322. Waktu Untuk Sendiri

Romance Series 382

BAB 322 — WAKTU UNTUK SENDIRI

Elyon dan Sylvester segera meninggalkan Crystal Hall.

Keduanya berjalan menuju bagian utama Istana Lunaris.

Tidak ada banyak percakapan di sepanjang jalan.

Mereka masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Namun laporan itu tidak bisa ditunda.

Mereka harus memberitahukannya kepada Raja Zeith dan Ratu Seraphine.

***

Beberapa saat kemudian—

mereka akhirnya tiba di ruang kerajaan.

Pintu dibuka.

Zeith dan Seraphine yang sedang berbicara langsung menoleh.

Elyon membungkuk.

“Yang Mulia.”

Sylvester ikut memberi hormat.

“Ada sesuatu yang harus kami laporkan.”

Zeith mengerutkan kening.

“Apa yang terjadi?”

Elyon menarik napas.

“Ini berkaitan dengan Crystal Hall.”

Ekspresi Seraphine berubah.

“Crystal Hall?”

Elyon mengangguk.

“Crystal Hall bereaksi.”

Zeith langsung memperhatikan mereka.

“Bereaksi bagaimana?”

Sylvester menjawab,

“Cahayanya meningkat secara bertahap.”

“Dan kemudian…”

Ia berhenti sebentar.

“…Fiona masuk.”

Seraphine terdiam.

“Fiona?”

“Benar.”

Elyon melanjutkan,

“Dia berjalan ke tengah Crystal Hall tanpa sadar.”

“Dan ketika dia menyentuh kristal utama…”

Elyon berhenti.

Zeith menatapnya.

“Apa yang terjadi?”

“Kristal itu menghilang.”

Seraphine membelalakkan mata.

“Menghilang?”

Elyon mengangguk.

“Setelah sebuah ritual sihir muncul di bawah Fiona.”

Sylvester menambahkan,

“Simbol Silver Leaf muncul di tengah lingkaran tersebut.”

Ruangan kembali sunyi.

Zeith mengerutkan kening.

“Silver Leaf?”

“Ya.”

Elyon mengangguk.

“Kami belum mengetahui arti simbol itu.”

“Namun setelah ritual selesai…”

Sylvester melanjutkan,

“Kristal utama berubah menjadi sepasang anting yang sekarang dipakai Fiona.”

Seraphine terdiam cukup lama.

“Dan Fiona?”

“Dia baik-baik saja.”

Elyon menjawab.

“Namun…”

Ia menarik napas.

“Dia mengatakan akan menjelaskan semuanya kepada kami.”

Zeith mengangkat alis.

“Semuanya?”

“Ya.”

“Lalu?”

Elyon tersenyum tipis.

“Dia meminta waktu.”

Zeith menghela napas.

“Setidaknya dia akan menjelaskan.”

Namun Elyon dan Sylvester saling bertukar pandang.

Karena mereka tahu—

ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik kejadian itu.

***

Sementara itu—

Ace, Rowan, Kevin, dan Elarion telah kembali menuju bagian kamar mereka.

Setelah semua kejadian di Crystal Hall—

mereka membutuhkan istirahat.

Namun seseorang tidak ikut bersama mereka.

Darrien.

Ia berjalan menuju kamar Fiona.

Ia ingin memastikan Fiona benar-benar beristirahat.

Namun ketika pintu kamar dibuka—

kosong.

Darrien berhenti.

“…”

Tempat tidur kosong.

Tidak ada Fiona.

Ia masuk beberapa langkah.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

“Fiona?”

Tidak ada jawaban.

Darrien langsung merasa tidak nyaman.

Ia keluar kembali.

Elarion yang kebetulan masih berada di koridor melihatnya.

“Ada apa?”

Darrien menoleh.

“Dia tidak ada.”

Elarion memahami siapa yang dimaksud.

“Fiona?”

Darrien mengangguk.

“Aku akan mencarinya.”

Elarion berdiri di sampingnya.

“Tunggu.”

Darrien menatapnya.

“Beri dia sedikit waktu.”

“Tapi—”

“Dia baru saja mengalami banyak hal.”

Elarion menepuk bahunya.

“Dia akan baik-baik saja.”

Darrien terdiam.

Ia tahu Elarion benar.

Namun rasa khawatir itu tetap tidak hilang.

Ia hanya bisa berharap—

Fiona memang baik-baik saja.

***

Sementara itu—

Fiona tidak berada di dalam istana.

Setelah meninggalkan Crystal Hall—

ia tidak langsung kembali ke kamarnya.

Ia justru berjalan menuju salah satu koridor yang sepi.

Kemudian berhenti.

Fiona menarik napas.

Tangannya bergerak perlahan.

Ia mulai mengucapkan mantra.

“Dengan bayangan malam yang menyelimuti langkahku…”

Cahaya tipis muncul di sekeliling tubuhnya.

“…sembunyikan tubuh dan keberadaanku.”

Cahaya itu menghilang.

Dalam sekejap—

kehadiran Fiona lenyap.

Tidak terlihat.

Tidak terasa.

Bahkan jejak energinya hampir tidak bisa ditemukan.

Fiona kemudian keluar dari istana.

Ia menggunakan bangunan-bangunan di sekitar area kerajaan sebagai jalur.

Satu atap.

Kemudian ke bangunan berikutnya.

Langkahnya ringan.

Tidak ada penjaga yang menyadarinya.

Sampai akhirnya—

ia tiba di tepi Danau Lunaris.

Fiona melompat turun ke salah satu pohon di dekat danau.

Ia duduk di atas cabang yang cukup besar.

Angin malam menyentuh wajahnya.

Air danau berkilau di bawah cahaya bulan.

Fiona menatap permukaannya.

Untuk beberapa saat—

ia hanya diam.

Kemudian pikirannya kembali kepada semua yang terjadi.

Crystal Hall.

Silver Leaf.

Masa lalunya.

Saintess.

Darrien.

Fiona menundukkan kepala.

“…”

Air mata mulai muncul.

Ia mengusapnya cepat.

“Kenapa aku menangis lagi…”

Namun air mata berikutnya tetap jatuh.

Ia memeluk lututnya.

Satu pikiran terus berputar di kepalanya.

*Bagaimana jika Darrien tahu?*

Bagaimana jika ia mengetahui bahwa Fiona bukan hanya Fiona?

Bahwa di balik tubuh dan kehidupan sekarang—

ada seseorang yang telah hidup ribuan tahun.

Seseorang yang pernah kehilangan Darrien.

Seseorang yang menggunakan Forbidden Magic.

Seseorang yang menyimpan jiwanya begitu lama.

Fiona menggigit bibirnya.

“Bagaimana kalau…”

Suaranya bergetar.

“…dia menganggapku monster?”

Air matanya semakin deras.

“Monster tua yang hidup selama ribuan tahun…”

Ia tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Bukankah itu terdengar mengerikan?”

Ia menatap tangannya.

Tangan yang sama yang pernah memegang jiwa Darrien di kehidupan sebelumnya.

Tangan yang sama yang kini menggenggam tangan Darrien di kehidupan sekarang.

Fiona memejamkan mata.

“Tapi…”

Suaranya semakin kecil.

“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”

Angin malam kembali berhembus.

Fiona menyandarkan kepalanya pada batang pohon.

Dan untuk kesekian kalinya—

ia menangis sendirian.

Tidak ada yang melihat.

Tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang tahu bahwa di bawah cahaya bulan—

Saintess yang telah kembali hidup itu sedang takut.

Bukan takut kepada musuh.

Bukan takut kepada kerajaan.

Bukan takut kepada masa lalunya.

Ia hanya takut pada satu hal—

**takut Darrien tidak lagi menginginkannya setelah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience