34. Kata-kata Yang Tertahan

Romance Series 94

BAB 34
KATA-KATA YANG TERTAHAN

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Namun hubungan Fiona dan Darrien perlahan berubah.

Mereka masih berlatih bersama.

Masih membantu Elarion.

Masih bertengkar karena hal-hal kecil.

Tetapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.

Sesuatu yang tidak pernah mereka bicarakan.

Sore itu, hujan turun cukup deras.

Elarion sedang berada di dalam rumah, sibuk membuat ramuan.

Fiona dan Darrien duduk di beranda.

Mereka memandangi hujan yang turun di antara pepohonan.

Fiona memeluk lututnya.

“Aku suka hujan.”

Darrien menoleh.

“Kenapa?”

“Karena dunia terasa lebih tenang.”

Darrien tersenyum kecil.

“Dulu kau takut petir.”

“Itu dulu.”

“Dan kau selalu bersembunyi di belakangku.”

Fiona memukul lengannya pelan.

“Jangan mengingat itu.”

Darrien tertawa.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian Fiona berkata,

“Darrien.”

“Hm?”

“Apakah kau pernah berpikir tentang masa depan?”

Darrien menatap hujan.

“Kadang-kadang.”

“Seperti apa?”

“Entahlah.”

Ia terdiam.

“Mungkin aku ingin punya tempat sendiri.”

Fiona tersenyum.

“Aku juga.”

“Tempat yang tenang?”

“Ya.”

“Dekat hutan?”

“Mungkin.”

Darrien menatapnya.

“Dan?”

Fiona memandangnya.

“Dan… ada seseorang di sana.”

Darrien terdiam.

“Siapa?”

Fiona langsung menunduk.

“Tidak tahu.”

“Kalau kau tidak tahu, kenapa bilang begitu?”

“Karena…”

Ia memainkan ujung bajunya.

“Tempat itu terasa kosong kalau sendirian.”

Darrien memahami maksudnya.

Namun ia tidak berani bertanya lebih jauh.

“Kalau begitu, kau tidak akan sendirian.”

Fiona mengangkat wajah.

“Benarkah?”

“Benar.”

Darrien menatapnya.

“Selama aku masih ada.”

Fiona tersenyum.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun kata-kata itu tidak keluar.

Darrien juga terlihat ingin mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya ia hanya mengalihkan pandangan.

Hujan terus turun.

Dari dalam rumah, Elarion mendengar percakapan mereka.

Ia berhenti mengaduk ramuan.

Kemudian tersenyum kecil.

“Nyaris…”

Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Di beranda, Fiona akhirnya menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu Darrien.

Darrien terkejut.

Ia menoleh.

Fiona sudah memejamkan mata.

“Capek?”

“Sedikit.”

Darrien tidak bergerak.

Ia membiarkannya.

Untuk pertama kalinya, keduanya tidak merasa perlu mengatakan apa pun.

Mereka hanya duduk bersama.

Mendengarkan suara hujan.

Dan membiarkan perasaan yang belum memiliki nama itu tumbuh sedikit lebih jauh.

Tanpa janji.

Tanpa pengakuan.

Hanya keheningan yang terasa nyaman.

Dan bagi mereka…

itu sudah cukup.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience