493. Tamu Di Ujung Pintu

Romance Completed 594

BAB 493 — TAMU DI UJUNG PINTU

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Pemandangan di hadapan mereka masih terlalu jelas untuk diabaikan.

Fiona berdiri sangat dekat dengan Raizen.

Wajahnya masih merah karena kejadian beberapa saat sebelumnya.

Begitu menyadari bahwa seluruh anggota Veyth melihat mereka, Fiona akhirnya bergerak mundur setengah langkah.

Namun sebelum ia benar-benar menjauh—

Raizen menariknya ke dalam pelukannya.

Fiona terkejut.

"Raizen..."

Raizen tidak menjawab.

Lengannya justru melingkar lebih erat di tubuh Fiona.

Ia menatap keenam orang yang masih berdiri di ambang pintu.

Tatapan crimson-nya perlahan menjadi semakin dingin.

Mereka.

Lagi.

Setelah berhari-hari mengganggu ketenangannya di pegunungan...

sekarang mereka bahkan datang tepat pada saat ia hampir mencium Fiona.

Raizen benar-benar mulai membenci kedatangan mereka.

Fiona, yang masih malu, akhirnya menyembunyikan wajahnya di dada Raizen.

Ia tidak tahu harus melihat ke mana.

Raizen menundukkan kepalanya sedikit.

Tangannya tetap berada di punggung Fiona.

Seolah sengaja menunjukkan bahwa wanita itu berada dalam perlindungannya.

Di sisi lain pintu—

Mufasa berdiri dengan tenang.

Ia memejamkan kedua matanya.

Tidak melihat.

Tidak mendengar.

Tidak peduli.

Setidaknya itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri.

*Tidak ada apa-apa di sini.*

*Tidak ada yang berhubungan denganku.*

*Aku hanya membuka pintu.*

Selesai.

Ace masih berdiri kaku.

Tatapannya bergerak ke kiri.

Ke kanan.

Ke lantai.

Ke langit-langit.

Ke mana pun—

asal bukan ke arah Raizen dan Fiona.

Kevin melakukan hal yang sama.

Elarion menghela napas panjang.

Elyon menahan senyum tipis.

Rowan terlihat seperti ingin menghilang ke balik dinding.

Dan Darrien—

masih menatap Fiona.

Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Wanita itu.

Benar-benar Fiona.

Wajahnya.

Rambutnya.

Suaranya.

Tatapan matanya.

Semuanya masih sama.

Namun—

ia berdiri di dalam pelukan pria lain.

Jari-jari Darrien yang sejak tadi mengepal perlahan mengendur.

Satu demi satu.

Ia menarik napas panjang.

Mencoba menenangkan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya.

Ia sudah tahu.

Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan ini.

Namun mengetahui sesuatu di dalam kepala...

berbeda dengan melihatnya dengan mata sendiri.

Darrien menelan ludah.

*Tenang.*

*Jangan lakukan apa pun.*

*Belum.*

Ia menurunkan tangannya perlahan.

Raizen memperhatikan gerakan itu.

Tatapan mereka akhirnya bertemu.

Dua pasang mata.

Merah yang berbeda.

Satu membawa dinginnya keabadian.

Satu lagi membawa luka yang telah bertahan terlalu lama.

Tidak ada kata-kata.

Namun keduanya sudah memahami satu hal.

Mereka tidak datang untuk berteman.

Raizen akhirnya memecahkan keheningan.

Ia berbalik sedikit, tetap berdiri di tempatnya sementara Fiona bersembunyi di belakang tubuhnya.

"Jadi..."

Suaranya tenang.

"...kalian akhirnya tiba."

Tidak ada jawaban.

Raizen menatap mereka satu per satu.

"Setelah begitu banyak usaha."

Ia melirik ke arah Darrien.

"Setelah menghancurkan sebagian pertahanan gunungku."

Kemudian tatapannya kembali dingin.

"Setelah menghabiskan begitu banyak waktu mengganggu ketenangan Shadowcresent."

Ace menelan ludah.

Kevin meliriknya.

Ace berbisik.

"Kenapa aku merasa dia sedang menghitung tagihan?"

Kevin menjawab tanpa menoleh.

"Karena mungkin memang begitu."

Raizen mendengar mereka.

Namun ia tidak peduli.

"Dan sekarang..."

Ia berhenti.

"Undangan terakhir akhirnya kalian terima."

Elarion mengangkat alis.

"Undangan?"

Mufasa masih memejamkan mata.

Raizen menjawab tenang.

"Kalian sudah dipersilakan masuk."

Ia mengangkat dagunya sedikit.

"Jadi masuklah."

Veyth akhirnya bergerak.

Mereka melangkahkan kaki melewati ambang pintu.

Namun Darrien berhenti sesaat.

Tatapannya kembali jatuh kepada Fiona.

Fiona perlahan mengangkat wajahnya dari dada Raizen.

Mata mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik—

Fiona membeku.

Ada sesuatu.

Sesuatu yang sangat kecil.

Sangat samar.

Dadanya tiba-tiba terasa aneh.

Tatapan pria di depannya...

entah mengapa terasa begitu familiar.

Fiona mengerutkan kening.

Darrien juga melihat perubahan kecil itu.

Harapan muncul di matanya.

Namun hanya sesaat.

Fiona segera memalingkan wajah.

Tangannya kembali mencengkeram pakaian Raizen.

Darrien membeku.

Harapan itu padam sebelum sempat tumbuh.

Raizen menyadarinya.

Tangannya mengerat di pinggang Fiona.

"Jangan menatapnya terlalu lama."

Suara Raizen rendah.

Fiona menoleh kepadanya.

"Kenapa?"

Raizen tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia hanya menatap Darrien.

"Karena dia bukan siapa-siapa bagimu."

Kalimat itu jatuh seperti pisau.

Darrien terdiam.

Elyon memperhatikan wajahnya.

Kevin mengepalkan tangan.

Ace bahkan tidak berani membuat lelucon.

Darrien akhirnya tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Bukan pula senyum menyerah.

"Aku tidak membutuhkan dia untuk mengingatku sekarang."

Raizen menyipitkan mata.

Darrien melangkah maju.

"Aku hanya perlu memastikan dia baik-baik saja."

Fiona menatap Darrien lagi.

Ada sesuatu dalam suara itu.

Sesuatu yang membuat dadanya kembali terasa sesak.

Namun sebelum ia dapat berkata apa-apa—

Raizen melangkah maju.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Ia berdiri tepat di antara Fiona dan Darrien.

Aura gelap perlahan keluar dari tubuhnya.

Udara di dalam main hall berubah.

Tekanan berat memenuhi ruangan.

Lantai marmer di bawah kaki mereka mulai bergetar halus.

Mufasa membuka satu matanya.

"...Akhirnya."

Ace langsung mundur setengah langkah.

"Ah."

Kevin memasang posisi bertahan.

Elarion mengangkat tangannya.

Elyon menatap Raizen dengan serius.

Rowan mempersiapkan sihirnya.

Darrien tetap berdiri.

Tidak mundur.

Tatapan Raizen menjadi semakin dingin.

"Kalian datang jauh-jauh ke sini."

Aura gelap semakin pekat.

"Dan sekarang..."

Tangannya perlahan terangkat.

Darrien juga mulai mengumpulkan magicure.

Cahaya tipis mulai muncul di sekitar tubuhnya.

Fiona menatap keduanya.

"Raizen..."

Raizen tidak menoleh.

Darrien juga tidak bergerak.

Untuk beberapa detik—

seluruh main hall dipenuhi ketegangan.

Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Mufasa kembali menutup matanya.

*Ini bukan urusanku.*

Raizen menatap Darrien.

Darrien membalas tatapannya.

Dua kekuatan kuno mulai bertemu di udara.

Tidak ada serangan.

Belum.

Namun semua orang di ruangan itu tahu—

satu gerakan kecil saja...

dan seluruh main hall akan berubah menjadi medan perang.

Raizen tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

Darrien mengangkat dagunya.

"...mari kita selesaikan."

Jari Raizen perlahan mengepal.

Magicure Darrien semakin padat.

Dan tepat sebelum salah satu dari mereka bergerak—

Fiona tiba-tiba menggenggam lengan Raizen dari belakang.

Fiona menggenggam lengan Raizen.

Tatapannya masih tertuju pada Darrien.

Entah mengapa...

dadanya terasa sesak.

Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat jantungnya berdebar aneh.

Bukan takut.

Bukan juga marah.

Hanya...

familiar.

Fiona mengerutkan kening.

Namun sebelum ia sempat memahami perasaan itu—

Raizen melangkah maju.

Aura gelapnya meledak.

Darrien mengangkat tangannya.

Dan seluruh main hall bersiap menghadapi benturan pertama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience