Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 111
DENYUT CAHAYA
Malam kembali menyelimuti Kerajaan Lunaris.
Istana telah jauh lebih tenang dibandingkan siang hari.
Namun di dalam Ruang Kristal Kerajaan—
cahaya kecil itu masih menyala.
Sylvester berdiri di hadapan kristal seperti biasanya.
Selama bertahun-tahun, ia telah menjaga tempat itu.
Ia tahu setiap perubahan kecil pada kristal.
Setiap perubahan warna.
Setiap perubahan suhu.
Setiap denyutan cahaya.
Dan malam ini—
denyutannya berbeda.
Sylvester mendekat.
“Sekali lagi…”
Cahaya di dalam kristal berdenyut.
Samar.
Kemudian berhenti.
Sylvester mengerutkan kening.
Ia menyentuh permukaan kristal dengan hati-hati.
Tidak ada panas.
Tidak ada getaran kuat.
Hanya cahaya lembut yang perlahan kembali muncul.
“Masih sama.”
Ia menarik tangannya.
Kemudian menatap pintu besar di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar dari lorong.
Elyon masuk.
Sylvester langsung membungkuk.
“Guru Agung.”
Elyon mengangguk.
“Bagaimana keadaannya?”
“Tidak banyak berubah.”
Sylvester menunjuk kristal.
“Tetapi denyutannya menjadi sedikit lebih teratur malam ini.”
Elyon mendekat.
Ia memperhatikan cahaya itu.
“Lebih teratur?”
“Ya.”
Sylvester menjelaskan,
“Dulu cahaya hanya muncul sesekali.”
“Sekarang?”
“Sekarang muncul dalam jarak yang hampir sama.”
Elyon terdiam.
Ia tidak langsung menyentuh kristal.
Hanya mengamatinya.
Denyut.
Diam.
Denyut.
Diam.
Elyon menyipitkan mata.
“Menarik.”
Sylvester menatapnya.
“Apakah itu berarti sesuatu?”
“Belum tentu.”
Elyon tersenyum tipis.
“Kita tidak boleh memberikan makna pada sesuatu sebelum memahami penyebabnya.”
Sylvester mengangguk.
“Benar.”
Keduanya kembali diam.
Beberapa detik kemudian—
cahaya kristal kembali berdenyut.
Kali ini sedikit lebih terang.
Sylvester langsung melihatnya.
“Guru Agung…”
“Aku melihatnya.”
Elyon mendekat satu langkah.
Cahaya itu kemudian perlahan meredup kembali.
Elyon menghela napas.
“Masih terlalu lemah.”
“Apakah perlu melapor kepada Yang Mulia?”
“Belum.”
Sylvester terkejut.
“Belum?”
Elyon mengangguk.
“Kita sudah memberitahu mereka tentang perubahan sebelumnya.”
“Untuk saat ini, tidak ada perubahan yang cukup besar untuk membuat mereka khawatir.”
Sylvester mengangguk.
Namun matanya masih tertuju pada kristal.
“Kalau begitu kita hanya menunggu.”
“Ya.”
Elyon menatap cahaya tersebut.
“Dan mengamati.”
***
Beberapa saat kemudian, Elyon meninggalkan Ruang Kristal.
Sylvester tetap berada di sana.
Ia kembali ke tempat duduknya.
Namun sebelum sempat membuka catatan—
cahaya kristal kembali berdenyut.
Sylvester mengangkat kepala.
Kali ini—
denyutannya terasa lebih panjang.
Lebih lembut.
Seolah-olah kristal itu sedang merespons sesuatu yang sangat jauh.
Sylvester berdiri.
Ia mendekat.
“…”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara.
Hanya cahaya.
Namun selama bertahun-tahun menjaga kristal itu—
Sylvester telah belajar satu hal.
Kristal Kerajaan tidak pernah menyala tanpa alasan.
Ia hanya belum tahu—
apa alasan kali ini.
