345. Kenapa Kalian Melihatku Seperti Itu

Romance Completed 594

BAB 345 — KENAPA KALIAN MELIHATKU SEPERTI ITU?

DI AREA LATIHAN

Suara benturan terakhir terdengar di seluruh area latihan.

**BOOM!**

Darrien mundur beberapa langkah.

Kevin juga berhenti.

Keduanya berdiri diam untuk beberapa saat, mengatur napas.

Atau lebih tepatnya—

berhenti bertarung.

Karena meskipun mereka menyebutnya latihan…

dari sudut pandang siapa pun yang melihatnya dari jauh—

itu terlihat seperti pertarungan sungguhan.

Ace, Rowan, dan Elarion masih berdiri di sisi lapangan.

Mereka telah menyaksikan latihan itu sejak pagi.

Dan jujur saja—

mereka mulai tidak yakin apakah Darrien masih memiliki energi yang tersisa.

Kevin mengusap tangannya.

“Cukup untuk hari ini.”

Darrien menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai—

ia tidak langsung berkata,

“Lagi.”

Sebaliknya, Darrien berdiri diam.

Matanya sedikit berubah.

Kevin menyadarinya.

“Ada apa?”

Darrien menoleh ke arah istana.

“Aku merasakan mereka.”

Ace mengangkat alis.

“Siapa?”

Darrien menjawab,

“Orang tuaku.”

Rowan langsung memahami.

“Edward dan Gloria?”

Darrien mengangguk.

“Tapi…”

Ia memusatkan sensing-nya sedikit lebih jauh.

“Ada Zeith dan Seraphine juga.”

Elarion mengangguk.

“Berarti mereka sedang berada di ruang kerajaan.”

Darrien terdiam.

Ada sedikit rasa lega dalam ekspresinya.

Ia sudah lama mengetahui kebenaran tentang Edward dan Gloria.

Namun tetap saja—

mengetahui kedua orang tuanya berada di dekatnya membuat sesuatu dalam dirinya terasa berbeda.

“Aku perlu beristirahat.”

Kevin mengangguk.

“Baik.”

Darrien menatap Kevin.

“Kita lanjutkan nanti.”

Kevin tersenyum tipis.

“Kapan pun kau mau.”

Darrien membalas senyumnya.

“Aku akan datang.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien kemudian berbalik.

Ace, Rowan, dan Elarion memperhatikannya.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Mereka hanya saling bertukar pandang.

Karena mereka semua tahu—

Darrien tidak hanya sedang pergi menemui kedua orang tuanya.

Ia juga akan berada sangat dekat dengan Fiona.

Dan mereka tidak tahu apakah Fiona akan tetap berada di sana.

***

DI RUANG DISKUSI

Percakapan masih berlangsung.

Elyon sedang menjelaskan beberapa bagian sejarah yang perlu ditulis kembali.

Zeith dan Edward sedang mendiskusikan urutan catatan kerajaan.

Seraphine dan Gloria ikut memberikan pendapat.

Fiona masih berdiri di dekat jendela.

Ia mendengarkan.

Namun tiba-tiba—

ia berhenti.

Matanya sedikit membesar.

Sebuah aura yang sangat ia kenal—

mendekat.

Tidak mungkin salah.

Darrien.

Fiona memejamkan mata.

Ia bisa merasakan langkahnya.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Beberapa detik kemudian—

Fiona membuka mata.

Wajahnya berubah.

“Dia datang.”

Elyon menoleh.

“Siapa?”

Fiona terdiam.

“…Darrien.”

Semua langsung diam.

Fiona menatap pintu.

Langkah kaki semakin dekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Jantung Fiona mulai berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut.

Bukan karena bahaya.

Melainkan karena ia kembali mengingat kejadian kemarin.

Pelukan.

Tatapan.

Semua orang yang melihat.

Wajahnya perlahan memerah.

“Tidak.”

Ia bergumam.

“Aku belum siap.”

Seraphine mengangkat alis.

“Fiona?”

Fiona langsung mundur satu langkah.

“Aku akan pergi sebentar.”

Edward mengerutkan kening.

“Ke mana?”

Fiona tidak menjawab.

Ia langsung menggunakan sihirnya.

Cahaya Silver Leaf muncul.

**WHOOSH!**

Fiona menghilang.

Semua yang berada di ruangan hanya bisa menatap tempat ia berdiri beberapa detik sebelumnya.

“…”

Zeith berkedip.

Seraphine juga.

Edward menghela napas.

Gloria menutup mulutnya untuk menahan senyum.

Elyon perlahan menyadari sesuatu.

“Ah.”

Elarion tidak ada di sana untuk mengomentari.

Namun ekspresi Elyon sudah cukup.

Zeith melihat pintu.

Kemudian melihat tempat Fiona tadi berdiri.

“Dia merasakan Darrien.”

Seraphine tersenyum kecil.

“Dan melarikan diri.”

Gloria tertawa pelan.

“Masih malu.”

Edward menggeleng.

“Setelah ribuan tahun?”

Seraphine menjawab,

“Sepertinya rasa malu tidak mengenal usia.”

Elyon hanya menghela napas.

“Jangan katakan apa pun ketika Darrien masuk.”

Zeith mengangkat alis.

“Kenapa?”

Elyon menatapnya.

“Karena kalau dia tahu Fiona melarikan diri karena dirinya…”

Ia berhenti.

“…aku tidak ingin membayangkan reaksinya.”

Semua terdiam.

Kemudian—

**KLIK.**

Pintu terbuka.

Darrien masuk.

Ia melihat semua orang.

Edward.

Gloria.

Zeith.

Seraphine.

Elyon.

Darrien tersenyum.

“Salam.”

Edward langsung berdiri.

“Darrien.”

Gloria juga tersenyum.

“Anakku.”

Darrien berjalan mendekat.

Namun setelah beberapa langkah—

ia menyadari sesuatu.

Semua orang melihatnya dengan ekspresi aneh.

Bukan marah.

Bukan terkejut.

Lebih seperti—

*Oh… jadi begitu.*

Darrien berhenti.

Ia melihat Zeith.

Kemudian Seraphine.

Kemudian Edward.

Gloria.

Elyon.

Semuanya.

Darrien mengerutkan kening.

“…Kenapa kalian melihatku seperti itu?”

Tidak ada yang menjawab.

Edward batuk kecil.

Gloria menahan senyum.

Zeith memalingkan wajah.

Seraphine menggigit bibirnya.

Elyon hanya tersenyum tipis.

Darrien semakin curiga.

“Ada apa?”

Elyon akhirnya berkata,

“Tidak ada.”

Darrien menyipitkan mata.

“Kalau tidak ada, kenapa semuanya terlihat seperti baru mengetahui sesuatu?”

Zeith hampir tertawa.

Seraphine segera menatapnya.

Jangan.

Zeith mengerti.

Ia kembali memasang ekspresi serius.

Darrien menghela napas.

Kemudian ia kembali menatap Edward dan Gloria.

“Aku merasakan kalian berada di sini.”

Edward mengangguk.

“Kami memang baru kembali dari Veyth.”

Darrien tersenyum.

“Kenapa datang ke Lunaris?”

Gloria menjawab,

“Kami ingin melanjutkan pembicaraan tentang sejarah.”

Darrien mengangguk.

“Sejarah?”

Elyon menjelaskan,

“Kami sedang menyusun kembali catatan tentang Light Elf dan Dark Elf.”

Darrien terdiam.

Kemudian menatap sekeliling.

“Dan Fiona?”

Ruangan kembali sunyi.

Darrien menunggu.

Tidak ada jawaban.

Ia mengerutkan kening.

“Tadi dia ada di sini, bukan?”

Semua orang kembali saling memandang.

Darrien:

“….”

Elyon akhirnya menjawab dengan tenang.

“Ya.”

“Lalu?”

Elyon menunjuk tempat Fiona tadi berdiri.

“Dia baru saja pergi.”

Darrien melihat ke tempat itu.

Kemudian ke arah pintu.

Kemudian kembali kepada mereka.

“Pergi ke mana?”

Tidak ada yang menjawab.

Darrien semakin bingung.

“Kenapa?”

Zeith menundukkan kepalanya sedikit.

Seraphine menahan tawa.

Gloria hampir tidak bisa menahan senyumnya.

Edward hanya menghela napas.

Darrien akhirnya menyadari sesuatu.

“…Dia menghindariku lagi?”

Keheningan.

Itu sudah menjadi jawaban.

Darrien memejamkan mata sebentar.

Lalu menghela napas.

“Fiona…”

Ia menggeleng kecil.

Namun kali ini—

tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya senyum tipis.

Seolah ia mulai memahami kebiasaan baru istrinya.

“Baiklah.”

Darrien kemudian menarik kursi.

“Aku akan menunggu.”

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak mengejarnya.

Ia hanya duduk.

Menunggu sampai Fiona sendiri siap kembali.

Sementara semua orang di ruangan—

diam-diam tersenyum.

Karena ternyata—

setelah ribuan tahun,

Saintess yang mampu menghadapi perang dan Forbidden Magic itu…

masih bisa dibuat panik hanya dengan satu orang.

Darrien.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience