171. Perjalanan Kedua

Romance Series 382

BAB 171
PERJALANAN KEDUA

Beberapa hari telah berlalu sejak mimpi Fiona tentang istana kristal.

Namun mimpi itu masih sesekali muncul di pikirannya.

Taman kristal.

Dua peri kecil.

Dan pintu besar yang akhirnya terbuka.

Fiona masih belum memahami semuanya.

Namun untuk sementara—

ia memilih tidak terlalu memikirkannya.

Pagi itu, ia justru merasa bosan.

Ia duduk di ruang tengah sambil menopang dagunya.

“Bosannya…”

Darrien yang berada tidak jauh darinya menoleh.

“Bosan?”

Fiona mengangguk.

“Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

“Ke mana?”

Fiona langsung teringat lembah beberapa hari lalu.

“Tempat piknik kita.”

Darrien tersenyum.

“Lembah?”

“Ya.”

Fiona berdiri.

“Aku suka tempat itu.”

Darrien mengangguk.

“Kalau begitu kita pergi lagi.”

***

Namun ketika mereka bersiap—

Rowan, Kevin, dan Ace ternyata belum kembali.

Ketiganya masih memiliki urusan di luar.

Yang tersisa hanya Elarion.

Fiona menatapnya.

“Kita pergi bertiga saja?”

Elarion menghela napas.

“Sepertinya.”

Darrien mulai mengambil beberapa barang.

Fiona ikut membantu.

Elarion membawa perlengkapan yang diperlukan.

Tidak lama kemudian—

mereka siap berangkat.

“Jangan membawa terlalu banyak.”

Elarion menatap Fiona.

Fiona tersenyum.

“Ini hanya untuk piknik.”

“Terakhir kali kau mengatakan itu, kita membawa setengah dapur.”

Darrien tertawa.

Fiona memalingkan wajah.

“Karena kita lapar.”

***

Mereka akhirnya meninggalkan kediaman.

Tidak ada yang terburu-buru.

Mereka berjalan santai menuju lembah.

Hari itu terasa jauh lebih tenang.

***

Namun dari kejauhan—

beberapa sosok kembali mengikuti.

Musaka berjalan bersama beberapa bawahannya.

Dan kali ini—

Koga ikut berada di antara mereka.

Koga memperhatikan kediaman dari kejauhan.

Kemudian tatapannya beralih kepada Fiona.

Ia mengerutkan kening.

“Dia?”

Musaka mengangguk.

“Ya.”

Koga menatap Fiona beberapa saat.

“Dia hanya manusia.”

Musaka terdiam.

“Ya.”

“Tidak ada aura vampir.”

“Benar.”

“Tidak ada tanda kekuatan besar.”

Musaka kembali diam.

Koga menoleh kepadanya.

“Dan kau mengatakan gadis itu sangat penting?”

Musaka mengangguk.

“Dia penting.”

Koga menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Musaka tidak langsung menjawab.

“Karena…”

Ia berhenti.

“…aku menginginkannya.”

Koga menatapnya dengan tatapan aneh.

“Itu bukan jawaban.”

Musaka mengerutkan kening.

“Kau tidak perlu tahu.”

Koga tersenyum tipis.

“Menarik.”

Ia kembali melihat Fiona.

“Jadi kau meminta bantuanku untuk membunuh seorang pria…”

Tatapannya berpindah kepada Darrien.

“…hanya agar mendapatkan seorang gadis manusia?”

Musaka mengepalkan tangan.

“Jangan meremehkannya.”

Koga mengangkat alis.

“Aku tidak meremehkannya.”

Ia tersenyum.

“Aku hanya bertanya.”

Musaka terdiam.

Koga melanjutkan,

“Dia benar-benar terlihat biasa.”

Musaka menatap Fiona.

Ia juga tahu itu.

Namun ia masih mengingat cahaya kecil yang pernah muncul darinya.

Ada sesuatu.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

“Aku tahu apa yang kulihat.”

Koga menatapnya.

“Dan kau yakin?”

“Ya.”

Koga tertawa kecil.

“Baiklah.”

Ia tidak melanjutkan.

Namun dalam pikirannya—

Musaka menyembunyikan sesuatu.

Dan Koga tidak menyukai orang yang menyembunyikan informasi.

***

Di depan—

Fiona berjalan bersama Darrien dan Elarion.

Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa beberapa vampire sedang mengikuti mereka.

Ia hanya tersenyum ketika melihat jalan menuju lembah.

“Akhirnya.”

Darrien menoleh.

“Kau benar-benar menyukai tempat itu.”

Fiona mengangguk.

“Makhluk-makhluk di sana lucu.”

Elarion tertawa kecil.

“Kalau begitu semoga kali ini mereka tidak mencuri makanan kita.”

Fiona tersenyum.

“Kalau mereka mencuri lagi…”

Ia berhenti.

“…aku akan memberi mereka sedikit.”

Darrien tertawa.

Mereka terus berjalan.

Tanpa mengetahui—

bahwa dari kejauhan,

Koga masih memperhatikan Fiona.

Dan untuk pertama kalinya—

ia mulai bertanya-tanya.

**Apa sebenarnya yang Musaka lihat pada gadis manusia biasa itu?**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience