Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 490 — AIR MATA YANG TIDAK INGIN TERLIHAT
Cahaya putih memenuhi seluruh ruang.
Retakan menjalar di permukaan dunia ilusi.
Satu demi satu—
pecahan cahaya mulai berjatuhan seperti serpihan kaca.
Darrien berdiri di tengah danau yang perlahan menghilang.
Sosok Fiona di hadapannya masih tersenyum.
Wajah yang selama ini ia rindukan.
Tatapan yang selama ribuan tahun tersimpan dalam ingatannya.
Suara yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Semuanya begitu nyata.
Terlalu nyata.
Namun Darrien sudah tahu.
Itu bukan Fiona.
Tangannya perlahan mengepal.
"Maaf..."
Suara Darrien terdengar sangat pelan.
"Aku tidak bisa tinggal di sini."
Sosok Fiona tersenyum sedih.
"Kenapa?"
Darrien menatapnya.
Karena selama beberapa saat terakhir...
ia benar-benar ingin percaya.
Ia ingin menyerah.
Ia ingin tinggal di tempat itu.
Di tepi danau.
Bersama Fiona yang masih mengenalnya.
Bersama wanita yang mencintainya.
Tanpa Raizen.
Tanpa Shadowcresent.
Tanpa pertempuran.
Tanpa rasa kehilangan.
Hanya mereka berdua.
Tetapi kebahagiaan seperti itu bukan miliknya.
Bukan lagi.
"Aku harus menemukannya."
Darrien menahan napas.
"Yang asli."
Sosok Fiona perlahan mengangkat tangannya.
"Kalau begitu..."
Suaranya berubah semakin samar.
"...temukan aku."
Mata Darrien melebar.
Kalimat itu—
terasa berbeda.
Bukan seperti ancaman.
Bukan seperti jebakan.
Seolah ada sesuatu di balik suara tersebut.
Namun sebelum Darrien dapat memahami apa artinya—
seluruh ilusi pecah.
DUARRR!
Cahaya meledak.
Tubuh Darrien terlempar keluar dari dunia ilusi.
Kesadarannya kembali ke dunia nyata secara paksa.
Tubuhnya jatuh tanpa kendali.
BRAK!
Tubuh Darrien menghantam tanah clearing.
Kedua telapak tangannya lebih dulu menahan tubuhnya, tetapi kekuatannya tidak cukup.
Satu lutut menghantam tanah.
Kemudian tubuhnya terjatuh ke depan.
Darrien tidak bergerak.
Untuk beberapa detik—
ia hanya terbaring di atas tanah.
Napasnya berat.
Tidak teratur.
Dadanya naik turun dengan cepat.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Jarinya perlahan mencengkeram rumput di bawah tangannya.
Seolah ia sedang memastikan bahwa tanah ini benar-benar nyata.
Bukan danau.
Bukan dunia ilusi.
Bukan mimpi.
Dunia nyata.
Ia masih berada di Shadowcresent.
Dan Fiona masih berada di istana itu.
Tanpa dirinya.
Darrien memejamkan mata.
Untuk sesaat, wajah Fiona dari ilusi tadi kembali muncul dalam pikirannya.
Senyumnya.
Suaranya.
Tatapan matanya.
Dan kalimat terakhir itu.
*Temukan aku.*
Napas Darrien tercekat.
"Fiona..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Kevin langsung berlari mendekat.
"Darrien!"
Namun Darrien mengangkat satu tangan.
Bukan untuk menyerang.
Hanya untuk meminta mereka berhenti.
"Jangan..."
Kevin berhenti beberapa langkah darinya.
"Darrien, kau baik-baik saja?"
Darrien tidak menjawab.
Ia perlahan mencoba mendorong tubuhnya ke atas.
Lengannya gemetar.
Ia berhasil mengangkat tubuhnya menjadi setengah duduk.
Kemudian satu lutut.
Napasnya masih berat.
Kevin hendak membantu.
Tetapi Darrien kembali mengangkat tangannya.
"Aku bisa."
Suaranya serak.
Ia memaksa dirinya berdiri.
Kedua kakinya sempat kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya bergoyang.
Kevin refleks maju satu langkah.
"Darrien—"
"Aku bilang..."
Darrien menarik napas panjang.
"...aku bisa."
Akhirnya ia berhasil berdiri.
Namun tubuhnya masih terlihat lemah.
Bahunya turun.
Napasnya belum stabil.
Lalu—
Darrien mengangkat satu tangannya.
Menutup kedua matanya.
Tangannya melintang di wajahnya.
Tidak ada yang mengerti mengapa.
Sampai Kevin melihat bahunya bergetar pelan.
Darrien tidak ingin mereka melihat wajahnya.
Tidak ingin mereka melihat—
air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Satu tetes.
Kemudian satu lagi.
Ia menggigit bagian dalam bibirnya.
Berusaha menghentikannya.
Tidak berhasil.
Selama ribuan tahun—
ia telah menghadapi banyak hal.
Pertarungan.
Kematian.
Kehilangan.
Kesepian.
Bahkan kekuatan kuno yang jauh melampaui dirinya.
Namun melihat Fiona dalam ilusi tadi—
dan kemudian kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya—
terasa jauh lebih menyakitkan.
Ace yang biasanya paling cepat bercanda kini terdiam.
Tidak ada satu pun lelucon keluar dari mulutnya.
Rowan menurunkan pandangan.
Elarion hanya berdiri diam.
Elyon juga tidak mengatakan apa-apa.
Kevin mengepalkan tangannya.
Mereka semua mengerti.
Darrien tidak sedang terluka secara fisik.
Luka itu berada jauh lebih dalam.
Beberapa saat berlalu.
Akhirnya Darrien berbicara.
"Aku melihatnya."
Suaranya bergetar.
"Fiona."
Tidak ada yang menyela.
"Aku melihatnya seperti dulu."
Darrien menurunkan tangannya sedikit.
Matanya masih tertutup.
"Dia tersenyum kepadaku."
Ia tertawa kecil.
Namun suara itu sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Untuk beberapa saat... aku hampir percaya."
Air mata kembali jatuh.
"Aku hampir ingin tinggal."
Kevin menatapnya.
"Tapi kau keluar."
Darrien membuka matanya.
"Karena itu bukan dia."
Ia menarik napas.
"Fiona yang asli tidak akan memintaku meninggalkannya di sana."
Hening.
Darrien menatap ke arah pegunungan.
Ke arah istana yang masih belum terlihat dari clearing tersebut.
"Aku tidak tahu apakah kalimat terakhir itu bagian dari ilusi."
Ia terdiam.
"Atau..."
Matanya sedikit menyipit.
"...memang ada sesuatu yang lain di dalamnya."
Elyon akhirnya berbicara.
"Apa yang dia katakan?"
Darrien mengingat kembali suara itu.
Perlahan.
"Temukan aku."
Semua orang terdiam.
Ace menggaruk belakang kepalanya.
"Kalau itu memang bagian dari jebakan..."
Ia berhenti.
"...cukup kejam."
Darrien tidak menjawab.
Karena ia sendiri merasakan hal yang sama.
Namun jauh di dalam hatinya—
ada sesuatu yang membuat kalimat itu terus bergema.
*Temukan aku.*
Bukan—
*selamatkan aku.*
Bukan—
*datang kepadaku.*
Tetapi—
**temukan aku.**
Darrien menatap tangannya sendiri.
Kemudian mengepalkannya.
"Aku akan menemukannya."
Kali ini suaranya lebih tenang.
Lebih kuat.
"Aku tidak peduli berapa lama."
Kevin menatapnya.
"Kita akan menemukannya."
Ace mengangguk.
"Setelah semua yang kita lewati?"
Ia melihat ke arah jalan di depan.
"Kita sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang."
Rowan tersenyum tipis.
"Dan setelah semua jebakan itu, rasanya agak memalukan kalau kita pulang tanpa membawa Fiona."
Ace langsung menunjuk Rowan.
"Nah. Itu baru motivasi."
Elarion menghela napas.
"Kalian benar-benar tidak bisa serius terlalu lama."
Sedikit senyum akhirnya muncul di wajah Darrien.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup.
Ia mengusap sisa air mata dari wajahnya.
Kemudian menatap jalan di depan.
"Kalau begitu..."
Darrien melangkah.
"Kita lanjut."
Enam orang itu kembali berjalan.
Meninggalkan clearing tempat Darrien baru saja keluar dari ilusi.
Tidak seorang pun dari mereka menyadari—
bahwa jauh di dalam pegunungan Shadowcresent...
sebuah kristal pertahanan perlahan meredup.
Mufasa berdiri di depan kristal tersebut.
Ia telah menyaksikan semuanya.
Ia melihat bagaimana Darrien jatuh.
Melihat bagaimana pria itu menangis.
Namun yang paling menarik perhatiannya bukanlah air mata Darrien.
Melainkan matanya setelah bangkit.
Tatapan itu tidak lagi sama.
Mufasa menyipitkan mata.
"...Kau benar-benar tidak menyerah."
Ia terdiam beberapa saat.
Kemudian kristal di hadapannya kembali gelap.
Sementara jauh di depan—
jalan menuju istana Shadowcresent mulai terbuka.
Dan untuk pertama kalinya...
tidak ada lagi jebakan yang menunggu mereka.
