274. Simbol Yang Terlupakan

Romance Series 382

BAB 274 — SIMBOL YANG TERLUPAKAN

Malam perlahan berubah menjadi dini hari.

Di dalam Crystal Hall—

Elyon masih berdiri di tempat yang sama.

Sudah berjam-jam.

Kristal di hadapannya tetap diam.

Tidak bercahaya.

Tidak bergerak.

Tidak memberikan jawaban apa pun.

Elyon menatapnya dengan tatapan datar.

“…”

Tidak ada apa-apa.

Ia menghela napas.

“Setidaknya sekali saja…”

Tetap diam.

Elyon akhirnya menyerah.

Untuk sementara.

Ia meninggalkan Crystal Hall dan berjalan menuju taman istana.

Udara dini hari terasa jauh lebih dingin.

Angin lembut melewati pepohonan.

Cahaya bulan masih menggantung di antara cabang-cabang pohon.

Elyon berhenti di dekat sebuah taman kecil.

Ia hendak menikmati udara sejenak—

ketika matanya menangkap seseorang di bawah pohon.

Elarion.

Pria itu duduk tenang di bawah sebuah pohon besar.

Beberapa buku berada di sampingnya.

Namun satu buku berada tepat di tangannya.

Elyon awalnya hanya berniat melewatinya.

Namun kemudian—

langkahnya berhenti.

Sampul buku tersebut menarik perhatiannya.

Sebuah simbol.

Daun berwarna perak.

Elyon menyipitkan mata.

“…Silver Leaf?”

Elarion mengangkat pandangan.

Ia melihat Elyon berdiri beberapa langkah darinya.

“Kau belum tidur?”

Elyon tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertuju pada buku tersebut.

“Buku apa itu?”

Elarion melihat buku di tangannya.

“Buku lama.”

“Dari mana?”

“Veyth.”

Elyon langsung tertarik.

“Dari Veyth?”

Elarion mengangguk.

“Ditemukan di salah satu bagian lama perpustakaan kerajaan.”

Elyon mendekat.

“Boleh kulihat?”

Elarion menyerahkan buku tersebut.

Elyon menerimanya.

Ia memperhatikan sampulnya.

Simbol Silver Leaf terlihat sederhana.

Namun entah mengapa—

simbol itu terasa familiar.

Bukan karena ia pernah melihat buku tersebut.

Melainkan karena—

ia baru saja melihat sesuatu yang memiliki simbol serupa.

Elyon membuka halaman pertama.

Kosong.

Ia membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Halaman ketiga.

Kosong.

Halaman keempat.

Tetap kosong.

Elyon mengerutkan kening.

“Tidak ada tulisan?”

“Tidak.”

“Semua halaman?”

“Semua.”

Elyon membalik beberapa halaman lagi.

Tetap kosong.

Ia menutup buku itu.

“Lalu kenapa kau membacanya?”

Elarion menatap buku tersebut.

“Aku tidak membacanya.”

Elyon mengangkat alis.

“Lalu?”

“Aku mencoba memahami kenapa buku ini tidak bisa dibaca.”

Elyon terdiam.

Kemudian tertawa kecil.

“Jadi kau juga tidak tahu.”

Elarion menatapnya datar.

“Tidak.”

Elyon duduk di sisi lain pohon.

“Menarik.”

Elarion kembali mengambil buku itu.

“Tidak terlalu.”

“Menurutku menarik.”

“Kenapa?”

Elyon memandang sampulnya.

“Karena simbolnya.”

Elarion terdiam.

“Silver Leaf.”

Elarion mengangguk.

“Aku juga memperhatikannya.”

“Pernah melihat simbol ini sebelumnya?”

Elarion berpikir sejenak.

“Tidak dengan pasti.”

Elyon mengerutkan kening.

“Tidak dengan pasti?”

“Simbolnya terlalu sederhana.”

Ia membuka kembali sampul buku.

“Daun perak.”

“Tidak ada nama penulis.”

“Tidak ada judul.”

“Tidak ada tahun.”

“Tidak ada tanda kerajaan.”

Elyon semakin tertarik.

“Dan seluruh isinya kosong.”

“Benar.”

“Tidak aneh bagimu?”

Elarion menatap buku itu.

“Justru karena aneh, aku menyimpannya.”

Elyon tersenyum tipis.

“Setidaknya kita sepakat mengenai satu hal.”

***

Beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam.

Angin malam bergerak lembut.

Daun-daun pohon bergesekan.

Elyon kembali mengambil buku tersebut.

Ia memperhatikan simbol Silver Leaf dengan lebih teliti.

Kemudian pikirannya kembali kepada Crystal Hall.

Cahaya samar.

Reaksi yang tidak konsisten.

Dan Fiona.

Kemudian—

kalung dan gelang yang dikenakannya.

Elyon tidak mengatakan semuanya.

Belum.

Ia hanya bertanya,

“Apakah buku ini pernah menunjukkan sesuatu?”

Elarion menggeleng.

“Tidak.”

“Ketika kau menggunakan mana?”

“Tidak ada.”

“Light magic?”

“Tidak ada.”

“Dark magic?”

“Juga tidak.”

Elyon mengangkat alis.

“Sudah mencoba semuanya?”

“Beberapa kali.”

“Dan tetap kosong?”

“Ya.”

Elyon menatap buku itu.

“Menarik.”

Elarion menghela napas kecil.

“Kau mengatakan itu terlalu sering.”

“Karena memang menarik.”

Elarion tersenyum tipis.

“Lalu apa yang kau pikirkan?”

Elyon tidak menjawab langsung.

Ia menatap simbol Silver Leaf.

Kemudian berkata perlahan,

“Menurutmu, apakah mungkin buku ini memiliki hubungan dengan sesuatu yang lebih tua daripada kerajaan kita?”

Elarion diam.

“Itu mungkin.”

“Dan jika simbol ini bukan sekadar lambang?”

Elarion menatapnya.

“Maksudmu?”

“Bisa jadi sebuah kunci.”

“Kunci untuk apa?”

Elyon menggeleng.

“Itulah yang ingin kuketahui.”

***

Elarion menutup bukunya.

“Kau sedang memikirkan sesuatu.”

Elyon tersenyum kecil.

“Memang.”

“Kristal?”

Elyon terdiam.

Elarion memperhatikannya.

“Sejak kami tiba di Lunaris, kau terus memperhatikan reaksi kristal.”

Elyon menghela napas.

“Sulit untuk tidak memperhatikannya.”

“Dan sekarang kau melihat simbol ini.”

“Ya.”

Elarion mengangguk perlahan.

“Jadi kau berpikir keduanya berhubungan.”

“Belum tentu.”

“Tapi kau mencurigainya.”

Elyon akhirnya tersenyum.

“Ya.”

Elarion menatapnya beberapa detik.

Kemudian kembali melihat buku.

“Kalau begitu…”

Ia membuka salah satu halaman kosong.

“…kita punya dua misteri.”

Elyon tersenyum.

“Kristal dan buku.”

“Dan mungkin ada sesuatu yang menghubungkan keduanya.”

“Persis.”

Elyon kemudian terdiam.

Ia menatap Elarion.

Untuk beberapa detik—

seolah-olah ia sedang mempertimbangkan apakah harus mengatakannya atau tidak.

Akhirnya—

“Elarion.”

“Ya?”

“Bantu aku meneliti buku ini.”

Elarion mengangkat alis.

“Kau meminta bantuanku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

Elyon menunjuk buku itu.

“Karena kau sudah mempelajarinya lebih lama dariku.”

Ia berhenti.

“Dan karena…”

Tatapannya kembali menuju istana.

“…aku memiliki sesuatu yang mungkin berkaitan dengannya.”

Elarion memahami maksudnya.

“Kristal?”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Elarion diam sejenak.

Kemudian tersenyum tipis.

“Baik.”

Elyon terlihat sedikit lega.

“Terima kasih.”

“Namun ada satu syarat.”

Elyon menatapnya.

“Apa?”

“Jangan membuat ini menjadi eksperimen terhadap tamu kita.”

Elyon langsung mengerti siapa yang dimaksud.

Ia tertawa kecil.

“Fiona?”

“Ya.”

Elyon menggeleng.

“Aku tidak berniat menjadikannya bahan penelitian.”

Ia melihat buku itu.

“Aku hanya ingin memahami apa yang sedang terjadi.”

Elarion mengangguk.

“Kalau begitu kita sepakat.”

Elyon berdiri.

“Besok?”

“Besok.”

Elyon kemudian melihat ke arah langit.

Fajar mulai terlihat samar di kejauhan.

Ia menghela napas.

“Sudah hampir pagi.”

Elarion menutup bukunya.

“Dan kau belum tidur.”

Elyon terdiam.

“…Aku tahu.”

Elarion berdiri.

“Kau terlalu banyak berpikir.”

Elyon tersenyum tipis.

“Mungkin.”

Mereka kemudian berjalan meninggalkan taman.

Buku dengan simbol Silver Leaf masih berada di tangan Elarion.

Tidak ada halaman yang berubah.

Tidak ada tulisan yang muncul.

Tidak ada jawaban.

Namun kini—

Elyon tidak lagi mencari sendirian.

Dan tanpa mereka sadari—

di kamar tamu yang jauh dari taman itu—

Fiona masih tertidur.

Kalungnya kembali memancarkan cahaya yang sangat samar.

Silver Leaf Bracelet di pergelangan tangannya ikut berpendar.

Hanya sesaat.

Kemudian—

kembali gelap.

Sementara fajar perlahan menyentuh langit Lunaris.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience