114. Tiga Jalur Penelurusan

Romance Series 382

BAB 114
TIGA JALUR PENELUSURAN

Pagi itu, kediaman Rowan kembali dipenuhi kesibukan.

Di ruang penelitian—

Elarion menata bahan-bahan yang mereka beli dari Veyra.

Darrien duduk di tengah lingkaran kristal.

Fiona berada di sampingnya sambil membawa catatan.

“Baik,” kata Elarion.

“Kita mulai lagi.”

Darrien menghela napas.

“Percobaan keberapa?”

Elarion berpikir sebentar.

“Keduabelas.”

Fiona tersenyum.

“Semoga angka dua belas membawa keberuntungan.”

Darrien menatapnya.

“Kau mengatakan itu setiap kali.”

“Karena suatu hari nanti akan berhasil.”

Elarion tertawa kecil.

“Optimisme yang bagus.”

Ia mulai menyalurkan energi ke kristal.

Cahaya perlahan muncul.

Herbal yang telah disiapkan diletakkan di sekeliling lingkaran.

Darrien memejamkan mata.

Untuk beberapa saat—

tidak terjadi apa-apa.

Kemudian retakan tipis muncul di sisi wajahnya.

Fiona langsung menegang.

“Darrien.”

“Aku baik-baik saja.”

Elarion memperhatikan perubahan tersebut dengan saksama.

“Jangan bergerak.”

Energi kristal meningkat.

Namun—

**PFFFT!**

Cahayanya padam.

Asap tipis keluar dari kristal.

Darrien membuka mata.

“Gagal?”

Elarion menatap kristal.

“Ya.”

Fiona menghela napas.

“Setidaknya tidak meledak.”

Darrien mengangguk.

“Itu perkembangan.”

Elarion tertawa.

“Benar.”

Ia menulis sesuatu pada catatan.

“Namun kali ini ada perbedaan.”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Segelnya bereaksi lebih cepat.”

Elarion menunjuk catatannya.

“Artinya kita mulai memahami sedikit cara kerjanya.”

Darrien mengangguk.

“Walaupun belum bisa melakukan apa-apa.”

“Semua penelitian dimulai dari sana.”

***

Sementara itu—

jauh di dalam Perpustakaan Kerajaan Veyth—

Kevin, Ace, dan Rowan sudah hampir kehilangan rasa waktu.

Rak-rak tua memenuhi ruangan.

Debu menempel pada beberapa buku.

Beberapa dokumen bahkan menggunakan bahasa kuno yang harus diterjemahkan terlebih dahulu.

Ace mengangkat sebuah buku.

“Ini sudah berapa tahun?”

Rowan melihat sampulnya.

“Lebih dari lima ratus.”

Ace menghela napas.

“Dan kita harus membaca semuanya?”

“Tidak semuanya.”

Kevin mengambil buku lain.

“Hanya yang berhubungan dengan sihir penyegelan.”

Rowan mengangguk.

“Dan perubahan tubuh.”

Ace melihat tumpukan buku.

“Jumlahnya masih terlalu banyak.”

Kevin tersenyum tipis.

“Makanya kita bertiga.”

Mereka kembali bekerja.

Rowan mencari catatan sejarah.

Kevin memeriksa teori sihir.

Ace mencatat bagian yang mungkin berhubungan dengan perlindungan, penyamaran, dan segel tubuh.

Waktu berlalu.

Tidak ada jawaban langsung.

Namun beberapa catatan mulai menarik perhatian mereka.

Sihir penyegelan kuno.

Sihir yang dapat menekan karakteristik ras.

Sihir yang tidak hanya mengubah penampilan—

tetapi menekan bentuk asli seseorang.

Rowan menatap salah satu halaman.

“Ini…”

Kevin mendekat.

“Apa?”

“Strukturnya.”

Ia menunjuk gambar lingkaran sihir.

“Mirip dengan pola yang kita lihat pada Darrien.”

Ace langsung mendekat.

“Serius?”

Rowan mengangguk.

“Mirip.”

Kevin membaca catatan tersebut.

“Namun ini bukan segel wajah.”

“Benar.”

“Ini untuk menekan aura ras.”

Rowan menutup buku perlahan.

“Berarti kita mulai mendekati sesuatu.”

Ace tersenyum.

“Akhirnya.”

Kevin mengangguk.

“Tapi belum cukup.”

Mereka kembali mencari.

***

Di Lunaris—

Elyon masih berada di Perpustakaan Kerajaan.

Tumpukan buku di sekelilingnya semakin tinggi.

Namun belum ada jawaban pasti mengenai daun perak.

Ia menatap catatan terakhir yang dibacanya.

Tidak ada nama.

Tidak ada asal yang jelas.

Hanya satu kesimpulan:

**Artefak tersebut memiliki kemampuan memilih pemilik berdasarkan kecocokan energi.**

Elyon menghela napas.

“Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah daun itu memilih Fiona.”

Ia menutup buku.

“Pertanyaannya adalah…”

“Kenapa?”

Ia berdiri.

Tatapannya menjadi lebih serius.

Ada satu hal yang tidak bisa ia dapatkan hanya dari buku.

Jawaban dari Fiona sendiri.

Dan mungkin—

melihat daun itu secara langsung akan memberikan lebih banyak petunjuk.

Elyon mengambil jubahnya.

Ia sudah membuat keputusan.

“Aku kembali ke Veyra.”

***

Sementara itu—

di kediaman Rowan—

Elarion menatap hasil percobaan terbaru.

Gagal.

Namun kali ini ia tersenyum tipis.

“Setidaknya kita tahu satu hal.”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Segelmu tidak sepenuhnya stabil.”

Fiona mengerutkan kening.

“Bukankah itu buruk?”

“Bisa jadi.”

Elarion menggeleng.

“Tapi itu juga berarti ada kemungkinan untuk memengaruhinya.”

Darrien menatap tangannya sendiri.

“Jadi kita lanjut?”

Elarion mengangguk.

“Besok.”

Fiona tersenyum.

“Besok lagi?”

“Besok lagi.”

Darrien menghela napas.

“Baiklah.”

***

Tiga tempat.

Tiga penelitian.

Tiga kelompok yang mencari jawaban berbeda.

Elarion mencari cara memahami segel.

Kevin, Ace, dan Rowan mencari sejarah yang terlupakan.

Dan Elyon—

mencari jawaban tentang seorang gadis dan daun perak yang memilihnya.

Tidak satu pun dari mereka mengetahui seluruh kebenaran.

Namun perlahan—

ketiga jalur itu mulai bergerak menuju titik yang sama.

Veyra.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience