Series
382
BAB 293 — LANGKAH TERAKHIR
Pertempuran semakin sengit.
Namun di satu sisi medan—
Fiona dan Elyon masih belum menyerah.
Kandang sihir yang mengurung Fiona ternyata jauh lebih rumit daripada perkiraan Elyon.
Setiap kali satu lapisan berhasil dilemahkan, lapisan lain akan mengambil alih.
Elyon terus mengamati pola energi yang bergerak di sepanjang jeruji.
“Jangan terburu-buru.”
Fiona mengangguk.
“Aku tidak terburu-buru.”
Ia menatap celah kecil yang mulai terbentuk.
“…Aku hanya ingin keluar.”
Elyon hampir tersenyum.
“Aku ngerti.”
Mereka kembali memusatkan perhatian.
Elyon mengarahkan aliran sihir.
Fiona mengikuti jalur yang diberikan.
Perlahan—
salah satu simbol padam.
Kemudian simbol kedua.
Namun inti kandang masih bersinar kuat.
Fiona menghela napas.
“Masih belum?”
“Belum.”
***
Tidak jauh dari mereka—
Giselle memperhatikan perubahan kandang.
Matanya menyipit.
“Cepat sekali mereka memahaminya.”
Mufasa juga menyadarinya.
“Kalau terus dibiarkan, gadis itu akan keluar.”
Giselle mengangguk.
“Kita harus menghentikannya.”
Keduanya mulai bergerak.
Namun baru beberapa langkah—
sebuah bayangan sudah berdiri di depan mereka.
Kevin.
Ia memegang senjatanya dengan tenang.
“Tidak.”
Giselle berhenti.
Mufasa menatapnya.
“Kau pikir bisa menghentikan kami sendirian?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya mengambil posisi.
Tatapannya tetap tenang.
“Selama mereka masih bekerja…”
Ia melirik sekilas ke arah Fiona dan Elyon.
“…tidak ada seorang pun yang akan mengganggu mereka.”
Giselle tersenyum.
“Kalau begitu…”
Auranya mulai meningkat.
“…kami akan membuatmu berpindah.”
Giselle bergerak lebih dulu.
**CLANG!**
Kevin menangkis serangannya.
Mufasa langsung bergerak dari sisi lain.
Kevin berputar.
**BOOM!**
Tanah di bawah kaki mereka retak.
Pertarungan baru pecah.
Namun Kevin tetap menjaga posisinya.
Ia tidak mengejar.
Tidak meninggalkan area.
Tujuannya hanya satu.
**Menahan mereka.**
***
Di dalam kandang—
Fiona mendengar suara benturan.
Ia melirik keluar.
“Kevin…”
Elyon langsung berkata,
“Jangan lihat ke sana.”
Fiona kembali menghadapnya.
“Kita harus cepat.”
“Benar.”
Elyon kembali memeriksa inti sihir.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Tunggu.”
Fiona mendekat.
“Apa?”
“Aku menemukan polanya.”
Elyon menunjuk tiga simbol yang terhubung.
“Selama ini kita mencoba memutus energi dari luar.”
Fiona mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Kita salah.”
Ia menunjuk bagian tengah.
“Inti ini tidak perlu dihancurkan.”
Fiona menatapnya.
“Jadi?”
“Kita harus membuatnya berhenti mengenali kandang sebagai bagian dari sistem.”
Fiona berkedip.
“…Aku tidak mengerti.”
Elyon tersenyum kecil.
“Bagus.”
Fiona memicingkan mata.
“Kenapa bagus?”
“Karena aku juga baru menyadarinya.”
Fiona menahan napas.
“Kau serius?”
“Ya.”
Ia mulai menjelaskan dengan cepat.
“Jika kita memutus hubungan antara inti dan lapisan luar, kandang tidak akan langsung runtuh.”
Fiona menunggu.
“Tapi…”
Elyon menunjuk celah yang sudah terbentuk.
“…kita bisa membuat satu jalur keluar.”
Mata Fiona langsung berbinar.
“Berarti…”
“Ya.”
Elyon mengangguk.
“Ini langkah terakhir.”
***
Di luar—
Kevin masih menahan Giselle dan Mufasa.
Giselle mencoba melewatinya.
Kevin langsung menghadang.
Mufasa menyerang dari belakang.
Kevin menghindar.
Namun kali ini—
Giselle hampir berhasil melewati sisi pertahanan.
Kevin segera memutar tubuhnya.
**CLANG!**
Serangan kembali tertahan.
“Tidak semudah itu.”
Giselle mendesis.
“Kau sangat menyebalkan.”
Kevin hanya tersenyum tipis.
“Aku sering mendengarnya.”
***
Di dalam kandang—
Fiona dan Elyon mulai melakukan langkah terakhir.
Elyon mengarahkan energi ke tiga titik.
Fiona menyalurkan sihir secara perlahan.
Satu titik menyala.
Kemudian kedua.
Kemudian ketiga.
Kandang mulai bergetar.
**KRRRK…**
Fiona menahan napas.
“Apakah ini normal?”
“Kurasa.”
“Kaurasa?”
“Fiona.”
“Ya?”
“Jangan panik.”
Fiona menatapnya.
“Aku tidak panik.”
Jeruji kembali bergetar.
**KRRRAAK!**
Fiona langsung menggenggam tangan Elyon.
“Aku sedikit panik.”
Elyon hampir tertawa.
Namun ia tetap fokus.
“Sedikit lagi.”
Cahaya pada inti mulai mengecil.
Lapisan penghalang satu demi satu kehilangan kekuatannya.
Kemudian—
sebuah celah terbuka.
Tidak besar.
Namun cukup untuk dilewati seseorang.
Fiona menatap celah itu.
Matanya membesar.
“Elyon…”
“Aku tahu.”
“Kita berhasil?”
Elyon memeriksa aliran energi untuk terakhir kalinya.
Kemudian mengangguk.
“Secara teori…”
Fiona langsung menatapnya tajam.
“Jangan bilang ‘secara teori’.”
Elyon tersenyum.
“Baik.”
Ia berdiri.
“Kita sudah menemukan jalan keluarnya.”
Fiona tersenyum lega.
Namun kandang masih berdiri.
Sistem sihirnya masih aktif.
Fiona belum benar-benar bebas.
Mereka hanya telah menemukan—
**langkah terakhir.**
Dan di luar sana—
pertempuran masih berlangsung.
Darrien masih berhadapan dengan Kaguya.
Kevin masih menahan Mufasa dan Giselle.
Sementara Fiona dan Elyon kini hanya membutuhkan satu kesempatan—
untuk membuka celah itu sepenuhnya.
Share this novel