Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 429 — JEJAK SIHIR LIMA RIBU LIMA RATUS TAHUN
Veyth.
Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka menyadari bahwa sihir teleportasi yang digunakan Shadowcresent bukanlah teleportasi biasa.
Mereka tidak lagi mencoba mencari jalan masuk secara langsung.
Sebaliknya, seluruh perhatian mereka kini tertuju pada satu hal.
Sihir kuno.
Di ruang penelitian kerajaan, beberapa gulungan tua terbuka di atas meja. Buku-buku dengan sampul yang telah menghitam karena usia bertumpuk di berbagai sudut ruangan.
Elarion berdiri di depan meja utama sambil membaca sebuah catatan kuno.
Kevin berada di sampingnya, mencatat hasil percobaan sebelumnya.
Rowan sibuk membandingkan simbol-simbol kuno yang mereka temukan dengan arsip kerajaan.
Sementara Ace...
Duduk di kursi.
Dengan kaki di atas meja.
"Kalau terus begini," gumam Ace, "aku bisa berubah menjadi arkeolog."
Kevin meliriknya.
"Arkeolog?"
"Iya."
Ace menunjuk tumpukan buku di hadapannya.
"Karena yang kita lakukan sekarang adalah menggali kuburan masa lalu."
Rowan mengangkat wajah.
"Secara teknis, kita sedang mempelajari sejarah sihir."
"Lebih menyeramkan."
"Kenapa?"
"Karena sejarah sihir tidak bisa melawan balik."
Kevin menatapnya datar.
"Kadang aku tidak yakin."
Ace langsung menurunkan kakinya.
"...Jangan ngomong begitu."
Elarion mengabaikan percakapan mereka.
Jarinya berhenti pada satu halaman tua.
"Ini."
Semua perhatian beralih kepadanya.
"Apa?" tanya Kevin.
Elarion menunjuk sebuah diagram.
"Ini mungkin yang kita cari."
Darrien yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka ikut mendekat.
Di atas halaman itu terdapat sebuah lingkaran sihir dengan beberapa simbol kuno yang mengelilinginya.
Namun berbeda dari diagram teleportasi biasa.
Tidak ada titik tujuan yang ditentukan secara langsung.
Sebaliknya, lingkaran itu memiliki beberapa lapisan.
Satu di atas yang lain.
Seperti sebuah sistem yang dirancang untuk menentukan ruang tujuan berdasarkan struktur tertentu.
Kevin mengerutkan kening.
"Ini bukan teleportasi biasa."
"Tepat."
Rowan segera membuka arsip lain.
"Simbol ini muncul dalam catatan berusia sekitar lima ribu lima ratus tahun."
Ace terdiam.
"Lima ribu lima ratus?"
"Ya."
Ace menatap buku itu.
Kemudian menatap dirinya sendiri.
Kemudian kembali menatap buku.
"Berarti sihir ini lebih tua daripada sebagian besar bangunan di kerajaan."
"Jauh lebih tua," jawab Rowan.
Darrien memperhatikan diagram tersebut.
"Bisakah digunakan?"
Kevin dan Elarion saling berpandangan.
"Kita bisa mencoba."
---
Beberapa jam kemudian.
Sebuah lingkaran sihir besar telah dibuat di lantai ruang latihan kerajaan.
Rune-rune kuno menyala perlahan.
Udara di sekitarnya bergetar.
Kevin berdiri di depan lingkaran itu.
Elarion berada di belakangnya sambil memegang gulungan asli.
Rowan terus memeriksa susunan simbol.
Ace berdiri cukup jauh.
"Kenapa aku merasa ini ide buruk?"
"Karena biasanya memang begitu," jawab Kevin.
"Bagus."
Ace mundur satu langkah.
"Kalau begitu aku akan mendukung kalian dari jauh."
Darrien hanya berdiri diam.
Matanya tertuju pada lingkaran sihir.
Elarion mulai membaca mantra kuno.
Satu demi satu rune menyala.
Kemudian—
WHOOM!
Angin tiba-tiba berputar di dalam ruangan.
Jubah mereka berkibar.
Ruang di tengah lingkaran terlihat seperti berkerut.
Bukan pecah.
Bukan terbuka.
Melainkan...
terlipat.
Kevin segera mengangkat tangan.
"Berhasil."
Sebuah titik cahaya muncul di tengah lingkaran.
Kemudian menghilang.
Kevin mencoba sekali lagi.
Kali ini dirinya sendiri melangkah masuk.
Dalam sekejap—
FWOOSH!
Tubuhnya menghilang.
Ace membelalakkan mata.
"KEVIN?!"
Beberapa detik kemudian.
Kevin muncul kembali di sisi lain ruangan.
Tidak terluka.
Ia melihat kedua tangannya.
Kemudian tersenyum tipis.
"Berhasil."
Ace menatapnya.
"Kau masih hidup."
"Terima kasih atas perhatianmu."
"Aku cuma memastikan."
Rowan mendekati lingkaran.
"Jarak teleportasinya?"
Kevin menggeleng.
"Pendek."
Elarion mengangguk.
"Seperti yang diduga."
Darrien memandang diagram.
"Jadi ini bukan sistem Shadowcresent."
"Bukan," jawab Elarion.
"Namun..."
Ia menyentuh simbol kuno di halaman tersebut.
"Ini mungkin salah satu fondasi dari sistem yang jauh lebih kompleks."
Ruangan menjadi hening.
Kevin memahami maksudnya.
"Shadowcresent mungkin tidak menciptakan seluruh sistem itu dari awal."
"Mungkin mereka mengembangkan sihir-sihir kuno seperti ini selama ribuan tahun."
Rowan menambahkan,
"Dan menyatukannya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar."
Ace menghela napas.
"Jadi kita baru menemukan satu potongan puzzle."
Elarion tersenyum tipis.
"Benar."
Ace menatap tumpukan buku.
"Lima ribu lima ratus tahun cuma menghasilkan satu potongan?"
"Kurang lebih."
Ace memegang kepalanya.
"Astaga..."
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Namun pikirannya terus bekerja.
Jika mereka telah menemukan satu bentuk teleportasi kuno yang berusia lima ribu lima ratus tahun...
maka Shadowcresent mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua.
Dan jauh lebih rumit.
Mereka belum menemukan jalan masuk.
Tetapi setidaknya sekarang...
mereka mulai memahami bahasa sihir yang digunakan untuk menyembunyikan jalan tersebut.
---
Shadowcresent.
Malam telah tiba.
Bulan merah menggantung tinggi di langit.
Cahaya crimson-nya menyelimuti menara dan taman istana dengan warna merah keemasan.
Di salah satu balkon tinggi, Raizen berdiri sendirian.
Rambut peraknya bergerak perlahan tertiup angin malam.
Matanya menatap bulan merah.
Namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Veyth telah datang.
Mereka gagal.
Kemudian mereka mencoba lagi.
Gagal lagi.
Namun mereka tidak berhenti.
Raizen mengetahui satu hal tentang mereka.
Mereka akan terus mencari.
Terus belajar.
Terus mencoba memahami sihir Shadowcresent.
Dan sekarang...
mereka bahkan telah menemukan salah satu bentuk teleportasi kuno yang dapat menjadi bagian dari sistem tersebut.
Raizen mengetukkan jarinya perlahan pada pagar balkon.
Mereka berkembang lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
Kalau terus seperti ini...
suatu hari mereka mungkin benar-benar mampu melewati pertahanan Shadowcresent.
Tatapannya bergeser.
Ke arah kamar tempat Fiona sedang tidur.
Cahaya lampu dari jendela masih terlihat samar.
Raizen terdiam beberapa saat.
Ia sudah tahu apa yang ia rasakan terhadap Fiona.
Ia tidak membutuhkan waktu untuk menyadarinya lagi.
Tidak membutuhkan alasan.
Tidak membutuhkan penjelasan.
Fiona sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Dan ia tidak berniat membiarkan siapa pun mengambilnya.
Masalahnya sekarang bukan lagi apakah ia ingin Fiona tetap berada di sisinya.
Masalahnya adalah...
bagaimana caranya.
Raizen kembali menatap bulan merah.
Veyth telah gagal berkali-kali.
Tetapi kegagalan bukan berarti mereka akan berhenti.
Mereka belajar.
Mereka beradaptasi.
Dan jika mereka terus melakukan itu...
pertahanan Shadowcresent suatu hari mungkin tidak lagi cukup.
Raizen mengetukkan jarinya sekali lagi.
"Kalau begitu..."
Suaranya rendah.
"Aku harus melakukan sesuatu sebelum hari itu tiba."
Ia berbalik dan meninggalkan balkon.
Langkahnya membawa dirinya kembali menuju kamar.
Di sana, Fiona masih tertidur dengan tenang.
Tidak mengetahui apa pun tentang ancaman yang perlahan mendekati kerajaan ini.
Raizen berhenti di sisi tempat tidur.
Ia menatap Fiona beberapa saat.
Kemudian menarik selimutnya sedikit lebih tinggi.
Tangannya menyentuh rambut Fiona dengan lembut.
"Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu pergi."
Suaranya nyaris hanya bisikan.
Namun kali ini tidak ada keraguan di dalamnya.
Raizen telah mengambil keputusan.
Ia membutuhkan cara baru.
Cara yang tidak hanya bergantung pada dinding, penghalang, atau teleportasi Shadowcresent.
Sebuah cara yang membuat Fiona tetap berada di sisinya—
bahkan jika suatu hari Veyth berhasil menemukan jalan masuk.
Raizen menatap bulan merah yang terlihat dari jendela.
Untuk pertama kalinya sejak Veyth mulai datang...
ia tidak hanya menunggu mereka.
Ia mulai merencanakan langkah berikutnya.
