Series
94
BAB 55
BATAS YANG HARUS DITEMBUS
Pagi berikutnya, Darrien sudah menunggu di halaman.
Kevin datang tepat ketika matahari mulai naik.
“Mulai?”
Kevin tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan Darrien beberapa saat.
Kemudian ia meletakkan sebuah batu hitam di tanah.
“Tidak ada latihan sihir hari ini.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kau tidak mendengarkan.”
“Aku mendengarkan.”
“Tidak.”
Kevin menunjuk dada Darrien.
“Kau hanya memikirkan satu hal.”
Darrien terdiam.
Kevin tidak perlu menyebut nama Fiona.
Ia sudah tahu.
“Kalau kau terus memaksakan sihirmu ketika pikiranmu tidak tenang, kau akan membuat kesalahan.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Kalau begitu ajari aku mengendalikan pikiranku.”
Kevin mengangguk.
“Itulah pelajaran hari ini.”
Darrien duduk.
Kevin meletakkan batu hitam di depannya.
“Pejamkan mata.”
Darrien menurut.
“Tarik napas.”
Ia menarik napas.
“Buang.”
Darrien menghembuskannya.
“Sekarang bayangkan seseorang yang ingin kau lindungi.”
Darrien langsung membuka mata.
Kevin menatapnya.
“Aku tidak akan mengatakan bahwa kau harus melupakannya.”
Darrien terdiam.
“Justru sebaliknya.”
Kevin duduk di hadapannya.
“Gunakan perasaan itu.”
Darrien menatapnya.
“Marah.”
Darrien mengepalkan tangan.
“Takut.”
Tangannya semakin kuat.
“Sedih.”
Matanya sedikit bergetar.
“Semua itu adalah energi.”
Kevin menunjuk dadanya.
“Namun jika kau membiarkannya mengendalikanmu, energi itu akan menghancurkanmu.”
Darrien menutup mata lagi.
Kali ini lebih lama.
Ia mengingat Fiona.
Tawa kecilnya.
Suara yang selalu menyemangatinya.
Bunga yang pernah diberikannya.
Dan wajahnya ketika dibawa pergi.
Napas Darrien mulai tidak stabil.
Hawa dingin keluar dari tubuhnya.
Kevin memperhatikan.
“Jangan melawan.”
Darrien menarik napas.
Hawa dingin itu perlahan kembali ke tubuhnya.
“Bagus.”
Untuk pertama kalinya, Kevin tidak menyuruhnya mengulang.
“Sekarang buka mata.”
Darrien membuka mata.
Kevin berkata,
“Serang batu itu.”
Darrien mengangkat tangan.
Sebuah lapisan es muncul.
Tidak besar.
Tidak meledak.
Namun sangat padat.
Ia menghantam batu.
**Krak.**
Batu itu retak tepat di tengah.
Darrien menatapnya.
Kevin mengangguk.
“Itu.”
“Apa?”
“Kekuatan yang kau cari.”
Darrien menatap batu tersebut.
“Lebih kuat?”
“Bukan.”
Kevin berdiri.
“Lebih terkendali.”
Darrien mengangguk.
“Lagi.”
Kevin tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
***
Dari kejauhan, Ace memperhatikan latihan itu.
Kali ini ia tidak melihat seorang anak yang hanya diliputi amarah.
Ia melihat sesuatu yang lebih berbahaya.
Darrien mulai belajar mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan.
Ace berbalik.
Ia harus mengirim laporan baru.
***
Sementara itu, di kediaman Ardika—
Fiona menjalani hari pertamanya sebagai “Lola”.
Para pelayan datang membawa pakaian.
Seorang pelayan wanita berdiri di depannya.
“Nona Lola, ini pakaian Anda.”
Fiona menggeleng.
“Namaku Fiona.”
Pelayan itu terdiam.
“Tuan memerintahkan…”
“Aku tidak peduli.”
Fiona memegang erat bunga kecilnya.
“Aku bukan Lola.”
Pelayan tersebut menundukkan kepala.
“Maaf, Nona.”
Fiona memandang pintu.
“Aku ingin pulang.”
Tidak ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, Marcus muncul.
Ia berdiri di ambang pintu.
Fiona langsung menatapnya.
“Kau.”
Marcus mengangguk.
“Aku.”
“Kenapa kalian melakukan ini?”
Marcus tidak menjawab.
“Karena kalian butuh seseorang yang mirip Lola?”
Marcus terdiam.
“Kalau begitu cari orang lain.”
“Tidak ada yang semirip dirimu.”
Fiona mengepalkan tangan.
“Aku tetap tidak mau.”
Marcus menatapnya.
“Kau mungkin tidak punya pilihan.”
Fiona menatapnya dengan marah.
“Aku punya.”
Marcus terdiam.
“Aku bisa menolak.”
Untuk beberapa detik, Marcus tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian ia berbalik.
Namun sebelum keluar, ia berkata,
“Pertahankan keberanian itu.”
Fiona menatap punggungnya.
Ia tidak tahu apakah itu peringatan…
atau rasa hormat.
Pintu tertutup.
Fiona kembali duduk sendirian.
Ia menatap bunga kecil di tangannya.
“Darrien…”
Di tempat lain, Darrien masih berlatih.
Tidak mengetahui bahwa Fiona sedang berjuang mempertahankan namanya.
Tidak mengetahui bahwa Marcus mulai meragukan keputusan keluarganya.
Dan tidak mengetahui bahwa keluarga Varian semakin dekat untuk menemukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka temukan.
Sementara dua anak yang terpisah itu…
masing-masing mulai menjadi lebih kuat.
Dengan cara mereka sendiri.
Share this novel