46. Langkah Yang Terlalu Cepat

Romance Series 94

BAB 46
LANGKAH YANG TERLALU CEPAT

Pagi berikutnya, Kevin membawa Darrien ke bagian hutan yang lebih dalam.

Fiona ikut bersama mereka.

Elarion tetap berada di rumah untuk menyiapkan ramuan.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Darrien.

Kevin berjalan tanpa menoleh.

“Karena tempat ini lebih cocok untuk latihan.”

Mereka berhenti di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi pepohonan tinggi.

Kevin menunjuk beberapa batu yang tersebar di tanah.

“Jangan gunakan kekuatan penuh.”

Darrien mengangguk.

“Lalu?”

“Sentuh batu-batu itu dengan sihirmu.”

Darrien mengerutkan kening.

“Sesederhana itu?”

“Coba.”

Darrien mengangkat tangan.

Hawa dingin menyebar.

Satu batu membeku.

Kemudian batu kedua.

Ketiga.

Keempat.

Darrien mulai mempercepat gerakannya.

Kelima.

Keenam.

Ketujuh—

Krak!

Salah satu batu pecah.

Kevin langsung berkata,

“Berhenti.”

Darrien menghentikan sihir.

“Aku gagal?”

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Karena terlalu cepat?”

“Benar.”

Kevin menunjuk batu yang pecah.

“Kau mulai menganggap kecepatan sebagai kekuatan.”

Darrien diam.

“Kecepatan bukan masalah,” lanjut Kevin.

“Masalahnya adalah kau kehilangan kendali ketika mempercepatnya.”

Darrien mengangguk.

“Ulangi?”

“Ulangi.”

Fiona tersenyum kecil.

“Semangat.”

Darrien menatapnya.

“Kau selalu bilang begitu.”

“Karena kau selalu mengeluh.”

“Aku tidak mengeluh.”

Kevin menatap keduanya.

“Berhenti bicara.”

Mereka langsung diam.

Fiona menahan tawa.

Darrien memalingkan wajah.

Latihan dimulai lagi.

Kali ini Darrien bergerak lebih perlahan.

Satu batu.

Dua.

Tiga.

Tidak ada yang pecah.

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien langsung tersenyum.

Fiona mengangkat kedua tangannya.

“Wah! Kau mendapat pujian!”

Darrien tampak bangga.

Kevin langsung menambahkan,

“Sekarang dua puluh.”

Darrien terdiam.

Fiona tertawa.

“Maaf.”

Darrien menatapnya.

“Ini salahmu.”

“Kenapa salahku?”

“Karena kau membuatku semangat.”

Kevin berjalan pergi.

“Mulai.”

Darrien menghela napas.

Namun ia kembali berlatih.

Satu demi satu batu membeku.

Kali ini tanpa retakan.

Tanpa ledakan.

Tanpa kehilangan kendali.

Setelah selesai, Kevin mengangguk.

“Cukup.”

Darrien menjatuhkan diri ke rumput.

“Aku ingin tidur.”

Fiona duduk di sampingnya.

“Besok latihan lagi?”

Darrien menatap langit.

“Sayangnya.”

Fiona tersenyum.

“Aku akan ikut.”

Darrien menoleh.

“Kenapa?”

“Karena…”

Fiona berhenti.

“Karena aku juga ingin menjadi lebih kuat.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu kita latihan bersama.”

Kevin berdiri beberapa langkah dari mereka.

Ia memperhatikan keduanya.

Kemudian berkata,

“Besok kita mulai latihan sihir tingkat kedua.”

Darrien langsung bangkit.

“Apa?”

Kevin mengangguk.

“Sudah waktunya.”

Fiona menatapnya penasaran.

“Apakah sulit?”

“Ya.”

Darrien menghela napas panjang.

Kevin berjalan meninggalkan mereka.

Namun sebelum pergi, ia berkata,

“Dan kali ini…”

Ia menoleh sedikit.

“Jangan berharap aku akan membiarkan kalian tidur siang.”

Darrien menatap Fiona.

Fiona menatap Darrien.

Keduanya menghela napas bersamaan.

Kemudian Fiona tertawa.

Dan Darrien akhirnya ikut tertawa.

Mereka belum tahu apa yang akan diajarkan Kevin keesokan harinya.

Namun satu hal sudah pasti.

Latihan mereka baru saja memasuki tahap yang jauh lebih serius.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience