Series
382
BAB 195
HARI LIBUR YANG BERAKHIR
Setelah makan siang selesai—
suasana di istana kembali tenang.
Edward dan Gloria masih memiliki beberapa urusan kerajaan.
Elarion memilih tetap berada di sekitar Darrien dan Fiona.
Sementara itu—
Kevin, Rowan, dan Ace yang sedang menikmati waktu istirahat mereka akhirnya menerima sebuah pesan dari istana.
Kevin membuka pesan tersebut.
Matanya bergerak membaca isinya.
Kemudian—
ia terdiam.
Rowan memperhatikannya.
“Ada apa?”
Kevin perlahan menurunkan tangannya.
“Liburanku berakhir.”
Ace langsung tertawa.
“Bukankah baru dimulai kemarin?”
Kevin menatapnya datar.
“Ya.”
Ia menghela napas panjang.
“Dan besok aku harus mulai melatih Darrien lagi.”
Rowan tertawa.
“Kasihan kau.”
Kevin menatapnya.
“Bukan aku yang kasihan.”
Ace mengangkat alis.
“Lalu siapa?”
Kevin tersenyum tipis.
“Darrien.”
Keduanya langsung tertawa.
Kevin memang sudah lama menjadi salah satu instruktur tempur terkuat di kerajaan Veyth.
Selama bertahun-tahun—
ia melatih para penjaga kerajaan.
Dan Darrien juga sudah berada di bawah latihannya selama bertahun-tahun.
Kevin mengenal gaya bertarung Darrien.
Ia tahu kebiasaan Darrien.
Ia tahu kapan Darrien mulai kehilangan kendali.
Dan ia juga tahu kapan Darrien mulai memaksakan dirinya terlalu jauh.
Namun kali ini—
ada sesuatu yang berbeda.
Darrien telah mendapatkan kembali sebagian besar kekuatan yang selama ini tersegel di dalam dirinya.
Dan Kevin belum pernah melatih Darrien dengan kekuatan tersebut.
Kevin membaca pesan itu sekali lagi.
Ia juga sudah mendengar tentang pertempuran yang terjadi di lembah.
Ia tidak tahu siapa musuh yang mereka hadapi.
Ia juga tidak berada di sana untuk melihat pertarungannya sendiri.
Namun ia tahu satu hal—
Darrien terluka cukup parah.
Dan setelah kejadian tersebut—
Edward memutuskan bahwa latihan Darrien harus kembali dilakukan dengan lebih serius.
Kevin tersenyum tipis.
“Kalau begitu…”
Ia melipat pesan tersebut.
“…besok kita mulai dari dasar.”
Rowan langsung tertawa.
“Dasar?”
Ace menatap Kevin.
“Dengan kekuatan Darrien sekarang?”
Kevin mengangguk.
“Justru karena kekuatannya sekarang berbeda.”
“Dia perlu belajar mengendalikannya.”
Rowan menggeleng sambil tertawa.
“Kasihan Darrien.”
Kevin hanya tersenyum.
“Latihan adalah latihan.”
Namun senyum di wajahnya terlihat sedikit berbeda.
Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam pikirannya.
Bukan kebencian.
Bukan kemarahan.
Melainkan—
sedikit rasa puas karena akhirnya bisa kembali melakukan pekerjaan yang sudah lama ia lakukan.
Dan mungkin…
sedikit balas dendam karena liburannya hanya berlangsung satu hari.
“Bagus.”
Kevin berdiri.
“Liburanku selesai.”
Ia menatap kedua rekannya.
“Besok adalah bencana.”
Rowan dan Ace kembali tertawa.
***
Sementara itu—
Darrien sama sekali tidak tahu apa yang sedang menunggunya.
Ia masih berada bersama Fiona dan Elarion.
Pikirannya sesekali kembali kepada latihan besok.
“Kevin sudah melatihku selama bertahun-tahun.”
Darrien menghela napas.
“Dia pasti masih sama.”
Elarion tertawa kecil.
“Dia bahkan mungkin lebih buruk.”
Darrien langsung menatapnya.
“Kau pernah melihat latihannya.”
“Ya.”
“Dan?”
Elarion menghela napas.
“Monster.”
Darrien menutup matanya sebentar.
“Benar.”
Fiona yang mendengar percakapan mereka justru tersenyum.
“Kalian terlalu berlebihan.”
Darrien menoleh.
“Kau belum pernah mengikuti latihan Kevin.”
Fiona tertawa kecil.
“Kalau begitu aku akan memberimu semangat.”
Darrien menghela napas.
“Itu tidak akan membantu.”
Fiona kemudian menepuk bahu Darrien.
“Tenang saja.”
Darrien menatapnya.
“Aku akan berusaha.”
Fiona tersenyum.
“Bagus.”
Namun saat tangan Fiona bergerak—
Elarion tiba-tiba memperhatikan sesuatu.
Tatapannya berhenti pada pergelangan tangan Fiona.
“Fiona.”
Fiona menoleh.
“Hm?”
“Sejak kapan kau memakai gelang itu?”
Fiona melihat pergelangan tangannya.
“Oh.”
Ia baru menyadarinya kembali.
Gelang tipis itu masih berada di sana.
Dengan sebuah simbol kecil berbentuk daun perak di bagian tengahnya.
“Aku mendapatkannya dari mimpiku.”
Elarion mengerutkan kening.
“Dari mimpimu?”
Fiona mengangguk.
“Awalnya benda itu adalah sebuah mahkota.”
“Mahkota?”
“Ya.”
Fiona menunjukkan gelang tersebut.
“Mahkotanya terlalu besar.”
“Jadi aku bilang akan lebih bagus kalau dibuat menjadi gelang.”
Elarion menatapnya.
“Dan kemudian berubah?”
“Ya.”
Fiona mengangguk.
“Cahayanya sangat terang.”
“Setelah itu aku terbangun.”
Ia menatap gelang tersebut.
“Awalnya aku mengira semuanya hanya mimpi.”
Elarion tidak langsung menjawab.
Ia mengamati gelang itu dari kejauhan.
Simbol daun perak kecil di tengahnya menarik perhatiannya.
Namun ia tidak menyentuhnya.
“Jangan lepaskan dulu.”
Fiona mengangkat alis.
“Kenapa?”
Elarion menjawab dengan tenang,
“Karena benda yang bisa mengikuti seseorang keluar dari mimpi bukanlah benda biasa.”
Fiona melihat gelang itu.
Kemudian tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku akan menjaganya.”
Darrien ikut melihat gelang tersebut.
Ia memperhatikannya beberapa saat.
Namun ia tidak mencoba mencari tahu lebih jauh.
Jika benda itu muncul bersama Fiona—
mungkin memang ada alasannya.
“Yang penting, jangan sampai hilang.”
Fiona mengangguk.
“Aku akan menjaganya.”
Darrien tersenyum kecil.
Untuk saat ini—
itu sudah cukup.
Ia tidak perlu memahami semuanya sekarang.
Yang lebih penting baginya adalah memastikan Fiona tetap aman.
Dan mulai besok—
ia harus kembali berlatih.
Terutama karena orang yang akan melatihnya adalah Kevin.
Darrien menghela napas.
“Besok akan melelahkan.”
Fiona tertawa kecil.
“Semoga beruntung, Pangeran.”
Darrien langsung menatapnya.
“Jangan panggil aku begitu.”
Fiona tersenyum nakal.
“Baiklah.”
Ia berhenti sebentar.
“Pangeran.”
Darrien menghela napas panjang.
Elarion tertawa.
Hari yang tenang di Istana Veyth akhirnya berakhir.
Namun bagi Darrien—
hari berikutnya akan membawa sesuatu yang berbeda.
Latihan bersama Kevin.
Dan kali ini—
ia tidak lagi berlatih dengan kekuatan yang sama seperti dulu.
Share this novel