Series
382
BAB 309 — SERIBU TAHUN YANG TERINGAT
Satu minggu telah berlalu.
Bagi kebanyakan orang—
tujuh hari bukanlah waktu yang terlalu lama.
Namun bagi Darrien—
tujuh hari terasa seperti terlalu panjang.
***
Sejak Fiona dibawa kembali ke Lunaris—
Darrien hampir tidak pernah meninggalkan sisinya.
Hari berganti malam.
Malam berganti pagi.
Namun Fiona masih belum membuka mata.
Ia masih terbaring di tempat tidur.
Napasnya stabil.
Lukanya telah berhenti berdarah sejak malam pertama.
Namun—
tidak ada tanda-tanda kesadarannya kembali.
Darrien masih duduk di kursi yang sama.
Tangannya menggenggam tangan Fiona.
Dan selama tujuh hari itu—
genggaman Fiona tidak pernah benar-benar terlepas.
Sesekali—
jari-jarinya bergerak sedikit.
Kemudian kembali diam.
Air mata juga masih muncul.
Terkadang satu tetes.
Terkadang beberapa.
Tanpa ia sadari.
Tanpa ia bangun.
Itulah satu-satunya reaksi yang Darrien lihat.
***
Hari pertama—
para healer masih penuh keyakinan.
Hari kedua—
mereka mulai mencoba metode berbeda.
Hari ketiga—
mereka membawa ramuan lain.
Hari keempat—
Elyon dan Elarion kembali memeriksa kondisi Fiona dari awal.
Hari kelima—
mereka mulai kehabisan pilihan.
Hari keenam—
bahkan para healer hanya bisa menghela napas.
Dan sekarang—
hari ketujuh.
Tidak ada perubahan.
Elyon berdiri di dekat tempat tidur.
Ia menatap Fiona cukup lama.
“Semua fungsi tubuhnya stabil.”
Elarion mengangguk.
“Namun kesadarannya tidak kembali.”
Elyon menghela napas.
“Aku sudah mencoba semua metode yang kupikirkan.”
Elarion tersenyum pahit.
“Aku juga.”
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya tetap memegang tangan Fiona.
***
Satu hal lain juga tetap sama.
Kalung dan gelang dengan simbol daun perak.
Keduanya masih memancarkan cahaya samar.
Sejak malam Fiona terluka—
cahaya itu tidak pernah benar-benar padam.
Kadang hampir tidak terlihat.
Kadang sedikit lebih terang.
Namun selalu ada.
Elyon bahkan sudah memeriksanya berkali-kali.
Tidak menemukan sumbernya.
Tidak menemukan sihir yang mengaktifkannya.
Tidak menemukan hubungan yang dapat dijelaskan.
Akhirnya—
bahkan Elyon menyerah.
“Untuk sementara…”
Ia menatap kedua benda tersebut.
“…aku tidak tahu.”
Elarion mengangguk.
“Mungkin kita memang belum waktunya mengetahui jawabannya.”
Darrien tetap diam.
Ia tidak peduli dengan misteri itu untuk saat ini.
Yang ia pedulikan—
hanya Fiona.
***
Malam kembali tiba.
Orang-orang lain sudah beristirahat.
Namun Darrien masih berada di sana.
Ia melihat tangan Fiona yang masih menggenggam tangannya.
“Tujuh hari…”
Ia tersenyum kecil.
“Kau benar-benar suka membuat orang menunggu.”
Tidak ada jawaban.
Darrien menghela napas.
Kemudian—
“Setidaknya bangunlah.”
Tetap tidak ada jawaban.
Ia menatap wajah Fiona.
“Aku bahkan tidak bisa mengajakmu mencari makanan lagi.”
Hening.
Darrien berpikir sebentar.
Kemudian berkata,
“Padahal aku dengar ada kios dessert baru.”
Jarinya masih menggenggam tangan Fiona.
“Katanya enak.”
Tidak ada reaksi.
Darrien menghela napas.
“Sayang sekali.”
Ia menunduk sedikit.
“Kalau kau terus tidur…”
Ia berhenti.
Kemudian tersenyum tipis.
“…aku akan makan semuanya sendiri.”
***
Jauh di dalam kesadaran Fiona—
sesuatu telah berubah.
Taman Kristal kembali muncul.
Namun kali ini—
tidak ada Darrien.
Tidak ada adegan masa lalu.
Tidak ada sosok asing.
Hanya dirinya.
Sang Saintess.
Ia duduk di bawah pohon besar.
Dua peri kecil beterbangan di sekelilingnya.
Namun kali ini—
ia tidak tersenyum.
Air matanya terus jatuh.
Tubuhnya gemetar.
Kedua tangannya memeluk lututnya.
Ia menundukkan wajah.
Tangisnya begitu dalam hingga napasnya terasa sesak.
Ia akhirnya mengerti.
Semua yang baru saja ia lihat—
bukan mimpi.
Bukan khayalan.
Bukan cerita orang lain.
Itu adalah—
**ingatan.**
Satu demi satu—
semuanya kembali.
Darrien.
Danau.
Pengakuan.
Pelarian.
Pengkhianatan.
Kematian.
Kristal jiwa.
Berabad-abad penantian.
Kerajaan yang berubah.
Edward.
Gloria.
Kelahiran Darrien.
Akasia.
Dan—
dirinya sendiri.
Sang Saintess.
Fiona memejamkan mata.
Air mata kembali mengalir.
“Aku…”
Suaranya bergetar.
“Aku benar-benar mengingat semuanya.”
Tangannya mencengkeram kain pakaiannya.
Perasaan kehilangan itu—
terlalu nyata.
Kesepian itu—
terlalu dalam.
Bukan kesepian selama beberapa tahun.
Bukan puluhan tahun.
Bukan ratusan tahun.
Tetapi—
**ribuan tahun.**
Ia pernah kehilangan Darrien.
Dan ia telah hidup dengan kehilangan itu begitu lama—
hingga bahkan dirinya sendiri lupa bagaimana rasanya hidup tanpa rasa sakit tersebut.
Tidak heran mimpi tentang Darrien yang mati di dalam pelukannya terasa begitu nyata.
Karena itu bukan mimpi.
Ia memang pernah mengalaminya.
Ia memang pernah memeluk tubuhnya.
Ia memang pernah menangis karena kehilangan dirinya.
Dan sekarang—
Darrien ada di dunia nyata.
Masih hidup.
Masih di sisinya.
Namun justru itu yang membuat Fiona takut.
Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Bagaimana jika Darrien mengetahui semuanya?
Bagaimana jika ia mengetahui bahwa Fiona bukan hanya Fiona?
Bagaimana jika ia mengetahui bahwa dirinya telah hidup selama ribuan tahun?
Fiona membayangkan wajah Darrien.
Kemudian buru-buru menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.
“Bagaimana kalau…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“…dia menganggapku monster tua?”
Ia menangis lagi.
“Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya…”
Dua peri kecil di dekatnya hanya terdiam.
Tidak ada jawaban.
Fiona memeluk lututnya semakin erat.
“Aku ingin bertemu dengannya…”
Ia terisak.
“Tapi aku takut.”
***
Di dunia nyata—
Darrien masih berada di tempat yang sama.
Ia menatap Fiona.
Kemudian perlahan mengusap punggung tangannya.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
Ia menghela napas.
“Tujuh hari.”
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Berapa lama lagi kau mau tidur?”
Ia melirik meja di samping tempat tidur.
Ada beberapa makanan yang baru saja dibawa seseorang.
Darrien mengambil salah satunya.
“Elyon bilang ada dessert baru.”
Ia menatap Fiona.
“Kalau kau bangun sekarang…”
Ia berpikir sebentar.
“…aku akan membawamu ke sana.”
Tetap tidak ada reaksi.
Darrien menggigit sedikit dessert tersebut.
Kemudian mengangguk sendiri.
“Lumayan.”
Ia berhenti.
“…tapi mungkin kau akan bilang aku salah.”
Untuk pertama kalinya malam itu—
sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Jadi bangunlah dan protes.”
Hening.
Darrien kembali menggenggam tangan Fiona.
“Aku menunggumu.”
***
Di dalam mimpi—
Fiona perlahan mengangkat wajahnya.
Air mata masih membasahi pipinya.
Namun untuk pertama kalinya—
ia tersenyum kecil.
Sangat kecil.
Karena suara Darrien seolah masih dapat terdengar dari kejauhan.
*Dessert.*
Ia hampir tertawa di tengah tangisnya.
“Bahkan sekarang…”
Ia mengusap air matanya.
“…kau masih memikirkan makanan.”
Dua peri kecil di sampingnya tertawa.
Fiona memandang langit Taman Kristal.
Namun kali ini—
tatapannya tidak lagi penuh kebingungan.
Ia sudah mengingat semuanya.
Ia tahu siapa dirinya.
Ia tahu siapa Darrien.
Dan sekarang—
ia hanya perlu menemukan keberanian untuk membuka matanya.
***
Di dunia nyata—
cahaya dari gelang dan kalung daun perak tiba-tiba berdenyut sedikit lebih terang.
Darrien tidak menyadarinya.
Namun jari Fiona—
yang selama tujuh hari hanya menggenggam tangannya—
bergerak kecil.
Kali ini berbeda.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia tertidur—
Fiona memberikan reaksi.
Share this novel