166. Tanda Yang Tertinggal

Romance Series 382

BAB 166
TANDA YANG TERTINGGAL

Malam telah turun di Kerajaan Veyth.

Istana mulai sunyi.

Namun di salah satu bagian terdalam istana—

sebuah kamar masih menyimpan masa lalu.

Kamar itu tidak pernah benar-benar berubah.

Tempat tidur kecil masih berada di tempat yang sama.

Beberapa pakaian masa kecil masih tersimpan rapi.

Tidak ada yang berani membuangnya.

Tidak ada yang berani mengatakan bahwa kamar itu sudah tidak memiliki pemilik.

Karena bagi Queen Gloria Veyth—

kamar itu masih menunggu.

Menunggu putranya kembali.

***

Pintu kamar terbuka perlahan.

Gloria masuk sendirian.

Langkahnya berhenti ketika melihat tempat tidur.

Ia berjalan mendekat.

Tangannya menyentuh seprai yang telah lama tidak digunakan.

Kemudian matanya jatuh pada pakaian kecil yang masih tersimpan di salah satu sisi tempat tidur.

Gloria mengambilnya.

Tangannya gemetar.

“Anakku…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Pakaian kecil itu berada di dalam pelukannya.

Kenangan lama perlahan kembali.

Seorang anak kecil.

Tawa kecil.

Langkah kaki yang berlari di lorong istana.

Tangan mungil yang dulu selalu menggenggam jarinya.

Senyum kecil.

Suara yang memanggilnya—

“Momma…”

Gloria menutup matanya.

Air mata jatuh.

Bertahun-tahun telah berlalu.

Namun kenangan itu masih terasa begitu dekat.

“Aku masih mengingatmu…”

Ia menggenggam pakaian itu lebih erat.

***

Pintu kamar kembali terbuka.

Edward Veyth berdiri di sana.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Melihat istrinya berada di kamar ini sudah cukup menjelaskan semuanya.

Edward berjalan mendekat.

Gloria tidak menoleh.

“Edward…”

“Hmm?”

“Menurutmu…”

Suaranya bergetar.

“Bagaimana jika dia benar-benar masih hidup?”

Edward terdiam.

Ia kemudian duduk di sampingnya.

“Kalau dia masih hidup…”

Ia tidak melanjutkan.

Gloria menyandarkan kepalanya pada bahunya.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian Edward memeluknya.

Ia tahu tidak ada kata yang mampu menghapus kehilangan selama bertahun-tahun.

***

Setelah beberapa saat—

Edward akhirnya berbicara.

“Jika pemuda yang ditemukan Ace benar-benar pewaris kita…”

Gloria mengangkat wajah.

“…kita membutuhkan bukti.”

Gloria mengangguk perlahan.

“Usianya cocok.”

“Benar.”

“Auranya juga…”

“Ya.”

Edward menatap istrinya.

“Tapi itu belum cukup untuk membuat kita mengklaimnya sebagai putra kita.”

Gloria menundukkan kepala.

“Lalu apa yang bisa membuktikannya?”

Edward terdiam.

“Kau pasti memiliki sesuatu.”

“Pakaian masa kecil?”

“Perhiasan?”

“Atau benda apa pun yang hanya diketahui olehmu dan dia?”

Gloria mencoba mengingat.

Namun sudah terlalu lama.

Terlalu banyak kenangan yang telah berlalu.

Ia memejamkan mata.

Tidak ada.

Pakaian.

Mainan.

Hadiah.

Semua terasa seperti potongan masa lalu yang terpisah.

Kemudian—

sebuah ingatan kecil muncul.

Gloria tiba-tiba membuka mata.

“Edward…”

“Hm?”

“Ada sesuatu.”

Edward menatapnya.

“Apa?”

Gloria terdiam.

Tangannya perlahan naik ke dadanya.

Ia mencoba mengingat masa ketika putranya masih kecil.

Ketika ia masih sering memandikannya sendiri.

Ketika ia membantu mengganti pakaiannya.

Ketika ia sering menggendongnya.

Dan—

ia melihatnya.

Bukan sebuah benda.

Bukan cincin.

Bukan pakaian.

**Sebuah tanda.**

Gloria membeku.

“Sayap…”

Edward mengerutkan kening.

“Apa?”

“Di belakang bahunya.”

Suaranya semakin bergetar.

“Ketika dia masih kecil…”

Gloria menatap kosong ke depan.

“Ada tanda kecil di dekat tulang belikatnya.”

Edward ikut terdiam.

Gloria melanjutkan.

“Bentuknya seperti sepasang sayap kecil.”

Ia menutup mulutnya.

Air mata kembali memenuhi matanya.

“Aku ingat…”

Edward menatapnya dengan serius.

“Apakah kau yakin?”

Gloria mengangguk perlahan.

“Aku yang pertama kali melihatnya.”

Ia tersenyum samar di antara air matanya.

“Waktu itu aku bahkan bertanya kepada Edward…”

Ia berhenti.

Kemudian menatap suaminya.

“…apakah itu tanda Dark Elf.”

Edward terdiam.

Ia juga mulai mengingatnya.

Sebuah tanda kecil.

Samar.

Terletak di belakang bahu putra mereka.

Sesuatu yang dulu mereka anggap sebagai tanda kelahiran yang tidak perlu dipikirkan.

Namun sekarang—

mereka tahu bahwa tanda itu mungkin jauh lebih penting.

Gloria menggenggam lengan Edward.

“Jika pemuda yang ditemukan Ace memiliki tanda yang sama…”

Edward menyelesaikan kalimatnya.

“…maka kita tidak lagi hanya memiliki dugaan.”

Gloria mengangguk.

Air mata jatuh lagi.

“Kalau begitu…”

Ia menarik napas.

“Dia benar-benar anak kita.”

Edward tidak langsung menjawab.

Ia hanya memeluk istrinya lebih erat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

harapan itu terasa jauh lebih nyata.

Bukan sekadar kemungkinan.

Bukan sekadar kemiripan aura.

Bukan sekadar usia yang sesuai.

Tetapi sebuah tanda yang hanya mereka ingat dari tubuh putra mereka sendiri.

Edward akhirnya berkata pelan,

“Kita harus memastikan.”

Gloria mengangguk.

“Ya.”

Namun kali ini—

suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang ibu yang hanya berharap.

Ada keyakinan di dalamnya.

“Cari tahu apakah dia memiliki tanda itu.”

***

Di kamar yang telah menunggu bertahun-tahun—

Gloria masih memegang pakaian kecil milik putranya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak hanya membayangkan anaknya kembali.

Ia mulai percaya bahwa anak itu mungkin benar-benar sudah berada sangat dekat.

Sementara jauh dari Kerajaan Veyth—

di balik bahu seorang pemuda bernama Darrien—

dua tanda kecil berbentuk sayap tetap tersembunyi.

Sebuah bukti yang selama ini tidak ia pahami.

Dan sekarang—

bukti itu perlahan mulai ditemukan kembali oleh orang-orang yang paling mengenalnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience