Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 463 — AMARAH YANG MULAI TENANG
Pagi kembali menyelimuti Veyth.
Seperti beberapa hari sebelumnya—
istana berjalan seperti biasa.
Tidak ada serangan.
Tidak ada berita dari Shadowcresent.
Tidak ada perubahan besar.
Namun di dalam perpustakaan kerajaan—
beberapa orang masih belum menyerah.
Elarion berdiri di depan meja panjang yang dipenuhi buku.
Elyon duduk di salah satu sisi sambil membaca manuskrip tua.
Rowan menyusun beberapa catatan berdasarkan tahun dan jenis sihir.
Sylvester memeriksa buku-buku mengenai Pure Light.
Dan Ace...
masih terlihat seperti seseorang yang sedang mempertanyakan semua keputusan hidupnya.
"Sudah berapa minggu kita melakukan ini?"
Elyon tidak mengangkat kepala.
"Beberapa."
Ace menghela napas.
"Jawabanmu semakin pendek."
"Karena pertanyaannya sama."
Ace menatap tumpukan buku.
"Aku hanya ingin memastikan penderitaanku tercatat."
Rowan tersenyum kecil.
"Sudah."
Ace langsung menoleh.
"Serius?"
"Ya."
"Di mana?"
Rowan menunjuk salah satu catatan.
"Bagian keluhan."
Ace terdiam.
"...Kau jahat."
Elarion tertawa kecil sebelum kembali serius.
"Fokus."
Ia menarik sebuah buku tua ke tengah meja.
"Ini yang kita temukan kemarin."
Elyon mengangguk.
Buku itu membahas perubahan tubuh dan aura akibat interaksi dengan sihir tingkat tinggi.
Bukan hanya perubahan ingatan.
Tetapi juga perubahan pada cara energi mengalir di dalam tubuh seseorang.
Sylvester menunjuk salah satu bagian.
"Di sini."
Ia membaca perlahan.
"Perubahan pada warna mata dapat terjadi ketika tubuh seseorang mengalami resonansi dengan energi asing yang sangat kuat."
Rowan mengerutkan kening.
"Resonansi?"
"Seperti energi yang menetap terlalu lama."
Elyon menatap halaman tersebut.
"Tapi ini tidak menjelaskan semuanya."
Elarion mengangguk.
"Karena Fiona masih memiliki Pure Light."
Ia membuka catatan lain.
"Dan Pure Light miliknya tetap sangat murni."
Ace mengangkat tangan.
"Jadi..."
Semua menoleh.
"Fiona berubah."
"Ya."
"Tapi tidak sepenuhnya berubah."
"Benar."
Ace menggaruk kepalanya.
"...Makin rumit."
Elyon menatapnya.
"Sayangnya, benar."
Ia kembali membaca.
"Aura Fiona sekarang memiliki lapisan energi lain."
"Dan warna matanya berubah."
Sylvester mengangguk.
"Namun energi Pure Light masih berada di dalamnya."
Rowan menyusun beberapa catatan.
"Artinya perubahan ini tidak menghancurkan sifat aslinya."
Elarion terdiam.
"Melainkan menambahkan sesuatu."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Mereka semua memahami arti kalimat itu.
Tetapi belum ada yang tahu—
apa sebenarnya yang ditambahkan.
---
Di tempat lain—
jauh dari perpustakaan—
medan latihan Veyth kembali dipenuhi suara ledakan.
BOOM!
Magic dummy terlempar.
Darrien berdiri beberapa meter di depannya.
Wajahnya dingin.
Napasnya teratur.
Ia mengangkat satu tangan.
Dummy itu kembali berdiri.
Darrien menarik napas.
Perlahan.
Dalam.
Kemudian menghembuskannya.
Ia tidak lagi menyerang dengan kemarahan yang sama seperti beberapa minggu lalu.
Namun rasa sakit itu masih ada.
Fiona masih ada di dalam pikirannya.
Wajahnya.
Senyumnya.
Suara tawanya.
Dan momen ketika Fiona berlari melewatinya menuju Raizen.
Darrien memejamkan mata sejenak.
Kemudian membukanya kembali.
"Darrien."
Ia menyebut namanya sendiri dengan suara pelan.
Seolah mengingatkan dirinya.
"Tenang."
Magic mulai berkumpul di telapak tangannya.
Tidak meledak.
Tidak menyebar.
Energinya justru semakin padat.
Semakin terkonsentrasi.
Darrien mengarahkan telapak tangannya ke dummy.
Lalu—
BOOM!
Serangan menghantam tepat di tengah tubuh dummy.
Namun kali ini tidak ada ledakan liar.
Tidak ada energi yang terbuang ke segala arah.
Semua kekuatan terkonsentrasi pada satu titik.
Dummy itu terlempar jauh.
Darrien tidak bergerak.
Napasnya tetap stabil.
Ia mengangkat tangannya lagi.
Serangan kedua.
Lebih cepat.
Lebih padat.
Lebih tajam.
BOOM!
Dummy itu kembali terpental.
Darrien terus berdiri dengan wajah dingin.
Ia tidak membayangkan menghancurkan Raizen lagi.
Ia hanya membayangkan satu hal—
menjadi cukup kuat.
Cukup tenang.
Cukup terkendali.
Agar ketika waktunya tiba...
ia tidak kehilangan dirinya sendiri.
---
Di luar batas penghalang medan latihan—
Kevin berdiri diam.
Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Ia mengamati setiap gerakan Darrien.
Beberapa minggu lalu—
Darrien menyerang seperti seseorang yang ingin menghancurkan sesuatu.
Sekarang—
ia menyerang seperti seseorang yang ingin mengendalikan dirinya sendiri.
Kevin tersenyum tipis.
"Lebih baik."
Ia memperhatikan aliran sihir Darrien.
Padat.
Teratur.
Hampir tidak ada energi yang terbuang.
"Dia mulai belajar."
Kevin tidak masuk.
Tidak mengganggu.
Darrien tidak membutuhkan seseorang untuk menghentikannya.
Setidaknya sekarang.
Ia membutuhkan ruang untuk belajar mengendalikan semua yang ada di dalam dirinya.
---
Di lantai atas istana—
sepasang mata juga memperhatikan medan latihan.
King Edward berdiri di dekat jendela.
Queen Gloria berada di sampingnya.
Keduanya memandang Darrien yang terus berlatih.
Gloria terdiam beberapa saat.
"Dia masih berlatih setiap hari."
Edward mengangguk.
"Ya."
"Dan sendirian."
"Ya."
Gloria menatap putranya dengan ekspresi lembut.
"Dulu dia akan membiarkan emosinya mengendalikan sihirnya."
Edward memperhatikan satu serangan Darrien.
Magic dummy kembali terlempar.
Namun energi Darrien tetap stabil.
"Sepertinya sekarang dia belajar sebaliknya."
Gloria tersenyum kecil.
"Belajar mengendalikan emosinya."
Edward tidak langsung menjawab.
Ia tahu putranya masih terluka.
Tidak ada latihan yang bisa menghapus itu.
Tidak ada waktu beberapa minggu yang bisa membuat seseorang berhenti merindukan orang yang dicintainya.
Namun—
setidaknya Darrien tidak lagi membiarkan rasa sakit itu menghancurkannya.
Edward berkata pelan,
"Biarkan dia."
Gloria menoleh.
"Menurutmu dia baik-baik saja?"
Edward menggeleng.
"Tidak."
Gloria terdiam.
"Dia tidak baik-baik saja."
Edward kembali menatap medan latihan.
"Tapi dia sedang belajar menjadi kuat meskipun tidak baik-baik saja."
Gloria tersenyum tipis.
"Anakku..."
---
Di medan latihan—
Darrien kembali mengangkat tangannya.
Magic dummy berdiri di depannya.
Ia menarik napas.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian—
ia memadatkan sihirnya.
Wajahnya tetap dingin.
Tatapannya tajam.
Serangan melesat.
BOOM!
Dummy itu jatuh.
Darrien berdiri diam.
Untuk pertama kalinya—
amarah yang selama ini memenuhi dadanya tidak lagi terasa seperti api yang membakar seluruh tubuhnya.
Masih ada.
Masih sakit.
Masih ada kerinduan.
Namun sekarang ia bisa menggenggam semuanya tanpa membiarkannya menguasai dirinya.
Darrien menatap tangannya.
"Fiona..."
Suaranya sangat pelan.
"Aku masih merindukanmu."
Ia menutup tangannya.
"Tapi aku tidak akan membiarkan kerinduan ini menghancurkanku."
Angin pagi melewati medan latihan.
Darrien mengangkat wajahnya.
Kemudian kembali menatap magic dummy.
"Kalau aku ingin membawamu pulang..."
Matanya menjadi lebih tajam.
"...aku harus tetap berdiri."
Dan kali ini—
ia tidak menyerang karena marah.
Ia menyerang karena tekad.
