Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 456 — SETELAH SEMUANYA KEMBALI
Setelah penjelasan panjang di aula akhirnya selesai, tidak ada seorang pun yang langsung membicarakan rencana berikutnya.
Mereka semua sudah terlalu lelah.
Kevin menghela napas.
"Untuk sekarang, kita berhenti dulu."
Tidak ada yang keberatan.
Edward dan Gloria juga tidak memaksa mereka melanjutkan pembicaraan.
Satu per satu, mereka akhirnya berpencar.
Ada yang kembali ke kamar.
Ada yang menuju ruang kerja.
Ada yang mencari makanan.
Dan ada pula yang hanya ingin tidur.
Sangat lama.
---
Darrien memilih berjalan sendirian.
Ia meninggalkan aula tanpa mengatakan apa-apa.
Langkahnya membawanya melewati koridor panjang Istana Veyth.
Tidak ada tujuan tertentu.
Ia hanya ingin menjauh sebentar dari banyak suara.
Darrien akhirnya berhenti di sebuah balkon yang menghadap halaman istana.
Angin pagi menyentuh wajahnya.
Ia bersandar pada pagar batu.
Diam.
Beberapa saat.
Kemudian ia menatap tangannya sendiri.
Tangan yang beberapa jam lalu menggenggam senjata.
Tangan yang tidak berhasil membawa Fiona pulang.
Darrien mengembuskan napas perlahan.
"Aku akhirnya melihatmu..."
Suaranya sangat pelan.
Ia tersenyum pahit.
"Setelah sekian lama."
Namun yang ia dapatkan bukan pelukan.
Bukan senyum.
Bukan panggilan namanya.
Hanya tatapan asing.
Darrien memejamkan mata.
Anehnya, justru bagian itu yang paling sulit ia lupakan.
Fiona berlari.
Namun bukan kepadanya.
Ia berlari kepada Raizen.
Darrien membuka mata kembali.
Ia tidak ingin membenci Fiona.
Bagaimana mungkin?
Fiona bahkan tidak tahu siapa dirinya sekarang.
Jadi bukan Fiona yang harus ia salahkan.
Namun tetap saja...
rasa sakit itu ada.
Dan Darrien tahu satu hal.
Ia tidak bisa terus berdiri di tempat yang sama.
Jika Fiona benar-benar kehilangan ingatannya—
maka ia harus mencari tahu bagaimana cara mendapatkannya kembali.
Bukan dengan memaksa.
Bukan dengan menariknya keluar begitu saja.
Tapi dengan memahami apa yang terjadi.
Darrien kembali menatap langit.
"Fiona..."
Ia berbisik.
"Aku akan datang lagi."
---
Di bagian lain istana—
dua orang sama sekali belum selesai berpikir.
Elyon berdiri di ruang penelitian kecil bersama Elarion.
Di atas meja terdapat beberapa catatan.
Tidak semuanya berasal dari perjalanan terakhir mereka.
Sebagian adalah catatan lama tentang sihir kuno.
Elarion menatap salah satu halaman.
"Perubahan matanya cukup jelas."
Elyon mengangguk.
"Crimson."
"Dan auranya."
"Berubah."
Keduanya terdiam.
Elyon menyilangkan tangan.
"Pure Light masih ada."
"Itu yang membuatnya semakin aneh."
Elarion mengetuk meja pelan.
"Kalau kekuatan Pure Light-nya masih sama, berarti perubahan itu tidak menghapus inti sihirnya."
"Melainkan..."
Elyon menatap catatan di depannya.
"Mungkin sesuatu telah ditambahkan."
Elarion mengangguk.
"Atau sesuatu telah ditimpa."
Keduanya saling memandang.
Tidak ada kesimpulan.
Belum.
Elyon akhirnya mengambil beberapa buku.
"Kita butuh lebih banyak referensi."
Elarion menghela napas.
"Aku tahu."
"Kita ke perpustakaan."
Elarion langsung menatapnya.
"Perpustakaan Lunaris?"
"Ya."
"Kau akan membawa Sylvester."
"Sudah pasti."
Elarion mengerutkan kening.
"Dan Rowan?"
Elyon tersenyum tipis.
"Dia memiliki kemampuan menemukan arsip yang bahkan tidak kita ketahui ada."
"Itu alasan yang bagus."
Mereka kemudian keluar dari ruangan.
Namun sebelum berjalan lebih jauh—
Elyon berhenti.
Ia menoleh.
"Rowan!"
Dari ujung koridor terdengar suara,
"Apa?"
"Kami membutuhkanmu."
Hening.
Rowan muncul beberapa saat kemudian.
Ia melihat tumpukan buku di tangan Elyon.
"...Kalian mau melakukan penelitian lagi?"
"Ya."
Rowan menatap Elarion.
Lalu Elyon.
Kemudian menghela napas.
"Baik."
Namun ekspresinya berubah ketika Elyon menambahkan,
"Kita juga akan membawa Sylvester."
Rowan mengangguk.
"Itu masuk akal."
---
Beberapa waktu kemudian—
Sylvester sedang membawa beberapa buku ketika melihat Elyon.
"Aku bahkan belum selesai sarapan."
Elyon menjawab santai,
"Kau bisa makan sambil membaca."
Sylvester menatapnya.
"...Aku tahu kenapa kau dipanggil Grand Imperial Master."
Elyon tersenyum.
"Karena aku pintar?"
"Karena kau pandai membuat orang lain bekerja."
Elarion yang berjalan di belakang mereka menahan senyum.
Rowan hanya menggeleng.
Kelompok penelitian itu pun akhirnya bergerak.
Mereka belum tahu apa yang sedang mereka cari.
Namun mereka tahu satu hal.
Perubahan Fiona bukan sesuatu yang boleh mereka abaikan.
---
Sementara itu...
Di kamar lain.
Ace sudah mengambil keputusan paling penting dalam hidupnya.
Ia membuka pintu.
Masuk.
Menutup pintu.
Mengunci.
Kemudian menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.
"Aku tidur tiga hari."
Ia menarik selimut sampai ke kepala.
"Jangan bangunkan aku."
Tidak ada yang menjawab.
Ace memejamkan mata.
Lima detik kemudian—
ia sudah tertidur.
Setelah beberapa saat, seorang pelayan lewat di depan kamarnya.
Ia berhenti.
Mendengar suara dengkuran.
Pelayan itu tersenyum kecil.
"Sepertinya dia benar-benar lelah."
Ace terus tidur.
Tanpa peduli dunia.
Untuk pertama kalinya—
gunung tidak mengejarnya.
---
Sementara Kevin...
tidak mendapat kemewahan seperti itu.
Ia berada di ruang kerja kerajaan.
Beberapa laporan tersusun di atas meja.
Laporan penjagaan.
Laporan perjalanan.
Laporan aktivitas kerajaan selama mereka pergi.
Dan beberapa dokumen yang menunggu pemeriksaan.
Kevin mengusap wajahnya.
"Kita baru pulang."
Ia melihat tumpukan dokumen.
"Kenapa laporan sudah menunggu?"
Seorang pejabat yang berdiri di samping meja menjawab dengan tenang,
"Karena kerajaan tidak ikut pergi bersama kalian."
Kevin terdiam.
"...Benar juga."
Ia menarik kursi.
Duduk.
Kemudian mulai membaca.
Meskipun pikirannya sesekali masih kembali pada Shadowcresent.
Pada Fiona.
Dan pada apa yang mereka lihat di sana.
Namun untuk sementara—
mereka semua memiliki urusan masing-masing.
Darrien dengan pikirannya.
Elyon dan Elarion dengan penelitian mereka.
Rowan dan Sylvester yang terseret ke dalamnya.
Ace dengan tidurnya selama tiga hari.
Dan Kevin—
dengan kerajaan yang ternyata tetap berjalan meskipun ia tidak berada di istana.
Hari itu akhirnya menjadi jauh lebih tenang.
Namun ketenangan tersebut bukan berarti masalah mereka telah selesai.
Mereka hanya sedang mengambil napas.
Sebelum langkah berikutnya dimulai.
