452. Waktu Untuk Beristirahat

Romance Completed 594

BAB 452 — WAKTU UNTUK BERISTIRAHAT

Keheningan akhirnya turun di antara rombongan Veyth.

Mereka berdiri jauh dari wilayah Shadowcresent, di sebuah dataran berbatu yang cukup aman untuk melakukan teleportasi.

Tidak ada suara langkah kaki.

Tidak ada akar yang bergerak.

Tidak ada rune aneh yang tiba-tiba muncul dari tanah.

Tidak ada teleportasi paksa.

Tidak ada Mufasa yang muncul dari balik pohon.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

mereka benar-benar aman.

Kevin menghela napas panjang.

Ia memandang satu per satu anggota timnya sebelum akhirnya berkata,

"Kurasa sudah cukup."

Ace langsung menoleh.

"Cukup?"

Kevin mengangguk.

"Ya."

Ia memasukkan beberapa catatan kembali ke dalam tasnya.

"Kita sudah mendapatkan cukup banyak informasi dari Shadowcresent."

Elarion mengangguk perlahan.

"Terutama mengenai jaringan sihir wilayah mereka."

Rowan menambahkan,

"Dan kita sekarang tahu bahwa sistem pertahanan mereka bukan sekadar penghalang biasa."

Elyon diam sebentar.

Ia masih memikirkan semua yang mereka lihat.

Rune.

Ruang yang berubah.

Jalur yang tidak pernah sama.

Dan terutama—

Raizen.

Namun akhirnya ia menghela napas.

"Kita memang membutuhkan waktu untuk menganalisis semuanya."

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

Tatapannya masih tertuju ke arah pegunungan jauh di belakang mereka.

Di balik sana ada Shadowcresent.

Dan Fiona.

Untuk sesaat, tangannya mengepal.

Namun kali ini ia tidak bergerak maju.

Kevin menatapnya.

"Darrien."

Darrien menoleh.

"Kita pulang dulu."

Hening sesaat.

Kemudian Kevin berkata dengan suara tegas,

"Kita sudah mendapatkan cukup informasi di sini. Saatnya beristirahat."

Ia memandang seluruh tim.

"Setelah itu, kita lanjutkan langkah berikutnya."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Untuk membawa Fiona kembali."

Darrien menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk.

"Ya."

Elyon tersenyum tipis.

"Kita akan membutuhkan strategi yang jauh lebih baik untuk percobaan berikutnya."

Ace mengangkat tangannya.

"Aku setuju."

Semua menoleh kepadanya.

Ace memasang wajah serius.

"Sangat setuju."

Ia menunjuk pegunungan di belakang mereka.

"Aku sudah cukup dekat dengan gunung itu untuk seumur hidup."

Kevin menahan tawa.

Rowan menghela napas.

"Berlebihan."

"Berlebihan?"

Ace menunjuk dirinya sendiri.

"Aku hampir dipindahkan oleh gunung!"

"Gunung tidak memindahkanmu."

"Ruangnya yang memindahkan."

"Itu tidak membuatnya lebih masuk akal."

"Justru itu masalahnya!"

Elarion menggeleng sambil tersenyum kecil.

Darrien pun akhirnya menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki wilayah Shadowcresent—

ketegangan di tubuhnya sedikit berkurang.

Bukan karena semuanya sudah selesai.

Justru sebaliknya.

Mereka baru saja memulai babak berikutnya.

Elyon melangkah ke tengah kelompok.

"Baiklah."

Ia mengangkat satu tangan.

Cahaya sihir mulai berkumpul di bawah kaki mereka.

Sebuah lingkaran teleportasi perlahan terbentuk.

Garis-garis cahaya menyebar membentuk simbol kuno.

Angin tipis berputar di sekitar mereka.

Elyon memandang semua anggota tim.

"Siap?"

Ace langsung mengangkat tangan.

"Tidak."

Kevin menatapnya.

"Kau tetap ikut."

"Aku tahu."

Ace mendesah dramatis.

"Sayangnya."

Lingkaran teleportasi mulai bersinar lebih terang.

Darrien menatap Shadowcresent sekali lagi.

Tidak ada kata-kata.

Hanya satu pikiran yang terus berada di dalam hatinya.

Fiona.

Kemudian—

WHOOSH!

Cahaya memenuhi dataran.

Dalam sekejap, seluruh kelompok menghilang.

Kembali ke Veyth.

Kembali untuk beristirahat.

Setidaknya—

untuk hari ini.

---

Di sisi lain...

Jauh di dalam Shadowcresent.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari—

Mufasa tidak perlu berdiri di atas gunung.

Ia tidak perlu mengawasi jalur.

Tidak perlu memeriksa rune.

Tidak perlu mengubah posisi pasukan.

Tidak perlu memindahkan jalan.

Tidak perlu menghadapi Ace.

Dan itu mungkin bagian yang paling membuatnya bahagia.

Mufasa berdiri di depan para penjaga dan penyihir vampir yang selama ini membantunya.

Ia melihat wajah mereka satu per satu.

Semua tampak kelelahan.

Sangat kelelahan.

Mufasa menghela napas.

"Mereka sudah pergi."

Salah satu penjaga langsung menjatuhkan diri duduk di tanah.

"Syukurlah..."

Yang lain ikut duduk.

Seorang penyihir vampir bahkan langsung bersandar pada batu besar.

"Untuk sementara."

Mufasa mengangguk.

"Untuk sementara."

Semua terdiam.

Kemudian salah satu penjaga berkata,

"Kita benar-benar bisa istirahat?"

Mufasa menatapnya.

"Ya."

Penjaga itu hampir menangis.

"Terima kasih..."

Mufasa memijat pelipisnya.

"Tapi tetap berjaga."

Semua langsung menatapnya.

"..."

Mufasa tersenyum tipis.

"Aku bercanda."

Hening.

Kemudian seluruh kelompok menghela napas lega.

Akhirnya.

Mereka mendapatkan waktu istirahat panjang.

Setidaknya—

sampai Veyth kembali.

Karena mereka semua tahu satu hal.

Veyth tidak akan menyerah.

---

Sementara itu...

Di dalam istana Shadowcresent.

Di balkon kamar Raizen—

suasana jauh lebih tenang.

Cahaya merah dari crimson moon menyelimuti balkon dengan warna lembut.

Angin malam bergerak perlahan melewati tirai.

Fiona duduk bersandar di dada Raizen.

Kedua lengannya melingkar santai di tubuhnya.

Raizen sendiri duduk bersandar pada kursi besar di balkon, satu lengannya melingkari pinggang Fiona.

Tenang.

Hangat.

Nyaman.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Fiona mendongak.

Ia menatap wajah Raizen.

Kemudian matanya turun ke bagian pakaian yang masih sedikit robek.

Ekspresinya langsung berubah.

"Raizen."

"Hm?"

"Kau benar-benar ceroboh."

Raizen menatapnya.

"...Ceroboh?"

"Ya."

Fiona mengerutkan kening.

"Mereka menyerangmu berkali-kali."

Raizen diam.

Fiona menyentuh bagian pakaiannya yang robek.

"Kau bahkan sampai terluka."

Raizen menatap wajahnya.

Ia tahu.

Ia tahu persis bagaimana luka itu terjadi.

Ia tahu bahwa ia sengaja membiarkan semua itu terjadi.

Namun Fiona tidak tahu.

Bagi Fiona—

Raizen hanya seorang pria yang terlalu percaya diri dan terlalu santai menghadapi sekelompok musuh.

Fiona mendengus kecil.

"Kalau kau tahu mereka akan datang, kenapa tidak membiarkan Mufasa yang mengurus mereka?"

Raizen menjawab tenang.

"Karena aku ingin mengurusnya sendiri."

"Itulah masalahnya."

Fiona memelototinya.

"Kau terlalu percaya diri."

Raizen terdiam beberapa detik.

Kemudian sudut bibirnya naik sedikit.

"Benarkah?"

"Benar."

Fiona mencubit pelan lengannya.

Raizen menatap tangannya.

Lalu menatap Fiona.

"Jangan mencubit."

"Bagus."

Fiona kembali bersandar di dadanya.

"Kalau begitu jangan membuatku khawatir lagi."

Raizen menatapnya dalam diam.

Cahaya merah bulan menyentuh wajah Fiona.

Rambutnya bergerak perlahan tertiup angin.

Raizen mengencangkan sedikit pelukannya.

"Baik."

Fiona tersenyum kecil.

"Janji?"

Raizen menunduk.

"Janji."

Namun matanya menyimpan sesuatu yang tidak Fiona ketahui.

Ia memang telah membiarkan Veyth melukainya.

Ia memang telah membiarkan mereka mencapai istana.

Dan ia memang telah mendapatkan jawaban yang ingin diketahuinya.

Fiona memilihnya.

Tanpa ragu.

Tanpa mengenali Darrien.

Namun Raizen tidak mengatakan semua itu.

Ia hanya membiarkan Fiona tetap bersandar di dadanya.

Fiona akhirnya menguap kecil.

"Ngantuk..."

Raizen tersenyum.

"Kalau begitu tidur."

Fiona menggeleng.

"Di sini saja."

"Di balkon?"

"Mm."

Ia semakin merapat.

"Nyaman."

Raizen menatap crimson moon.

Kemudian kembali menatap Fiona.

"Kalau begitu di sini."

Fiona tersenyum puas.

Dan malam Shadowcresent kembali tenang.

Setidaknya—

untuk malam ini.

Karena di Veyth...

sebuah kelompok yang sama sekali tidak berniat menyerah sedang memulai hari istirahat mereka.

Dan setelah mereka selesai beristirahat—

mereka akan kembali.

Untuk Fiona.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience