Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 165
PENELITI YANG MENYERAH
Di Lunaris—
Elyon menatap tumpukan buku di hadapannya.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Ia bahkan tidak ingin menghitung lagi.
Sejak membuka kembali perpustakaan kuno, ia hampir tidak berhenti membaca.
Simbol kuno.
Catatan lama.
Bahasa yang sudah tidak digunakan.
Semua bercampur menjadi satu.
Elyon menutup buku di tangannya.
“Cukup.”
Sylvester yang berdiri tidak jauh darinya menoleh.
“Sudah menemukan sesuatu?”
Elyon menatapnya datar.
“Ya.”
Sylvester sedikit bersemangat.
“Apa?”
Elyon berdiri.
“Aku tidak mau melihat buku lagi.”
Sylvester terdiam.
“…”
Elyon mengambil napas panjang.
“Untuk beberapa tahun.”
Sylvester menahan senyum.
“Kau serius?”
“Sangat.”
Elyon berjalan meninggalkan meja.
Namun baru beberapa langkah—
ia berhenti.
Ia menoleh ke arah buku-buku tersebut.
“…Mungkin satu atau dua buku lagi.”
Sylvester langsung tertawa.
“Kau tidak akan pernah berubah.”
Elyon menghela napas.
“Justru itu masalahnya.”
Ia kemudian meninggalkan perpustakaan.
***
Beberapa waktu kemudian—
Elyon kembali ke Veyra.
Namun kali ini ia tidak menuju perpustakaan.
Tidak membawa setumpuk buku.
Tidak membawa catatan sebanyak sebelumnya.
Ia hanya ingin melihat Fiona secara langsung.
Ia kembali menuju tempat yang biasa digunakannya untuk mengamati dari kejauhan.
Dan ternyata—
Fiona masih berlatih.
Namun kali ini ada beberapa orang bersamanya.
Elyon menyipitkan mata.
“…”
Darrien juga ada di sana.
Namun bukan Elarion yang memimpin latihan.
Seorang pria berdiri di depan mereka.
Kevin.
Elyon mengamati beberapa saat.
Kevin memberikan instruksi.
Fiona bergerak.
Darrien mengikuti.
Cahaya dan kegelapan bertemu.
**BOOM!**
Elyon sedikit mengangkat alis.
Kevin segera memberi arahan lain.
Keduanya kembali bergerak.
Fiona menggunakan Light Magic untuk mengubah arah.
Darrien membalas dengan Dark Magic.
Mereka saling menyesuaikan.
Tidak seperti latihan biasa.
Ada pola.
Ada strategi.
Ada pengalaman.
Elyon menatap lebih lama.
Sekarang ia akhirnya bisa melihat hasilnya secara langsung.
Mereka bukan petarung yang baru belajar.
Kevin bukan sekadar mengajarkan mereka cara menggunakan sihir.
Ia mengajarkan mereka bagaimana membaca satu sama lain.
Fiona mengubah gerakan.
Darrien langsung menyesuaikan.
Darrien mengubah arah.
Fiona sudah mengantisipasinya.
Elyon tersenyum kecil.
“Hmm…”
Sebuah serangan kembali bertabrakan.
**BOOM!**
Elyon menyilangkan tangannya.
“Menakjubkan…”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian menambahkan dengan senyum tipis—
“Menarik.”
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan perpustakaan—
Elyon tidak merasa membutuhkan buku untuk memahami apa yang sedang dilihatnya.
Ia hanya perlu mengamati.
Dan ternyata—
pengamatan langsung jauh lebih menarik.
