177. Panggilan Darurat

Romance Series 382

BAB 177
PANGGILAN DARURAT

Kevin berlari tanpa berhenti.

Ia tidak peduli pada napasnya yang mulai berat.

Tidak peduli pada jalan yang harus ditempuh.

Yang ada di pikirannya hanya satu.

Darrien.

Ia harus membawa bantuan.

Secepat mungkin.

***

Gerbang Kerajaan Veyth akhirnya terlihat.

Kevin tidak memperlambat langkah.

Para penjaga yang melihatnya langsung terkejut ketika ia berlari melewati gerbang.

“Tunggu—!”

Kevin tidak berhenti.

“Aku perlu bertemu Raja dan Ratu!”

Nada suaranya membuat para penjaga langsung menyadari bahwa sesuatu yang serius telah terjadi.

Tidak lama kemudian—

Kevin sudah berada di hadapan King Edward Veyth dan Queen Gloria Veyth.

Edward langsung berdiri.

“Kevin?”

Kevin berlutut sebentar, berusaha mengatur napas.

“Yang Mulia…”

“Ada penghalang.”

Edward mengerutkan kening.

“Penghalang?”

“Di lembah.”

Kevin menarik napas.

“Darrien dan yang lainnya terjebak di dalam.”

Gloria langsung berdiri.

“Darrien?”

Kevin mengangguk.

“Mereka diserang.”

Wajah Gloria berubah.

“Siapa?”

“Vampire.”

Edward menatap Kevin tajam.

“Seberapa kuat?”

Kevin menjawab tanpa ragu.

“Sangat kuat.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Penghalangnya bahkan tidak bisa kupecahkan.”

Edward terdiam.

Kevin melanjutkan.

“Aku sudah mencoba.”

Gloria menatap suaminya.

Edward segera memahami maksudnya.

“Berarti penghalang itu…”

“Berada di atas tingkat sihir kita.”

Ruangan menjadi sunyi.

Gloria langsung berjalan mendekat.

“Darrien masih di dalam?”

“Ya.”

“Bagaimana keadaannya?”

Kevin terdiam sesaat.

“Kami tidak tahu.”

Jawaban itu membuat wajah Gloria semakin pucat.

Edward segera mengambil keputusan.

“Siapkan pasukan.”

Para penjaga langsung bergerak.

“Kita berangkat sekarang.”

Gloria menatap Edward.

“Aku ikut.”

Edward mengangguk.

“Tentu.”

Ia menatap para penjaga.

“Jangan buang waktu.”

***

Tidak lama kemudian—

rombongan kerajaan meninggalkan istana.

Edward berada di depan.

Gloria bersamanya.

Kevin memimpin jalan.

Para penjaga mengikuti di belakang.

Mereka bergerak secepat mungkin menuju lembah.

Gloria tidak mengatakan banyak hal.

Namun pikirannya hanya tertuju pada satu nama.

Darrien.

Putranya.

Setelah bertahun-tahun—

mereka baru saja mendapatkan harapan bahwa anak itu mungkin masih hidup.

Dan sekarang—

ia berada di dalam penghalang yang bahkan kerajaan mereka sendiri tidak mampu pecahkan.

Gloria menggenggam tangannya sendiri.

“Bertahanlah…”

Ia berbisik.

“Anakku…”

Edward mendengarnya.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun langkahnya semakin cepat.

***

Di kejauhan—

lembah akhirnya terlihat.

Namun sebelum mereka sampai—

Edward berhenti.

Gloria juga berhenti.

Para penjaga di belakang mereka ikut terdiam.

Udara terasa berbeda.

Terlalu sunyi.

Tidak ada suara pertempuran.

Tidak ada ledakan sihir.

Tidak ada suara makhluk magis.

Bahkan angin pun terasa seperti berhenti.

Kevin menatap lembah.

“Ada sesuatu yang salah.”

Edward mengangguk perlahan.

“Ya.”

Gloria merasakan sesuatu di dadanya.

Sebuah tekanan lembut.

Namun sangat dalam.

Bukan tekanan seperti sihir vampire.

Bukan Dark Magic.

Sesuatu yang lain.

Sesuatu yang terasa…

murni.

Kevin menoleh.

“Yang Mulia…”

Sebuah cahaya muncul dari dalam lembah.

Awalnya hanya samar.

Kemudian—

semakin terang.

Putih.

Murni.

Begitu murni hingga seluruh lembah perlahan diselimuti cahaya.

Edward membeku.

Gloria menatapnya tanpa berkedip.

“Apa…”

Suaranya bergetar.

Cahaya itu terus meningkat.

Dan dari dalamnya—

terasa sebuah kekuatan Light Magic yang sangat tua.

Jauh lebih tua daripada sihir yang mereka kenal.

Jauh lebih dalam daripada sihir biasa.

Gloria menahan napas.

“Ini…”

Edward tidak menjawab.

Ia hanya menatap cahaya tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

bahkan seorang Raja Dark Elf tidak dapat langsung memahami apa yang sedang berdiri di hadapan mereka.

Dan kemudian—

cahaya itu semakin terang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience