Debu memenuhi udara.
Ia mencoba bangkit.
Tangannya menekan tanah.
“...Ugh.”
Ia berhasil berdiri setengah.
Namun kakinya bergetar.
Darrien menarik napas.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Pedangnya masih berada di tangannya.
Namun tubuhnya sudah mulai kehabisan tenaga.
Di depannya—
Raizen berdiri.
Napasnya juga tidak sepenuhnya tenang.
Jubahnya sedikit robek.
Beberapa goresan terlihat di tubuhnya.
Namun auranya masih mengintimidasi.
Raizen menatap Darrien.
“Masih ingin membawa Fiona?”
Darrien mengangkat wajah.
Matanya masih keras.
Meski tubuhnya hampir tidak mampu berdiri.
“...Ya.”
Raizen mengangkat pedangnya.
Darrien mencoba mengangkat pedangnya juga.
Tetapi tangannya gemetar.
Ia hampir jatuh.
Namun tetap memaksa tubuhnya berdiri.
Karena di belakangnya—
Fiona masih ada.
Dan untuk saat ini...
itu sudah cukup untuk membuatnya tetap berdiri.
Raizen menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
ia menggenggam pedangnya lebih erat.
Darrien mengatur napas sekali lagi.
Pertarungan mereka...
belum selesai.
Share this novel