313. Sedikit Lebih Lama

Romance Series 382

BAB 313 — SEDIKIT LEBIH LAMA

Setelah makan siang selesai—

suasana di ruang makan perlahan kembali tenang.

Fiona menyandarkan tubuhnya di kursi.

Ia merasa jauh lebih baik dibandingkan ketika pertama kali membuka mata.

Meskipun tubuhnya masih terasa lemah—

setidaknya ia sudah bisa makan.

Dan tentu saja—

dessert-nya juga berhasil dihabiskan.

Darrien memperhatikan piring kosong di depannya.

“Kau benar-benar menghabiskannya.”

Fiona menatapnya polos.

“Aku lapar.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa bertanya?”

Darrien hanya menggeleng.

Fiona tertawa kecil.

Namun setelah tawa itu menghilang—

pikirannya kembali kepada sesuatu yang jauh lebih berat.

Saintess.

Darrien.

Ribuan tahun.

Semua ingatan itu masih terasa begitu jelas.

Namun ia belum mengatakan apa pun.

Belum.

***

Beberapa saat kemudian—

Fiona keluar dari ruang makan.

Ia berjalan perlahan menuju Crystal Garden milik Lunaris.

Udara siang terasa lembut.

Cahaya matahari menembus dedaunan.

Bunga-bunga kristal memantulkan cahaya kecil ke seluruh taman.

Beberapa peri kecil terbang di antara bunga.

“Hehehe!”

“Fiona!”

Salah satu peri langsung terbang mendekatinya.

Fiona tersenyum.

“Kalian masih di sini?”

Peri kecil itu berputar di sekeliling kepalanya.

“Fiona bangun!”

“Ya.”

Fiona tertawa.

“Aku sudah bangun.”

Ia berjalan lebih jauh ke dalam taman.

Tanpa sadar—

ia merasa sangat familiar dengan tempat itu.

Taman Kristal.

Pohon-pohon.

Bunga-bunga.

Angin lembut.

Semua itu mengingatkannya pada taman yang ia lihat dalam mimpinya.

Taman tempat ia pernah duduk sebagai Saintess.

Namun kali ini—

ia tidak menangis.

Ia hanya menikmati angin.

***

Darrien menyusul beberapa saat kemudian.

Ia berdiri beberapa langkah di belakang Fiona.

Tidak mengganggunya.

Hanya memperhatikan.

Fiona sedang berdiri di dekat salah satu pohon.

Seekor peri kecil duduk di atas kepalanya.

Fiona mencoba mengusirnya.

“Turun.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Nyaman.”

Fiona mendengus.

“Kau berat.”

Peri itu malah tertawa.

Darrien akhirnya tersenyum.

“Sepertinya kau sudah mendapatkan teman baru.”

Fiona menoleh.

“Oh.”

Ia tersenyum.

“Dia yang datang sendiri.”

“Begitu?”

“Ya.”

Darrien berjalan mendekat.

“Kalau begitu biarkan saja.”

Fiona mengangguk.

Mereka kemudian berjalan berdampingan.

Tidak ada pembicaraan penting.

Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.

Tidak ada pembicaraan tentang Saintess.

Hanya—

dua orang yang menikmati taman.

***

Fiona sesekali mencuri pandang kepada Darrien.

Ia melihat wajahnya.

Gerakannya.

Cara ia berbicara.

Cara ia tersenyum.

Semuanya berbeda.

Namun juga sama.

Sangat sama.

Fiona menunduk.

*Ini Darrien.*

Bukan sosok dalam mimpinya.

Bukan jiwa yang ia simpan di dalam kristal.

Bukan seseorang yang ia tunggu selama ribuan tahun.

Ini adalah—

Darrien yang sekarang.

Orang yang tumbuh bersamanya di Akasia.

Orang yang selalu berada di sisinya.

Orang yang memegang tangannya selama tujuh hari ketika ia tidak sadar.

Fiona tersenyum kecil.

*Untuk sekarang…*

Ia tidak ingin mengatakan apa pun.

Bukan karena ia ingin berbohong.

Ia hanya—

ingin menikmati waktu ini sedikit lebih lama.

Menjadi Fiona.

Bukan Saintess.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada ribuan tahun.

Hanya dirinya.

Dan Darrien.

***

“Fiona?”

“Hmm?”

“Kau diam sekali.”

Fiona tersenyum.

“Aku hanya berpikir.”

“Memikirkan apa?”

Fiona terdiam.

Kemudian menjawab,

“Banyak hal.”

Darrien menatapnya.

“Hal yang buruk?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Ia tersenyum.

“Justru… hal yang membuatku bahagia.”

Darrien tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya mengangguk.

“Bagus.”

Mereka terus berjalan.

Angin kembali berhembus.

Peri-peri kecil terbang mengelilingi mereka.

Fiona memandang langit.

Dalam hatinya—

ia tahu suatu hari nanti ia harus mengatakan semuanya.

Tentang Saintess.

Tentang kehidupan sebelumnya.

Tentang Darrien.

Tentang ribuan tahun yang telah ia jalani.

Namun—

bukan hari ini.

Hari ini—

ia hanya ingin berada di sampingnya.

Sedikit lebih lama.

***

Darrien tiba-tiba berhenti.

Fiona ikut berhenti.

“Apa?”

Darrien menunjuk sebuah bangku di bawah pohon.

“Duduklah.”

Fiona mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Kau baru sadar setelah tidur tujuh hari.”

“Oh.”

Fiona menurut.

Mereka duduk berdampingan.

Beberapa peri kecil beterbangan di depan mereka.

Fiona tersenyum.

Untuk sesaat—

semuanya terasa seperti kehidupan biasa.

Tidak ada Saintess.

Tidak ada Forbidden Magic.

Tidak ada kerajaan kuno.

Tidak ada kematian.

Hanya Fiona.

Hanya Darrien.

Dan sebuah sore yang tenang di Crystal Garden Lunaris.

Fiona menyandarkan tubuhnya sedikit.

Kemudian perlahan memejamkan mata.

Ia tersenyum.

*Biarkan aku menikmati ini sedikit lebih lama.*

Karena setelah ribuan tahun—

akhirnya ia kembali duduk di samping orang yang paling ia rindukan.

Dan kali ini—

Darrien masih hidup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience