Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 365 — BERDIRI DI SISI FIONA
Latihan belum berakhir.
Sejak pagi—
Darrien dan Kevin masih berada di dalam area latihan yang dilindungi barrier.
Tidak ada yang tahu berapa kali Darrien sudah jatuh.
Tidak ada yang menghitung berapa kali Kevin memintanya berdiri lagi.
Dan yang paling menyebalkan—
Kevin masih terlihat sangat tenang.
Seolah-olah semua ini hanyalah pemanasan.
Darrien mengatur napas.
Keringat mengalir dari pelipisnya.
Ia mengangkat kepalanya.
“Sekali lagi.”
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien mengambil posisi.
Namun kali ini—
ia mengingat mimpi semalam.
Bukan wajah Lucas.
Bukan istana tua.
Bukan seluruh masa lalunya.
Hanya satu hal.
Cara Grandmaster Darrien mengendalikan dark magic.
Dalam.
Tenang.
Tidak berlebihan.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Tidak ada chanting panjang.
Hanya kehendak.
Darrien menarik napas.
Dark magic perlahan berkumpul di telapak tangannya.
Tidak meledak.
Tidak menyebar.
Ia hanya berkumpul—
padat.
Sangat padat.
Kevin langsung menyadarinya.
“Jangan dipaksa.”
Darrien mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia membiarkan magicure bergerak.
Sedikit.
Kemudian lebih sedikit lagi.
Darrien mulai memahami—
kekuatan bukan selalu tentang menggunakan lebih banyak magicure.
Kadang—
justru tentang menggunakan lebih sedikit.
***
“Mulai.”
Kevin bergerak.
**WHOOSH!**
Darrien menghindar.
Kevin langsung mengubah arah.
Darrien melompat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berputar.
Ia tidak menggunakan teleportasi.
Tidak menggunakan ledakan dark magic.
Hanya gerakan tubuh.
Kevin menyerang lagi.
Darrien menunduk.
Serangan melewati atas kepalanya.
Darrien menggeser kakinya.
**WHOOSH!**
Ia menghilang dari pandangan Kevin selama sesaat.
Kemudian—
dark magic tipis muncul.
Darrien menggunakan jejak itu untuk menyembunyikan arah geraknya.
Kevin tersenyum.
“Lebih baik.”
Darrien tidak menjawab.
Ia terus bergerak.
***
Namun Kevin tiba-tiba mempercepat ritmenya.
Darrien terkejut.
“Cepat sekali—”
**THUD!**
Darrien terjatuh.
Kevin berdiri di depannya.
“Berpikir lebih cepat.”
Darrien mengerang.
“Baik…”
“Bukan hanya tubuhmu.”
Kevin mengulurkan tangan.
“Pikiranmu juga.”
Darrien meraih tangan itu dan bangkit.
Kevin melanjutkan,
“Kalau kau membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum bergerak, kau sudah terlambat.”
Darrien mengangguk.
“Jadi aku harus berpikir sambil bergerak?”
“Tidak.”
Kevin tersenyum.
“Kau harus berhenti berpikir terlalu banyak.”
Darrien:
“….”
Kevin menepuk bahunya.
“Lagi.”
***
Darrien mulai memahami maksudnya.
Ia tidak perlu merencanakan setiap gerakan.
Tidak perlu memikirkan setiap langkah.
Tubuhnya harus bergerak berdasarkan apa yang dilihat.
Apa yang dirasakan.
Apa yang didengar.
Dan apa yang dirasakan magicure.
Ia menutup matanya sesaat.
Kemudian—
membuka kembali.
Kevin datang.
Darrien menghindar.
Kevin mengubah arah.
Darrien mengikuti.
Tidak terlambat.
Tidak terlalu cepat.
Tepat.
Kemudian Darrien mencoba sesuatu yang baru.
Ia mengucapkan mantra—
namun hanya di dalam pikirannya.
Tidak ada suara.
Tidak ada chanting yang terdengar.
Magicure langsung merespons.
Dark magic muncul di ujung jarinya.
Kevin berhenti sejenak.
“Silent chant.”
Darrien mengangguk.
“Aku baru mencobanya.”
“Bagus.”
Kevin kembali menyerang.
“Sekarang gunakan sambil bergerak.”
Darrien:
“…Sekarang?”
“Sekarang.”
“Guru macam apa kau?”
“Guru yang tidak punya kesabaran.”
Darrien tertawa kecil.
Kemudian bergerak.
***
Di luar barrier—
Ace dan Rowan menyaksikan semuanya.
Ace menguap.
“Sudah berapa jam?”
Rowan melihat matahari.
“Cukup lama.”
Ace menatap Darrien.
“Dia masih hidup?”
Rowan mengangguk.
“Sejauh ini.”
Elarion yang duduk di dekat mereka tertawa.
“Kevin belum selesai.”
Ace menghela napas.
“Aku mulai kasihan.”
Rowan menatapnya.
“Bukankah kemarin kau bilang kau ingin melihat perkembangan Darrien?”
“Ya.”
“Sekarang?”
“Aku menyesal.”
Elyon yang berdiri tidak jauh dari mereka berkata,
“Setidaknya dia berkembang.”
Ace mengangguk.
“Benar.”
Ia melihat Darrien yang kembali terjatuh.
“…Cepat sekali perkembangannya.”
Rowan menahan tawa.
“Kevin.”
Kevin menoleh.
“Apa?”
Ace menunjuk Darrien.
“Dia baru saja jatuh.”
Kevin menjawab tenang.
“Dia akan bangun.”
Darrien dari tanah:
“Aku masih bisa mendengar kalian.”
Ace langsung tersenyum.
“Bagus! Berarti belum pingsan.”
Darrien menatapnya.
“…”
Rowan tertawa.
***
Fiona yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berbicara.
“Darrien.”
Darrien menoleh.
Fiona tersenyum.
“Kau baik-baik saja?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Ia berdiri lagi.
Kemudian—
tatapannya berubah serius.
Ia melihat Fiona.
Satu pikiran muncul di dalam dirinya.
Sederhana.
Namun kuat.
*Aku ingin bisa berdiri di sisinya.*
Bukan sebagai seseorang yang harus dilindungi.
Bukan sebagai seseorang yang selalu tertinggal.
Ia ingin mampu berdiri di samping Fiona—
apa pun yang menunggunya di masa depan.
Darrien menarik napas.
Dark magic kembali berkumpul.
Namun kali ini—
lebih tenang.
Lebih dalam.
Lebih terkendali.
Kevin melihat perubahan itu.
Senyumnya sedikit melebar.
“Bagus.”
Darrien mengambil posisi.
“Ayo.”
Kevin bergerak.
Dan latihan kembali dimulai.
***
Waktu terus berjalan.
Kevin meningkatkan kecepatannya sedikit demi sedikit.
Darrien dipaksa untuk berpikir lebih cepat.
Bergerak lebih cepat.
Menghemat magicure.
Menggunakan silent chant.
Mengendalikan dark magic tanpa membuang tenaga.
Setiap kali ia gagal—
ia bangkit.
Setiap kali ia berhasil—
Kevin menaikkan tingkat kesulitannya.
Dan setiap kali Darrien mulai lelah—
ia kembali melihat Fiona.
Tidak perlu kata-kata.
Hanya satu alasan.
*Aku ingin berdiri di sisinya.*
***
Di luar barrier—
Ace akhirnya duduk di tanah.
“Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku masih menonton ini.”
Rowan duduk di sampingnya.
“Karena kau penasaran.”
“Aku menyesal penasaran.”
Elarion tertawa.
Elyon hanya menggeleng.
Fiona masih berdiri sambil memperhatikan.
Sesekali—
senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia tahu Darrien sedang berubah.
Bukan menjadi Grandmaster masa lalu.
Bukan menjadi seseorang yang pernah hidup ribuan tahun lalu.
Melainkan—
menjadi Darrien yang sekarang.
Dengan kekuatan yang perlahan ia temukan sendiri.
Dan Fiona tidak akan menghentikannya.
Ia hanya akan tetap berdiri di sana.
Menonton.
Menunggu.
Dan percaya.
***
Di dalam barrier—
Kevin kembali mengambil posisi.
“Sekali lagi.”
Darrien menarik napas.
“Baik.”
Kemudian—
mereka bergerak bersamaan.
**WHOOSH!**
Hari latihan mereka masih panjang.
Dan Darrien—
baru saja memulai.
