314. Monster Yang Akan Tetap Bersama

Romance Series 382

BAB 314 — MONSTER YANG AKAN TETAP BERSAMA

Sore semakin tenang di Crystal Garden Lunaris.

Angin bergerak lembut di antara pepohonan.

Para peri kecil masih beterbangan di sekitar taman, sesekali tertawa dan saling mengejar.

Fiona duduk di samping Darrien.

Untuk beberapa saat—

tidak ada yang berbicara.

Ia hanya menikmati suasana.

Namun pikirannya tidak setenang taman itu.

Ingatan yang baru kembali masih berada di dalam kepalanya.

Saintess.

Darrien.

Kehilangan.

Kesepian.

Ribuan tahun.

Dan sekarang—

Darrien duduk tepat di sampingnya.

Masih sama.

Namun juga berbeda.

Fiona menunduk.

Sebuah pertanyaan tiba-tiba keluar dari bibirnya.

“Darrien…”

“Hmm?”

Fiona terdiam sebentar.

Kemudian berkata,

“Kalau aku menjadi monster…”

Darrien menoleh.

Fiona juga menatapnya.

“…kau masih akan berada di sisiku?”

Hening.

Bahkan suara para peri kecil terasa seperti menghilang sesaat.

Darrien menatap Fiona.

Fiona sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Matanya sedikit membesar.

“…”

Darrien masih diam.

Fiona buru-buru tertawa kecil.

“Aku hanya bercanda.”

Ia memalingkan wajah.

“Jangan dipikirkan.”

Namun Darrien tidak langsung menjawab.

Ia justru memandang Fiona dengan tatapan berbeda.

Pertanyaan itu terdengar seperti lelucon.

Tetapi entah kenapa—

ia merasa Fiona benar-benar ingin mengetahui jawabannya.

Darrien kemudian terdiam cukup lama.

Ia teringat semua yang telah mereka lalui.

Akasia.

Masa kecil mereka.

Hari ketika Maria hampir menjual mereka.

Hari ketika mereka harus melarikan diri dari Akasia.

Hari ketika Fiona dibawa pergi menuju keluarga Ardika.

Lembah tempat Fiona hampir kehilangan nyawanya karena Ardika dan Varian.

Tiga vampire yang menghadang mereka di Gunung Veyra.

Koga.

Musaka.

Dan terakhir ---

Balas dendam yang tidak pernah berhenti mengejar mereka.

Kaguya serta kelompoknya.

Bahkan setelah semua itu—

Fiona masih duduk di sini.

Di sampingnya.

Darrien akhirnya tertawa kecil.

“Kalau kau menjadi monster…”

Fiona perlahan menoleh.

Darrien tersenyum.

“…mungkin kau akan menjadi monster yang lucu.”

Fiona langsung mengerutkan kening.

“Monster lucu?”

“Ya.”

“Kenapa lucu?”

“Karena kau.”

Fiona memukul lengannya pelan.

“Jangan mengejekku.”

Darrien tertawa.

Kemudian ekspresinya perlahan berubah serius.

“Kalau begitu…”

Ia menatap ke depan.

“…aku akan menjadi monster yang sangat berbahaya.”

Fiona terdiam.

Darrien melanjutkan,

“Monster yang menakutkan.”

Ia menoleh kepada Fiona.

“Supaya tidak ada seorang pun yang bisa mengambilmu dariku lagi.”

Fiona membeku.

Kalimat itu—

terlalu familiar.

Bukan karena pernah ia dengar dalam kehidupan ini.

Namun karena jauh di dalam ingatannya—

ada seseorang yang pernah mengatakan hal-hal yang hampir sama.

Seseorang yang pernah berjanji tidak akan meninggalkannya.

Fiona menahan senyum.

Kemudian tertawa kecil.

“Kau buruk sekali kalau sedang menyatakan cinta.”

Darrien mengangkat alis.

“Aku sedang menyatakan cinta?”

Fiona menatapnya.

“Bukankah begitu?”

Darrien berpikir sebentar.

“Mungkin.”

Fiona kembali tertawa.

“Benar-benar buruk.”

Darrien ikut tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia mendekat sedikit.

“…mungkin aku harus mengatakannya sekali lagi.”

Fiona berkedip.

“Hah?”

Darrien menatap langsung ke matanya.

“Aku mencintaimu.”

Fiona terdiam.

Darrien melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Dan aku tidak ingin kau meninggalkanku sendirian.”

Ia berhenti sejenak.

“Setelah semua tahun yang kita lalui…”

Kemudian—

ia menarik Fiona ke dalam pelukannya.

Fiona membeku.

Tubuhnya tidak bergerak selama beberapa detik.

Ia hanya berada di sana—

di dalam pelukan Darrien.

Pelukan yang sederhana.

Hangat.

Namun bagi Fiona—

rasanya seperti sesuatu yang telah ia tunggu selama ribuan tahun.

Ia perlahan mengangkat tangannya.

Kemudian membalas pelukan itu.

Erat.

Sangat erat.

Darrien tidak tahu mengapa Fiona tiba-tiba memeluknya sekuat itu.

Ia hanya membiarkannya.

***

Fiona menutup matanya.

Air mata kecil muncul di sudut matanya.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena sebuah kalimat yang pernah ia dengar begitu lama—

kembali terdengar.

Kali ini—

di kehidupan yang baru.

Di hadapan dirinya sendiri.

Ia tersenyum.

Kemudian berbisik,

“Aku juga mencintaimu.”

Darrien terdiam.

Fiona menarik napas.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kata-kata itu keluar perlahan.

Seolah-olah ia sedang mengulang janji yang telah ia buat dahulu.

Janji yang pernah gagal ia tepati.

Namun kali ini—

ia tidak ingin mengulanginya.

“Aku akan tetap di sisimu.”

Darrien memeluknya sedikit lebih erat.

Fiona menyandarkan wajahnya di dadanya.

Dan untuk sesaat—

dua kehidupan yang berbeda terasa bertemu.

Saintess.

Fiona.

Darrien yang dulu.

Darrien yang sekarang.

Semua terasa begitu jauh—

namun juga begitu dekat.

Fiona tersenyum dalam pelukannya.

Ia belum mengatakan siapa dirinya sebenarnya.

Belum.

Ia belum mengatakan bahwa ia adalah Saintess.

Belum mengatakan bahwa ia pernah kehilangan Darrien.

Belum mengatakan bahwa ia telah mencarinya selama ribuan tahun.

Namun untuk saat ini—

ia tidak membutuhkan semua itu.

Karena Darrien baru saja memberinya jawaban yang selama ini ia takutkan.

Bukan dengan mengetahui masa lalu mereka.

Bukan karena mengingat kehidupan sebelumnya.

Tetapi karena—

bahkan sebagai Fiona,

Darrien tetap memilihnya.

***

Angin kembali berhembus.

Para peri kecil terbang mengelilingi mereka.

Salah satunya berbisik kepada yang lain,

“Fiona menangis.”

Peri lainnya menjawab,

“Bukan sedih.”

“Lalu?”

“Bahagia.”

Keduanya tertawa kecil.

Dan di tengah Crystal Garden—

Fiona tetap berada dalam pelukan Darrien.

Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun—

ia tidak merasa harus mengejar seseorang yang telah hilang.

Karena kali ini—

orang yang ia cintai berada tepat di hadapannya.

Dan ia masih hidup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience