327. Sosok Dari Masa Lalu

Romance Series 382

BAB 327 — SOSOK DARI MASA LALU

Fiona masih berdiri di tepi Danau Lunaris.

Ia menghela napas panjang.

“Baiklah…”

Ia menatap ke arah Istana Lunaris.

“Aku akan pergi setelah semua kebenaran selesai disampaikan.”

Ia berhenti sebentar.

Kemudian menambahkan dengan suara kecil,

“Tanpa harus menghadapi Darrien.”

Fiona mengangguk pada dirinya sendiri.

“Setidaknya… untuk hari ini.”

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa rencana itu adalah pilihan terbaik.

Namun jauh di dalam hatinya—

ia tahu dirinya hanya sedang melarikan diri dari rasa takut.

***

Sementara itu—

di Istana Lunaris.

Zeith dan Seraphine telah mendengar seluruh laporan dari Elyon dan Sylvester.

Setelah berdiskusi cukup lama—

Zeith akhirnya berdiri.

“Kita akan kembali ke Crystal Hall.”

Seraphine mengangguk.

“Mungkin masih ada sesuatu yang tertinggal di sana.”

Elyon setuju.

“Jika ada jejak energi yang tersisa, kita mungkin bisa menemukan petunjuk.”

Elarion juga mengangguk.

“Kita harus memeriksanya sebelum energinya benar-benar hilang.”

Ace mengangkat bahu.

“Baiklah.”

Rowan tersenyum tipis.

“Aku ikut.”

Kevin mengangguk.

Darrien juga berdiri.

Tidak banyak bicara.

Namun pikirannya masih tertuju kepada Fiona.

Jika mereka menemukan sesuatu yang bisa membantu—

mungkin mereka juga bisa menemukan Fiona.

Akhirnya—

mereka semua bergerak menuju Crystal Hall.

***

Pintu besar Crystal Hall kembali dibuka.

**KREEEKK…**

Semua masuk.

Namun kali ini—

ruangan itu terlihat berbeda.

Jauh lebih luas.

Jauh lebih kosong.

Kristal utama yang sebelumnya berdiri di tengah ruangan—

sudah tidak ada.

Hanya ruang kosong yang tersisa.

Ace memandang sekeliling.

“Sekarang tempat ini terlihat jauh lebih besar.”

Rowan mengangguk.

“Karena kristal utamanya sudah hilang.”

Elarion memperhatikan lantai.

“Energinya juga berubah.”

Sylvester berjalan menuju bagian tengah.

“Seolah-olah tempat ini baru saja kehilangan sesuatu yang sangat penting.”

Elyon mengamati setiap sudut ruangan.

“Kita harus mencari jejak sihir.”

Zeith dan Seraphine juga memperhatikan keadaan sekitar.

Darrien berdiri agak jauh dari yang lain.

Tatapannya tertuju pada ruang kosong di tengah Crystal Hall.

Ia masih mengingat Fiona berdiri di sana.

Kemudian—

sesuatu terjadi.

**WHOOM!**

Sebuah gelombang energi menyapu seluruh ruangan.

Semua orang langsung menoleh.

“Apa itu?!”

Ace mundur satu langkah.

Rowan mengangkat tangannya.

Kevin langsung bersiap.

Elarion menatap lantai.

“Lingkaran sihir!”

Di tengah Crystal Hall—

cahaya mulai muncul.

Sebuah lingkaran besar perlahan terbentuk.

Garis-garis kuno muncul satu demi satu.

Kemudian—

sebuah simbol terbentuk di tengahnya.

**Silver Leaf.**

Cahaya semakin terang.

Elyon membeku.

Sylvester menatap tanpa berkedip.

Zeith dan Seraphine juga terdiam.

Darrien melangkah maju.

“Apa yang sedang terjadi?”

Tidak ada yang menjawab.

Energi semakin kuat.

Kemudian—

**BOOM!**

Cahaya meledak tanpa suara.

Sebuah sosok muncul di tengah lingkaran.

Seorang wanita.

Ia berdiri dengan tenang.

Rambutnya bergerak perlahan tertiup energi yang masih tersisa.

Pakaiannya berbeda dari pakaian yang biasa mereka lihat di Lunaris.

Sederhana.

Namun memiliki aura kuno yang sulit dijelaskan.

Wajahnya—

anehnya familiar.

Namun juga terasa sangat jauh.

Wanita itu membuka matanya.

Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.

Zeith.

Seraphine.

Elyon.

Elarion.

Sylvester.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Dan—

Darrien.

Tatapannya berhenti sesaat pada Darrien.

Ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang sulit dibaca.

Kerinduan?

Kesedihan?

Atau—

sebuah kenangan yang terlalu lama terkubur?

Tidak seorang pun tahu.

Wanita itu kemudian melihat sekeliling Crystal Hall.

Ia menarik napas perlahan.

“I knew this time would come.”

Suaranya lembut.

Namun terdengar sangat tua.

Seolah-olah suara itu telah melewati ribuan tahun.

Elyon menatapnya dengan penuh kewaspadaan.

“Siapa kau?”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihat lingkaran sihir di bawah kakinya.

Simbol Silver Leaf masih bersinar.

Energi yang keluar dari tubuhnya—

begitu murni.

Begitu bersih.

Dan begitu tua—

hingga bahkan Elyon tidak mampu menentukan asalnya.

Elarion menahan napas.

“Energinya…”

Ia tidak melanjutkan.

Sylvester menatap wanita itu dengan ekspresi tidak percaya.

“Aura ini…”

Zeith juga merasakan hal yang sama.

Bukan aura seorang vampire.

Bukan aura seorang dark elf.

Bukan pula aura seorang light elf biasa.

Sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang bahkan terasa lebih tua daripada kerajaan mereka.

Darrien tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya menatap wanita itu.

Entah kenapa—

ada sesuatu dalam dirinya yang terasa familiar.

Namun ia tidak tahu apa.

Wanita itu perlahan mengangkat tangannya.

Cahaya Silver Leaf mulai menghilang.

Lingkaran sihir perlahan memudar dari lantai.

Satu garis.

Kemudian garis lainnya.

Sampai akhirnya—

seluruh cahaya lenyap.

Namun wanita itu tetap berdiri di sana.

Tatapannya kembali berubah.

Kali ini—

lebih serius.

Lebih berat.

Seolah-olah ia baru saja menyadari sesuatu.

Ia melihat semua orang di hadapannya.

Kemudian—

matanya kembali berhenti pada Darrien.

Tidak ada seorang pun yang memahami hubungan di antara mereka.

Tidak ada seorang pun yang tahu siapa wanita itu.

Namun satu hal sudah jelas.

Sosok yang baru saja muncul dari lingkaran sihir itu—

bukan seseorang dari zaman mereka.

Dan aura yang dibawanya—

jauh lebih tua daripada apa pun yang pernah mereka kenal.

Keheningan memenuhi Crystal Hall.

Tidak seorang pun bergerak.

Tidak seorang pun berbicara.

Sementara wanita itu berdiri di tengah ruangan—

dengan tatapan yang menyimpan ribuan tahun cerita.

Dan untuk pertama kalinya—

mereka berhadapan langsung dengan sosok dari masa lalu yang selama ini hanya hidup di balik sejarah yang telah dihapus.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience