3. Cahaya Di Tengah Senja

Romance Series 94

BAB 3
CAHAYA DI TENGAH SENJA

Dua tahun kembali berlalu.

Fiona kini berusia tujuh tahun, sementara Darrien telah menginjak sembilan tahun. Mereka masih tumbuh bersama di Akasia, melewati hari-hari sederhana yang membuat mereka semakin sulit membayangkan kehidupan tanpa satu sama lain.

Bagi mereka, kebersamaan bukan lagi sekadar janji masa kecil.

Mereka telah menjadi rumah bagi satu sama lain.

Sore itu, hujan turun cukup lama. Udara Akasia terasa sejuk dan lembap, sementara sisa awan kelabu masih menggantung di langit. Ketika hujan mulai reda, Fiona dan Darrien memilih berteduh di bawah pohon akasia kesayangan mereka sambil menunggu tanah mengering.

Fiona memeluk lututnya sambil memperhatikan sesuatu di dekat akar pohon.

Setangkai bunga kecil tergeletak di tanah yang basah. Batangnya patah dan kelopaknya layu akibat hujan.

“Kasihan…” gumam Fiona.

Ia mengambil bunga itu dengan hati-hati.

“Sepertinya dia sakit.”

Darrien hanya memperhatikannya.

Fiona mengusap kelopak bunga tersebut dengan ujung jarinya.

“Aku ingin dia kembali cantik.”

Saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.

Cahaya keemasan yang sangat samar muncul dari ujung jari Fiona. Begitu lembut hingga hampir menyerupai pantulan matahari yang menembus awan.

Darrien langsung terdiam.

Cahaya itu menyelimuti bunga selama beberapa detik.

Kemudian, kelopak yang sebelumnya layu perlahan membuka.

Batangnya kembali tegak.

Bunga kecil itu mekar dengan warna yang jauh lebih cerah daripada sebelumnya.

Fiona membelalakkan mata.

“Lihat, Darrien!”

Ia tersenyum lebar.

“Dia hidup lagi!”

Namun Darrien tidak tersenyum.

Ia segera meraih tangan Fiona dan menatapnya serius.

“Jangan lakukan lagi.”

Fiona berkedip bingung.

“Kenapa?”

Darrien tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mereka hanyalah dua anak yatim tanpa keluarga, tanpa nama besar, dan tanpa siapa pun yang dapat menjawab pertanyaan mereka tentang asal-usul diri mereka sendiri.

Ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Tetapi ia tahu satu hal.

“Jangan biarkan orang lain melihatnya.”

Fiona menatap bunga kecil di tangannya.

“Tapi aku cuma ingin menolongnya…”

“Aku tahu.”

Nada suara Darrien melunak.

“Tapi kita tidak tahu apa itu. Kalau orang lain melihatnya, mereka mungkin akan menganggapmu aneh… atau lebih buruk.”

Fiona terdiam.

Darrien menggenggam tangannya.

“Jadi, rahasiakan ini. Jangan gunakan di depan siapa pun.”

Fiona akhirnya mengangguk.

“Janji.”

Darrien mengangguk kecil.

“Bagus.”

Ia tidak tahu mengapa cahaya itu muncul dari tubuh Fiona.

Ia juga tidak tahu mengapa dirinya sendiri terkadang merasakan sesuatu yang dingin bergerak di dalam tubuhnya ketika sedang marah atau takut kehilangan Fiona.

Bagi mereka, semua itu hanyalah sesuatu yang tidak dapat mereka pahami.

Mereka tidak memiliki keluarga untuk ditanyai.

Tidak memiliki masa lalu untuk dijadikan petunjuk.

Dan tidak pernah menyangka bahwa kedua tubuh mereka menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Malam harinya, panti asuhan menjadi jauh lebih gelap dari biasanya. Persediaan minyak lampu habis, membuat beberapa anak mulai gelisah dan berbisik ketakutan.

Fiona duduk di samping Darrien sambil menggenggam tangannya.

“Jangan takut,” bisiknya.

Darrien menoleh.

“Selama kita bersama, tempat ini tidak terasa gelap.”

Anehnya, setelah Fiona mengucapkan kalimat itu, kegelapan di sekitar mereka terasa sedikit berbeda.

Cahaya lembut muncul di dekat tempat mereka duduk.

Tidak terang.

Tidak menyilaukan.

Hanya cukup untuk membuat wajah mereka terlihat di dalam kegelapan.

Darrien menatap Fiona dengan kening sedikit berkerut.

“Fiona…”

Gadis kecil itu ikut melihat cahaya tersebut.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” katanya polos.

Darrien terdiam.

Kemudian ia menarik tangan Fiona lebih dekat.

“Jangan pedulikan itu.”

“Kenapa?”

“Karena kita belum tahu apa yang terjadi.”

Ia menatap Fiona dengan serius.

“Dan sampai kita tahu… jangan gunakan apa pun yang muncul dari tubuhmu. Mengerti?”

Fiona mengangguk pelan.

“Kalau kau bilang begitu.”

Darrien menghela napas lega.

Malam itu, mereka tertidur berdampingan seperti biasanya.

Mereka masih percaya bahwa mereka hanyalah dua anak yatim biasa dari kota kecil Akasia.

Mereka belum tahu tentang darah mereka.

Belum tahu tentang keluarga yang sebenarnya.

Dan belum tahu bahwa cahaya kecil yang berusaha mereka sembunyikan hari itu kelak akan membawa mereka menuju takdir yang tidak pernah mereka pilih.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience