17. Belajar Mendengarkan Sihir

Romance Series 94

BAB 17
BELAJAR MENDENGARKAN SIHIR

Beberapa hari berlalu sejak latihan pertama mereka.

Setiap pagi, Darrien dan Fiona berlatih bersama Elarion.

Pagi digunakan untuk melatih tubuh.

Siang untuk mengenal hutan.

Dan sore untuk mempelajari sesuatu yang sama sekali berbeda.

Sihir.

Hari itu, Elarion membawa mereka ke sebuah tempat terbuka di tengah hutan.

Tidak ada meja.

Tidak ada botol.

Hanya tanah, pepohonan, dan suara burung.

“Kenapa kita datang ke sini?” tanya Fiona.

“Karena sihir lebih mudah dirasakan ketika kalian tidak terganggu oleh terlalu banyak hal.”

Darrien memandang sekeliling.

“Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Tidak melakukan apa-apa.”

Fiona mengerutkan kening.

“Tidak melakukan apa-apa?”

“Duduk.”

Mereka duduk.

Elarion ikut duduk beberapa meter di depan mereka.

“Pejamkan mata.”

Darrien menurut.

Fiona juga.

“Sekarang dengarkan.”

Awalnya, mereka hanya mendengar suara angin.

Kemudian burung.

Daun yang bergesekan.

Air sungai yang mengalir jauh di belakang pepohonan.

“Jangan mencoba mencari sihir,” kata Elarion.

“Biarkan tubuh kalian menemukannya sendiri.”

Darrien menarik napas perlahan.

Ia mencoba merasakan apa yang selama ini muncul di dalam tubuhnya.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian—

dingin.

Sangat samar.

Seperti embun yang menyentuh kulit.

Darrien membuka matanya.

“Aku merasakannya.”

“Jangan buka mata,” kata Elarion.

Darrien kembali memejamkan mata.

“Sekarang jangan dorong.”

“Lalu?”

“Biarkan ia bergerak.”

Darrien mencoba.

Hawa dingin itu perlahan menyebar dari dadanya ke lengannya.

Jari-jarinya terasa dingin.

Udara di sekelilingnya ikut berubah.

Elarion memperhatikannya.

“Bagus.”

Darrien menarik napas.

Namun hawa dingin itu tiba-tiba menjadi lebih kuat.

Daun-daun di tanah bergerak.

Fiona membuka mata.

“Darrien!”

Elarion segera mengangkat tangannya.

“Tenang.”

Ia mendekati Darrien.

“Tarik napas.”

Darrien mencoba.

“Sekarang lepaskan perlahan.”

Hawa dingin mulai mereda.

Darrien membuka mata.

“Aku hampir kehilangan kendali.”

“Ya.”

Elarion mengangguk.

“Itulah kenapa kau tidak boleh memaksa sihirmu.”

Darrien menatap tangannya.

“Apakah semua orang seperti ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa aku?”

Elarion tersenyum tipis.

“Itu yang sedang kita cari tahu.”

Kemudian ia menoleh kepada Fiona.

“Sekarang giliranmu.”

Fiona duduk tegak.

Ia memejamkan mata.

Elarion memberikan instruksi yang sama.

“Dengarkan.”

Fiona menarik napas.

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Kemudian tubuhnya terasa hangat.

Sangat lembut.

Seperti sinar matahari pagi.

Fiona mengangkat tangannya.

Cahaya keemasan kecil muncul di ujung jarinya.

Ia tersenyum.

“Aku berhasil.”

“Jangan terlalu senang dulu.”

Fiona menatap Elarion.

“Kenapa?”

“Karena sekarang kau harus membuatnya tetap kecil.”

Fiona mencoba.

Cahaya itu bergetar.

Membesar sedikit.

Kemudian mengecil.

Ia berkonsentrasi.

“Seperti ini?”

“Ya.”

Fiona mempertahankan cahaya itu.

Beberapa detik.

Kemudian cahaya perlahan menghilang.

Fiona terlihat bangga.

Elarion mengangguk.

“Bagus.”

Darrien tersenyum melihatnya.

“Dia lebih mudah mengendalikannya.”

“Untuk saat ini,” jawab Elarion.

Darrien menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Setiap kekuatan punya sifat berbeda.”

Elarion melihat tangan mereka berdua.

“Yang penting bukan seberapa besar kekuatan kalian.”

Ia berdiri.

“Tapi apakah kalian mampu mengendalikannya tanpa membiarkannya mengendalikan kalian.”

Darrien mengingat kata-kata itu.

Fiona juga.

Hari itu, mereka tidak belajar cara menghancurkan sesuatu.

Tidak belajar mantra hebat.

Tidak belajar sihir tingkat tinggi.

Mereka hanya belajar satu hal sederhana:

**mendengarkan kekuatan yang ada di dalam diri mereka.**

Dan bagi dua anak yang selama bertahun-tahun bahkan tidak tahu bahwa mereka memiliki sihir, itu adalah langkah pertama yang besar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience