Series
382
BAB 323 — DI BAWAH CAHAYA BULAN
Malam telah semakin larut.
Dan Fiona—
masih belum kembali ke Istana Lunaris.
Ia tetap duduk di atas cabang pohon di tepi Danau Lunaris.
Tidak melakukan apa pun.
Hanya memandang bulan.
Cahaya bulan perlahan menyentuh wajahnya.
Rambutnya bergerak lembut tertiup angin malam.
Fiona membiarkan dirinya tetap berada di sana.
Tidak bersembunyi lagi.
Tidak berusaha mencari jawaban.
Hanya membiarkan tubuhnya bermandikan cahaya bulan.
Sudah lama sekali—
ia tidak menikmati ketenangan seperti ini.
Namun malam ini terasa berbeda.
Ia tidak ingin kembali.
Bukan karena ia membenci istana.
Bukan karena ia ingin meninggalkan Darrien.
Justru sebaliknya.
Ia takut kembali.
Karena begitu ia kembali—
ia harus menghadapi kenyataan.
Ia harus menjelaskan siapa dirinya.
Dan setelah itu—
tidak ada lagi cara untuk kembali menjadi Fiona yang biasa.
Fiona menatap bulan.
“Kalau aku mengatakan semuanya…”
Ia berhenti.
Air mata kembali mengalir perlahan.
“…apakah kau masih akan melihatku dengan cara yang sama?”
Tidak ada jawaban.
Hanya cahaya bulan.
Fiona menarik lututnya lebih dekat.
“Darrien…”
Ia memejamkan mata.
“Aku benar-benar takut.”
***
Di Istana Lunaris—
Darrien masih menunggu.
Waktu terus berjalan.
Namun Fiona belum kembali.
Ia duduk di dekat jendela kamar Fiona.
Sesekali menatap keluar.
Kemudian melihat pintu.
Kemudian kembali ke jendela.
Sudah terlalu malam.
Darrien akhirnya berdiri.
“Fiona…”
Ia mencoba merasakan keberadaan Fiona seperti biasanya.
Membuka sedikit auranya.
Mencari jejak energi yang familiar.
Namun—
tidak ada.
Darrien mengerutkan kening.
Ia mencoba lagi.
Lebih dalam.
Lebih jauh.
Tetap tidak ada.
Untuk pertama kalinya—
ia gagal merasakan keberadaan Fiona.
Darrien terdiam.
“…”
Ini bukan sesuatu yang biasa terjadi.
Selama ini—
di mana pun Fiona berada, ia selalu bisa merasakan sedikit keberadaannya.
Bahkan ketika Fiona menyembunyikan dirinya.
Namun malam ini—
tidak ada apa-apa.
Seolah-olah Fiona berada sangat jauh darinya.
Darrien perlahan mengepalkan tangannya.
Kemudian pikirannya kembali kepada percakapan mereka di Crystal Garden.
*“Kalau aku menjadi monster… kau masih akan berada di sisiku?”*
Darrien sebelumnya menganggapnya hanya sebuah pertanyaan aneh.
Namun sekarang—
ia mengingat wajah Fiona.
Tatapan matanya.
Cara ia tersenyum setelah mengatakan bahwa itu hanya lelucon.
Dan sekarang ia menyadarinya.
Fiona tidak bercanda.
Wajah itu—
bukan wajah seseorang yang takut menjadi monster.
Itu wajah seseorang yang takut—
**kehilangan orang yang dicintainya.**
Darrien menundukkan kepala.
“Jadi itu yang kau takutkan…”
Ia menghela napas.
Ia seharusnya menjawabnya dengan lebih baik saat itu.
Bukan hanya bercanda.
Bukan hanya mengatakan bahwa ia akan menjadi monster yang lebih berbahaya.
Ia harus memberinya jawaban yang benar-benar ia butuhkan.
Darrien menatap ke luar jendela.
“Kalau kau kembali…”
Ia berhenti sebentar.
“…aku akan menjawabnya dengan benar.”
***
Di kamar lain—
Elyon masih belum tidur.
Catatan mengenai Crystal Hall terbuka di hadapannya.
Namun tidak satu pun halaman yang berhasil memberinya jawaban.
Ia menatap tulisan-tulisan kuno itu.
“Tidak ada…”
Ia menghela napas.
Setelah kejadian hari ini—
ia semakin yakin bahwa Crystal Hall menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka ketahui.
Namun yang paling mengganggunya bukan hanya kristal yang menghilang.
Melainkan—
Fiona.
Elyon menutup bukunya.
“Siapa sebenarnya dirimu…?”
***
Elarion juga masih memikirkan hal yang sama.
Ia duduk sendirian.
Pikirannya kembali kepada ritual sihir yang muncul di bawah kaki Fiona.
Tidak ada chanting.
Tidak ada persiapan.
Namun energi yang muncul—
sangat luar biasa.
Elarion menggeleng.
“Dia bahkan belum menunjukkan seluruh kemampuannya.”
Dan itu membuatnya semakin penasaran.
***
Ace berbaring di tempat tidurnya.
Namun ia tidak bisa tidur.
Ia menatap langit-langit.
“Crystal Hall…”
Ia menghela napas.
“Kristal berubah menjadi anting…”
Ia menggeleng.
“Dan Fiona bilang dia akan menjelaskan semuanya.”
Ace menarik selimut.
“Besok pasti akan menjadi hari yang panjang.”
***
Rowan memiliki pikiran yang hampir sama.
Ia duduk di dekat jendela.
Memandang malam yang sunyi.
Namun pikirannya justru tertuju pada Fiona.
Ia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu.
Namun—
ia tidak merasa bahwa Fiona berniat menyakiti mereka.
“Semoga dia baik-baik saja.”
Hanya itu yang bisa ia katakan.
***
Kevin—
berbeda.
Ia tidak banyak berpikir.
Ia hanya mengingat satu hal.
Fiona pergi sendirian.
Dan Darrien masih menunggunya.
Kevin tahu bagaimana Darrien akan bertindak jika Fiona tidak kembali sampai terlalu larut.
Ia hanya berharap—
Fiona segera pulang.
***
Kembali ke Danau Lunaris—
Fiona masih memandang bulan.
Malam semakin dalam.
Namun ia belum bergerak.
Ia mengusap air matanya.
Kemudian tersenyum kecil.
“Darrien…”
Ia berbisik.
“Aku ingin tetap menjadi Fiona sedikit lebih lama.”
Ia menatap bulan sekali lagi.
“Jadi…”
Fiona menarik napas panjang.
“…beri aku sedikit waktu.”
Di tempat lain—
Darrien masih menunggu.
Tidak tahu di mana Fiona berada.
Namun untuk pertama kalinya—
ia mulai memahami bahwa pertanyaan Fiona bukanlah tentang monster.
Itu adalah pertanyaan tentang cinta.
Tentang penerimaan.
Dan tentang ketakutan terbesar Fiona—
**bahwa setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya, Darrien mungkin akan meninggalkannya.**
Share this novel