Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 112
MIMPI DI BAWAH CAHAYA
Cahaya lembut menyelimuti seluruh tempat itu.
Bukan cahaya matahari.
Bukan pula cahaya dari lampu.
Cahaya itu berasal dari kristal-kristal berwarna yang tersebar di mana-mana.
Merah.
Biru.
Ungu.
Hijau.
Emas.
Kristal-kristal tersebut berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Fiona berdiri di tengah sebuah taman yang sangat luas.
Angin lembut menyentuh rambutnya.
Tidak ada suara manusia.
Tidak ada suara kendaraan.
Hanya suara angin yang melewati pepohonan dan suara kecil dari kristal-kristal yang berkilau.
Fiona perlahan menoleh ke sekeliling.
“Di mana aku?”
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah beberapa langkah.
Tanah di bawah kakinya terasa nyata.
Rumput lembut bergoyang mengikuti angin.
Di kejauhan—
sebuah menara kristal yang sangat tinggi menjulang ke langit.
Ujungnya bahkan hampir menyentuh awan.
Fiona menatapnya dengan kagum.
“Tempat apa ini…?”
Ia belum sempat melangkah lebih jauh ketika sesuatu melintas di depannya.
Fiona terkejut.
“Hah?”
Sebuah makhluk kecil terbang mengelilinginya.
Tubuhnya mungil.
Sayap transparan berkilauan di punggungnya.
Telinganya sedikit lancip.
Seorang Elf kecil.
Namun ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan Fiona.
Makhluk itu terbang mengelilinginya beberapa kali.
Fiona tersenyum.
“Kau…”
Elf kecil itu berhenti di depan wajahnya.
Matanya yang besar menatap Fiona.
Kemudian—
ia terbang mendekat.
Mendarat tepat di telapak tangan Fiona.
Fiona menahan napas.
“Kau lucu sekali…”
Makhluk kecil itu hanya menatapnya.
Kemudian tiba-tiba—
ia mengepakkan sayapnya.
Terbang kembali ke udara.
“Tunggu!”
Fiona mengulurkan tangan.
Elf kecil itu berputar sekali di udara.
Kemudian terbang menjauh.
Fiona menatapnya.
“Ke mana kau pergi?”
Tidak ada jawaban.
Makhluk itu semakin jauh.
Semakin kecil.
Hingga akhirnya menghilang di antara cahaya kristal.
Fiona berdiri sendirian lagi.
Ia menatap menara kristal di kejauhan.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Seolah-olah ia pernah berada di tempat ini.
Seolah-olah tempat ini…
mengenalnya.
Fiona melangkah maju.
Namun sebelum kakinya menyentuh tanah—
semuanya berubah menjadi cahaya.
***
Fiona membuka matanya.
Napasnya sedikit cepat.
Ia menatap langit-langit kamarnya.
Beberapa detik ia hanya berbaring diam.
Kemudian perlahan duduk.
“Apa tadi…?”
Ia mengusap wajahnya.
Mimpi.
Hanya mimpi.
Namun terasa terlalu nyata.
Angin.
Taman.
Kristal-kristal berwarna.
Menara tinggi.
Dan—
Elf kecil yang mendarat di telapak tangannya.
Fiona menatap tangannya sendiri.
Tidak ada apa-apa.
Ia tertawa kecil.
“Mimpi aneh.”
Tangannya kemudian menyentuh daun perak yang tergantung di lehernya.
Daun itu masih ada.
Namun untuk sesaat—
permukaannya memantulkan cahaya yang sangat lembut.
Fiona tidak menyadarinya.
Ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela.
Pagi telah tiba.
Cahaya matahari masuk melalui tirai.
Veyra mulai kembali ramai.
Fiona membuka jendela.
Angin pagi menyentuh wajahnya.
Ia tersenyum.
Entah mengapa—
angin itu terasa sedikit mirip dengan angin dalam mimpinya.
Namun ia tidak memikirkannya terlalu lama.
Hari baru telah dimulai.
Dan di luar kamarnya—
Darrien mungkin sudah bangun.
Fiona mengambil pakaiannya.
“Harus cepat.”
Ia tidak tahu bahwa mimpi sederhana itu mungkin bukan sekadar mimpi.
Dan jauh di tempat lain—
di balik kristal-kristal kuno yang telah tertidur selama bertahun-tahun—
cahaya kecil kembali berdenyut.
