Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 347 — ANGIN YANG TERASA FAMILIAR
POV DARRIEN
Setelah pembicaraan di ruang kerajaan selesai—
Darrien akhirnya kembali ke kamarnya.
Tubuhnya terasa benar-benar lelah.
Bukan hanya karena pembicaraan panjang.
Latihan bersama Kevin sejak pagi juga sudah menguras hampir seluruh tenaganya.
Begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur—
Darrien bahkan tidak sempat berpikir panjang.
Matanya langsung tertutup.
Untuk pertama kalinya hari itu—
ia membiarkan dirinya benar-benar beristirahat.
***
Waktu berlalu.
Namun di dalam tidurnya—
Darrien mulai merasakan sesuatu.
Awalnya hanya sebuah suara.
Suara angin.
Lembut.
Tenang.
Kemudian—
ia merasakan sesuatu menyentuh kulitnya.
Angin.
Darrien perlahan membuka mata.
Namun tempat yang ia lihat bukan lagi kamarnya.
Ia berdiri.
Sendirian.
Di sebuah tempat yang tidak dikenalnya.
Darrien mengerutkan kening.
“Di mana aku…?”
Ia melihat sekeliling.
Tidak ada dinding.
Tidak ada istana.
Tidak ada area latihan.
Hanya sebuah wilayah yang dipenuhi pepohonan dan cahaya lembut.
Udara terasa berbeda.
Sangat berbeda.
Darrien menarik napas.
Dan seketika—
matanya sedikit membesar.
“Magicure…”
Udara di tempat itu dipenuhi magicure.
Bukan sekadar banyak.
Namun begitu murni—
hingga setiap tarikan napas terasa seperti mengisi tubuhnya dengan energi.
Darrien perlahan mengangkat tangannya.
Sihir di dalam tubuhnya bergerak sendiri.
Ia bisa merasakan aliran magicure di sekelilingnya.
Tidak liar.
Tidak kacau.
Semuanya terasa seimbang.
Bahkan angin yang melewati tubuhnya terasa sangat bersih.
Darrien memejamkan mata.
Ia membiarkan angin itu menyentuh wajahnya.
Aneh.
Entah kenapa—
ia merasa pernah merasakan tempat seperti ini.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Tetapi…
sangat lama.
Sebuah perasaan samar muncul di dalam pikirannya.
**Familiar.**
Darrien membuka mata.
“Kenapa aku merasa pernah berada di sini?”
Ia mulai berjalan.
Langkahnya terasa ringan.
Tidak ada rasa sakit dari latihan Kevin.
Tidak ada kelelahan.
Tubuhnya terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih kuat.
Lebih…
akrab.
Darrien berhenti.
Di kejauhan—
ia melihat seseorang.
Seorang wanita.
Rambutnya bergerak perlahan tertiup angin.
Ia berdiri membelakanginya.
Darrien menyipitkan mata.
Siluet itu…
terlalu familiar.
“Siapa…?”
Wanita itu tidak menjawab.
Darrien berjalan mendekat.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Semakin dekat—
semakin jelas sosok itu.
Dan akhirnya—
Darrien berhenti.
“Fiona?”
Wanita itu perlahan menoleh.
Benar.
Fiona.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Bukan pakaian.
Bukan wajahnya.
Melainkan ekspresinya.
Ia terlihat jauh lebih tenang.
Seolah-olah telah menunggu seseorang.
Fiona menatap Darrien.
Kemudian tersenyum kecil.
“Kau akhirnya datang.”
Darrien membeku.
“Apa?”
Fiona tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Darrien kembali melihat sekeliling.
Magicure yang memenuhi tempat itu.
Angin yang begitu murni.
Pepohonan.
Dan perasaan aneh yang semakin kuat di dalam dadanya.
“Tempat ini…”
Ia menatap Fiona.
“Kenapa terasa begitu familiar?”
Fiona hanya tersenyum.
Namun sebelum Darrien sempat bertanya lagi—
angin tiba-tiba bergerak lebih kuat.
Daun-daun beterbangan.
Magicure di udara berputar.
Darrien mengangkat tangan untuk melindungi matanya.
Kemudian—
sebuah suara samar terdengar di kepalanya.
Suara yang bukan miliknya.
Suara dari masa yang sangat jauh.
**“Darrien…”**
Ia membeku.
Matanya melebar.
Sebuah gambaran singkat muncul.
Sebuah istana.
Cahaya.
Bayangan.
Seorang wanita.
Dan dirinya sendiri—
jauh lebih muda.
Tidak.
Bukan dirinya yang sekarang.
Seseorang yang jauh lebih tua.
Seseorang yang mengenakan pakaian seorang Grandmaster.
Darrien memegang kepalanya.
“Ah…”
Sakit.
Tidak terlalu kuat.
Namun cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan.
Fiona langsung bergerak mendekat.
“Darrien.”
Ia memegang lengannya.
Darrien menatapnya.
Dan untuk sesaat—
mata mereka bertemu.
Ada sesuatu di dalam tatapan itu.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Seperti—
sebuah kehidupan lama yang mencoba mengetuk pintu ingatannya.
Darrien berbisik,
“Fiona…”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
Darrien menelan ludah.
“Aku…”
Ia melihat sekeliling lagi.
“…aku pernah berada di sini, bukan?”
Fiona terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang.
Untuk beberapa detik—
ia tidak menjawab.
Kemudian angin kembali bertiup.
Magicure berkilauan di sekitar mereka.
Dan Fiona akhirnya berkata sangat pelan,
“Ya.”
Darrien membeku.
“Kapan?”
Fiona menatapnya.
“Sudah sangat lama.”
Darrien ingin bertanya lebih banyak.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut—
semuanya mulai memudar.
Pepohonan.
Angin.
Magicure.
Fiona.
Semuanya berubah menjadi cahaya.
“Fiona!”
Darrien mencoba meraihnya.
Namun tangannya hanya menyentuh udara.
Kemudian—
semuanya menjadi gelap.
***
Darrien membuka mata.
Ia kembali berada di kamarnya.
Napasnya sedikit berat.
Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia menatap langit-langit.
Beberapa detik ia hanya diam.
Kemudian—
ia duduk perlahan.
Tangannya menyentuh dadanya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Mimpi?
Darrien menatap tangannya sendiri.
Namun perasaan itu terlalu nyata.
Magicure.
Angin.
Tempat itu.
Dan suara Fiona.
Ia menutup matanya.
“Aku pernah berada di sana…”
Namun yang paling membuatnya bingung—
bukan tempat itu.
Melainkan satu hal yang baru saja dikatakan Fiona.
**“Sudah sangat lama.”**
Darrien membuka mata.
Untuk pertama kalinya—
ia mulai bertanya-tanya.
Apakah semua yang ia lihat selama ini benar-benar hanya kenangan Fiona?
Atau—
sebagian dari masa lalunya sendiri mulai kembali mengetuk pikirannya?
Jauh di luar kamar—
angin Lunaris bergerak perlahan.
Dan tanpa Darrien sadari—
sebuah Silver Leaf kecil muncul sesaat di udara.
Kemudian menghilang.
