Series
94
BAB 82
RAHASIA YANG MULAI TERBUKA
Dua hari berlalu.
Fiona sudah bisa duduk sendiri.
Lukanya masih terasa sakit, tetapi jauh lebih baik.
Darrien hampir tidak pernah meninggalkannya.
Bahkan ketika Fiona hanya ingin mengambil air—
Darrien ikut.
“Darrien.”
“Hm?”
“Aku hanya ingin minum.”
“Aku ikut.”
“Aku bisa sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa ikut?”
Darrien terdiam.
“Karena aku mau.”
Fiona menatapnya.
Kemudian tertawa kecil.
“Baiklah.”
***
Di luar gua, Kevin sedang berbicara dengan Ace.
“Sudah waktunya kita pergi.”
Ace mengangguk.
“Ardika masih mencari mereka.”
“Dan Varian?”
“Sudah mundur.”
Kevin menghela napas.
“Bagus.”
Namun Ace kemudian berkata,
“Ada masalah lain.”
Kevin menatapnya.
“Apa?”
“Marcus.”
Kevin terdiam.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia tidak ikut mengejar.”
“Kenapa?”
Ace menggeleng.
“Tidak tahu.”
Kevin memandang pegunungan.
“Dia tahu sesuatu.”
***
Di dalam gua—
Fiona sedang duduk sambil memandang bunga kecil yang masih disimpannya.
Darrien duduk di sampingnya.
“Bunga itu masih hidup?”
Fiona melihatnya.
“Tidak.”
Darrien tersenyum.
“Lalu kenapa masih disimpan?”
“Karena itu darimu.”
Darrien terdiam.
Fiona menyelipkan bunga itu kembali.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Wajah Darrien sedikit memerah.
Fiona tertawa.
“Kau malu?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Darrien memalingkan wajah.
“Aku hanya…”
Ia berhenti.
Fiona tersenyum.
“Terima kasih sudah datang.”
Darrien kembali menatapnya.
“Aku akan selalu datang.”
Fiona terdiam.
Kemudian berkata pelan,
“Jangan terlalu sering membuatku khawatir.”
Darrien mengangguk.
“Kalau begitu jangan mati.”
Fiona menatapnya.
“Darrien!”
“Apa?”
“Itu bukan sesuatu yang bisa aku janjikan.”
Darrien terdiam.
Fiona kemudian tersenyum kecil.
“Tapi aku akan berusaha.”
Darrien menggenggam tangannya.
“Itu cukup.”
***
Beberapa saat kemudian—
Elarion masuk.
“Kita berangkat besok.”
Fiona mengangguk.
Darrien bertanya,
“Ke mana?”
“Ke tempat yang lebih aman.”
Elarion menatap Darrien.
“Dan kau perlu belajar sesuatu.”
“Apa?”
“Jangan mengandalkan kekuatanmu saja.”
Darrien menghela napas.
“Guru lagi?”
Kevin muncul di pintu.
“Ya.”
Fiona tertawa.
“Kasihan.”
Darrien menatapnya.
“Kau memihak guru?”
“Sedikit.”
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
***
Malam itu—
Darrien keluar dari gua.
Ia berdiri sendirian di bawah langit.
Sensing-nya menyebar.
Ia bisa merasakan Kevin.
Elarion.
Ace.
Fiona.
Kemudian…
sesuatu yang lain.
Jauh.
Sangat jauh.
Sebuah aura yang tidak asing lagi.
Darrien membuka mata.
“Dia…”
Ace muncul di belakangnya.
“Kau merasakannya?”
Darrien mengangguk.
“Pria itu.”
Ace menatap kegelapan.
“Ya.”
Darrien mengerutkan kening.
“Dia masih mengikuti kita.”
Ace tidak menjawab.
Namun dari jauh…
di antara pepohonan…
sebuah bayangan berdiri.
Mengawasi.
Tidak mendekat.
Tidak menyerang.
Hanya menunggu.
Dan kali ini—
Darrien tidak mengejarnya.
Ia hanya menatap balik.
Karena setelah semua yang terjadi…
ia tahu satu hal.
**Rahasia tentang dirinya sendiri tidak akan bisa disembunyikan selamanya.**
Share this novel