Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 292 — DUA PERTARUNGAN
Dentuman kembali mengguncang hutan.
Darrien melesat ke depan.
Kaguya menyambutnya tanpa mundur sedikit pun.
CLANG!
Kedua serangan bertemu.
Gelombang tekanan menyebar dari titik benturan.
Darrien berputar dan menyerang dari samping.
Kaguya menangkis.
Kemudian membalas dengan serangan cepat.
Darrien menunduk.
Serangan itu melewati kepalanya.
Ia langsung menggunakan celah tersebut untuk menyerang balik.
Kaguya mundur beberapa langkah.
Senyumnya semakin lebar.
“Bagus.”
Darrien tidak menjawab.
Ia kembali mengambil posisi.
Napasnya tetap tenang.
Tarik.
Buang.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Kaguya memperhatikannya dengan saksama.
“Gerakanmu…”
Ia menyipitkan mata.
“Jauh lebih terlatih daripada yang kubayangkan.”
Darrien hanya berkata,
“Aku tidak datang untuk berbicara.”
Kaguya tertawa kecil.
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan.”
***
Di sisi lain—
Fiona masih berusaha membuka kandang.
Elyon berlutut di depan inti sihir.
“Sekarang.”
Fiona mengalirkan energi.
Cahaya menyebar melalui simbol.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kandang bergetar.
“Bagus.”
Elyon menggerakkan tangannya.
“Pertahankan.”
Fiona menggertakkan gigi.
“Sulit…”
“Aku tahu.”
“Kenapa kandangnya harus sekuat ini?”
Elyon tersenyum tipis.
“Karena mereka memang tidak ingin kau keluar.”
Fiona menatapnya.
“Bukan waktunya bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Fiona menghela napas.
Kemudian kembali berkonsentrasi.
***
BOOM!
Darrien dan Kaguya kembali bertabrakan.
Darrien terdorong beberapa meter.
Kakinya menggores tanah.
Ia berhenti.
Kaguya berdiri di tempatnya.
Belum terluka.
Namun ekspresinya telah berubah.
Lebih serius.
“Kau belum menggunakan kekuatan penuh.”
Darrien menatapnya.
“Kau juga.”
Kaguya tertawa.
“Benar.”
Kemudian aura di tubuhnya meningkat sedikit.
Bukan ledakan besar.
Hanya peningkatan kecil.
Namun tekanan di udara langsung terasa.
Darrien merasakan perubahan itu.
Ia tidak mundur.
Sebaliknya—
ia menyesuaikan posisinya.
Kevin yang mengamati dari kejauhan memperhatikan hal tersebut.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Bagus.”
Darrien tidak terburu-buru.
Ia menunggu.
Membaca.
Kemudian bergerak.
***
Di depan kandang—
“Sekarang!”
Fiona menyalurkan lebih banyak energi.
Elyon segera mengarahkan aliran tersebut.
Simbol pada kandang mulai padam satu demi satu.
KREK.
Sebuah retakan baru muncul.
Fiona membelalakkan mata.
“Berhasil!”
“Belum.”
Elyon langsung memperingatkan.
“Jangan kehilangan konsentrasi.”
Fiona mengangguk.
“Baik.”
Ia kembali memusatkan pikirannya.
Namun tiba-tiba—
sebuah bayangan melintas di belakang mereka.
Elyon langsung menoleh.
Salah satu vampire mencoba mendekat.
“Jangan ganggu mereka!”
Kevin muncul lebih dulu.
Serangannya menghentikan vampire itu.
Ace segera membantu.
“Fokus saja pada kandang.”
Elyon mengangguk.
“Terima kasih.”
Fiona kembali bekerja.
***
Darrien bergerak semakin cepat.
Kaguya mulai menyerang dengan lebih agresif.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Darrien menghindari semuanya.
Kemudian membalas.
Kaguya menangkis.
Benturan mereka membuat pepohonan di sekitar bergetar.
Namun keduanya masih belum menggunakan teknik pamungkas.
Belum.
Kaguya tiba-tiba mundur.
Darrien juga berhenti.
Keduanya saling menatap.
Kaguya mengusap sedikit darah di sudut bibirnya.
Senyumnya muncul kembali.
“Sekarang aku mulai mengerti.”
Darrien diam.
“Aura itu…”
Kaguya mengepalkan tangannya.
“…memang milikmu.”
Darrien menatapnya dingin.
“Kalau begitu, berhentilah mencari jawaban.”
Kaguya tertawa.
“Tidak.”
Auranya kembali meningkat.
“Aku justru semakin ingin tahu.”
***
KREK!
Retakan pada kandang semakin besar.
Fiona menahan napas.
Celah kecil mulai terbentuk di salah satu sisi.
Udara luar terasa lebih jelas.
Elyon menatapnya.
“Kita hampir berhasil.”
Fiona tersenyum lega.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona hampir tertawa karena lega.
Namun Elyon segera menambahkan,
“Jangan terlalu senang.”
Fiona menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena bagian tersulitnya baru dimulai.”
Fiona menatap inti sihir.
Kemudian melihat celah kecil di depannya.
Ia menghela napas.
“Baiklah.”
Ia kembali memusatkan energinya.
Di kejauhan—
Darrien dan Kaguya kembali bergerak.
Dua pertarungan terus berlangsung pada waktu yang sama.
Satu untuk mendapatkan jawaban.
Satu lagi untuk mendapatkan kebebasan.
Dan belum satu pun dari mereka—
menunjukkan kekuatan sebenarnya.
