422. Dikirim Pulang

Romance Completed 594

BAB 422 — DIKIRIM PULANG

Pegunungan Shadowcresent—

Darrien and kelompok Veyth terus berjalan.

Jalur di hadapan mereka tampak semakin asing.

Pepohonan semakin rapat.

Kabut semakin tebal.

Bahkan tanda-tanda alam di sekitar mereka terasa berbeda dari sebelumnya.

Namun tidak ada seorang pun yang menyadari—

mereka telah berjalan di jalur yang salah.

Jalur yang telah dipersiapkan khusus untuk mereka.

***

Di sebuah tempat yang lebih tinggi—

Mufasa berdiri di atas cabang pohon.

Di sampingnya—

Raizen telah muncul tanpa suara.

Keduanya berdiri menghadap kelompok Veyth dari kejauhan.

Mufasa sedikit menundukkan kepala.

“Seperti yang diperintahkan, Yang Mulia.”

Raizen tidak menjawab.

Ia hanya memperhatikan.

Darrien dan kelompoknya terus berjalan.

Beberapa saat kemudian—

Raizen berkata,

“Berapa lama?”

“Mungkin beberapa jam lagi.”

Raizen mengangguk.

Kemudian ia menghilang.

Mufasa berkedip.

“…”

*Tuanku bahkan tidak ingin menunggu.*

Ia kembali melihat kelompok Veyth.

***

Beberapa jam kemudian—

Darrien berhenti.

“…”

Kevin ikut berhenti.

“Ada apa?”

Darrien melihat sekeliling.

“Bukankah…”

Ia mengerutkan kening.

“…kita pernah melewati tempat ini?”

Elyon melihat peta.

“Seharusnya tidak.”

Rowan melihat pepohonan.

“Namun aku juga merasa familiar.”

Ace mengangkat tangan.

“Aku punya pertanyaan.”

Semua menoleh.

Ace menunjuk ke belakang.

“Bukankah pohon itu tadi sudah kita lewati?”

Hening.

Elarion melihatnya.

Kemudian melihat pohon lain.

“…”

Ace menunjuk lagi.

“Dan batu itu juga.”

Kevin menatap peta.

“Jangan bilang…”

Edward menghela napas.

“Kita berputar.”

Ace langsung duduk di tanah.

“Aku tahu.”

Darrien menatapnya.

“Kau tahu?”

Ace mengangguk serius.

“Kita tersesat.”

Rowan memandangnya datar.

“Itu bukan sesuatu yang perlu kau banggakan.”

Ace mengangkat bahu.

“Aku hanya ingin memastikan kalian semua sadar.”

Gloria menutup matanya.

“…”

***

Akhirnya mereka tiba di sebuah tapak yang luas.

Area terbuka itu cukup luas.

Tidak ada pepohonan besar di tengahnya.

Tidak ada kabut.

Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki pegunungan—

mereka dapat melihat langit dengan jelas.

Edward menghela napas.

“Kita berhenti di sini.”

Beberapa orang mulai menurunkan barang.

Kevin duduk.

Ace langsung berbaring di tanah.

“Akhirnya…”

Elyon melihat peta sekali lagi.

“Besok kita cari jalur lain.”

Darrien masih berdiri.

Tatapannya mengarah ke pegunungan.

“Aku masih bisa merasakan jejak Fiona.”

Kevin menatapnya.

“Setidaknya itu kabar baik.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Namun—

tepat saat mereka hendak beristirahat—

sebuah cahaya muncul di bawah kaki mereka.

Darrien langsung menunduk.

“Apa—”

Sebuah lingkaran magicure besar terbentuk.

“SEMUA BERSIAP!”

Terlambat.

FWOOSH!

Cahaya memenuhi tapak luas.

Tubuh mereka menghilang satu per satu.

Tidak ada waktu untuk melawan.

Tidak ada waktu untuk menggunakan teleportasi balik.

Tidak ada waktu untuk memahami apa yang terjadi.

Dalam sekejap—

seluruh kelompok Veyth lenyap.

***

Beberapa detik kemudian—

semuanya kembali tenang.

Clearing kosong.

Tidak ada siapa pun.

Tidak ada tanda pertempuran.

Hanya rumput yang sedikit bergoyang karena angin.

***

VEYTH.

Ruang utama istana.

FWOOSH!

Satu tubuh jatuh.

Kemudian—

yang kedua.

Yang ketiga.

Yang keempat.

Dalam hitungan detik—

seluruh kelompok Veyth muncul di tengah aula.

BRUK!

Ace jatuh paling dulu.

“Aduh!”

Kevin mendarat dengan satu lutut.

Elyon hampir kehilangan keseimbangan.

Rowan langsung melihat sekeliling.

Elarion terdiam.

Gloria membeku.

Edward—

hanya berdiri.

Semua orang menatap satu sama lain.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Ace perlahan bangkit.

Ia melihat sekeliling.

Kemudian—

“…”

Ia menunjuk lantai.

“Ini…”

Tidak ada yang menjawab.

Ace melihat pilar.

Kemudian jendela.

Kemudian pintu.

Akhirnya ia menatap Edward.

“Bukankah…”

Ia menarik napas.

“…kita baru saja sampai di Veyth?”

Edward menutup matanya.

“Ya.”

Kevin menatap tangannya.

“Kita diteleportasi.”

Elyon melihat peta yang masih berada di tangannya.

Ia perlahan menurunkannya.

“…”

Rowan berkata pelan,

“Dari pegunungan.”

Ace menatap mereka.

“Jadi…”

Ia menghela napas.

“…kita berjalan berjam-jam.”

Tidak ada yang menjawab.

“Dan kemudian…”

Ia menunjuk sekeliling.

“…dikirim pulang.”

Hening lagi.

Ace akhirnya duduk di lantai.

“Aku membenci kerajaan vampire.”

***

Sementara itu—

Shadowcresent.

Raizen muncul kembali di kamar.

Fiona masih berada di tempat tidur.

Ia sedang tidur.

Raizen berdiri di sampingnya.

Beberapa detik kemudian—

Mufasa muncul di pintu.

Ia menundukkan kepala.

“Yang Mulia.”

Raizen menoleh.

“Ya?”

“Mereka sudah kembali.”

Raizen diam.

Kemudian—

ia mengangguk.

“Bagus.”

Mufasa menunggu.

Raizen menatap Fiona.

Kemudian berjalan mendekatinya.

Ia duduk di sisi tempat tidur.

Mengangkat tubuh Fiona perlahan ke dalam pelukannya.

Fiona bergerak sedikit.

Namun tidak terbangun.

Raizen menyesuaikan posisinya.

Kemudian—

ia memeluk Fiona lebih erat dari sebelumnya.

Mufasa melihatnya.

“…”

Raizen menutup mata.

Ia menarik selimut menutupi mereka berdua.

Kemudian berbaring di samping Fiona.

Tidak ada rasa terganggu.

Tidak ada kecemasan.

Tidak ada rasa takut.

Hanya—

kepuasan.

Raizen membuka matanya sedikit.

Ia teringat bagaimana kelompok Veyth baru saja dikirim kembali ke kerajaan mereka.

Sudut bibirnya terangkat.

“Menarik.”

Mufasa menundukkan kepala.

“Apakah Yang Mulia puas?”

Raizen menatapnya.

“Cukup.”

Mufasa hampir tersenyum.

Raizen kemudian kembali melihat Fiona.

Ia menariknya sedikit lebih dekat.

“Biarkan mereka mencoba lagi.”

Mufasa mengangguk.

“Baik.”

Raizen menutup mata.

“Untuk sekarang…”

Ia mengusap rambut Fiona perlahan.

“…aku ingin tidur.”

Mufasa membungkuk.

“Selamat beristirahat, Yang Mulia.”

Ia meninggalkan kamar.

Pintu tertutup.

***

Di dalam kamar—

Fiona masih tidur dengan tenang.

Raizen memeluknya.

Senyum kecil masih terlihat di wajahnya.

Sementara jauh di Veyth—

Ace masih menatap langit-langit aula dengan ekspresi kosong.

“…”

Ia akhirnya berkata,

“Jadi…”

Semua orang menoleh.

Ace menarik napas panjang.

“Besok kita harus jalan lagi?”

Kevin menjawab,

“Ya.”

Ace langsung menjatuhkan dirinya ke lantai.

“TIDAKKKK—”

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari—

Veyth tidak mengalami kekalahan dalam pertarungan.

Mereka hanya…

**dikirim pulang.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience