438. Semalam Penuh Di Gunung

Romance Completed 594

BAB 438 — SEMALAM PENUH DI GUNUNG

Malam semakin larut.

Namun bagi Veyth...

malam itu terasa seperti tidak akan pernah berakhir.

Darrien berdiri di tengah hutan pegunungan sambil menatap tiga jalur yang baru saja terbentuk di depan mereka.

Tiga jalur.

Semuanya terlihat benar.

Semuanya memiliki jejak energi yang sama.

Dan semuanya...

kemungkinan besar salah.

Ace duduk di atas sebuah batu.

Ia menatap ketiga jalur itu dengan wajah kosong.

"Jadi..."

Tidak ada yang menjawab.

"Kita sudah berapa jam di sini?"

Kevin melihat jam sihir di tangannya.

"Hampir enam jam."

Ace terdiam.

Kemudian ia menatap langit.

"Enam jam."

"Ya."

"Kita belum sampai."

"Belum."

Ace menghela napas panjang.

"Bagus."

Rowan menatapnya bingung.

"Bagus?"

Ace mengangguk.

"Setidaknya kita konsisten."

Elarion mengusap wajahnya.

"Jangan mulai."

Ace menunjuk ke belakang.

"Kalau kita mulai sekarang, kita bisa selesai sebelum pagi."

Kevin tertawa kecil.

"Masalahnya, kita tidak tahu apakah kita sedang maju."

Darrien masih diam.

Ia berjongkok di dekat tanah.

Jari-jarinya menyentuh batu yang tertutup lumut.

Ada jejak sihir.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

"Dinding pertahanan ini berubah terus."

Elyon mengangguk.

"Benar."

Ia membuka catatan.

"Setiap kali kita memetakan satu jalur, struktur sihirnya berubah."

Rowan melihat sekeliling.

"Berarti mereka sengaja membuat jalurnya dinamis."

"Ya."

Elarion menatap gunung.

"Bukan untuk menghentikan kita selamanya."

Semua menoleh.

Elarion melanjutkan.

"Untuk membuat kita menghabiskan waktu."

Ace menunjuk ke arahnya.

"Nah."

Ia berdiri.

"AKHIRNYA ADA YANG MENGERTI."

Kevin menghela napas.

"Kau sudah mengerti dari tadi."

"Benar."

Ace tersenyum.

"Tapi aku menunggu orang lain mengatakannya supaya terdengar lebih ilmiah."

---

Di menara pengawasan perbatasan...

Mufasa sedang membaca laporan.

Beberapa vampire penjaga berdiri di sekitarnya.

Salah satu penyihir vampire menunjuk peta.

"Mereka sekarang berada di jalur utara."

Mufasa melihat tanda sihir.

"Berapa lama?"

"Empat puluh menit."

"Mereka sudah menemukan pola?"

"Sedikit."

Mufasa mengangguk.

"Bagus."

Penyihir itu terkejut.

"Bagus?"

"Biarkan mereka menemukan sedikit."

"Kenapa?"

Mufasa tersenyum tipis.

"Kalau kita membuat semuanya mustahil, mereka akan berhenti mencoba."

Ia menggeser satu tanda pada peta.

"Berikan mereka cukup petunjuk untuk percaya bahwa mereka hampir berhasil."

Para penjaga saling berpandangan.

Salah satu dari mereka akhirnya berkata,

"Jadi..."

Mufasa menatapnya.

"Kita membuat mereka berharap?"

"Ya."

"Dan kemudian?"

Mufasa menunjuk jalur berikutnya.

"Belokkan mereka."

Ace, yang tidak mengetahui percakapan itu, tiba-tiba bersin.

"HACCHOO!"

Kevin menoleh.

"Kau baik-baik saja?"

Ace mengusap hidung.

"Entah."

Ia melihat sekeliling.

"Aku merasa ada seseorang yang sedang membicarakanku."

Elyon mengangkat alis.

"Paranoia."

Ace mengangguk.

"Setelah enam jam di gunung ini, paranoia adalah satu-satunya hal yang masih bekerja."

---

Waktu terus berjalan.

Tengah malam.

Pukul satu.

Pukul dua.

Veyth masih berada di gunung.

Mereka sudah menemukan lima jalur palsu.

Tiga perangkap persepsi.

Dua lingkaran ruang.

Dan satu batu yang...

ternyata hanya batu biasa.

Ace masih marah tentang itu.

"Kenapa kita membuang dua puluh menit untuk memeriksa batu itu?!"

Rowan menjawab tenang.

"Karena semua benda di sini mencurigakan."

"Itu batu!"

"Benar."

"BATU!"

"Dan ternyata memang batu."

Ace menatap Rowan.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

---

Menjelang fajar...

Veyth akhirnya berhenti di sebuah dataran kecil.

Mereka semua terlihat lelah.

Ace langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah.

"Aku tidur di sini."

Kevin menatapnya.

"Di tanah?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena kalau aku tidur sambil berdiri, aku takut gunung ini memindahkan kakiku ke tempat lain."

Elarion tertawa pelan.

Bahkan Darrien akhirnya tersenyum tipis.

Mereka benar-benar belum menemukan jalan menuju istana.

Namun ada satu hal yang berhasil mereka pastikan.

Mereka semakin dekat.

Setidaknya...

menurut pembacaan sihir.

Darrien menatap kabut yang mulai berubah warna karena cahaya pagi.

"Besok kita lanjut."

Ace membuka satu mata.

"Besok?"

Darrien mengangguk.

"Ya."

Ace menutup matanya kembali.

"Bagus."

---

Jauh di dalam Shadowcresent...

di kamar pribadi sang raja...

suasana jauh lebih tenang.

Fiona tidur dengan nyenyak.

Tubuhnya meringkuk nyaman di sisi Raizen.

Kepalanya bersandar di dada vampire kuno itu.

Satu tangannya mencengkeram sedikit kain pakaian Raizen, seolah tanpa sadar memastikan pria itu masih berada di sana.

Raizen belum tidur.

Matanya terbuka.

Tatapannya tenang mengarah ke jendela.

Ia sudah mengetahui sejak beberapa jam lalu.

Veyth telah memasuki wilayah pegunungan.

Ia bisa merasakan perubahan kecil pada aliran sihir Shadowcresent.

Mufasa juga telah mengirimkan laporan.

Mereka masih berada di luar.

Masih mencari jalan.

Masih mencoba memahami pertahanan kerajaan.

Raizen tidak terkejut.

Namun ia juga tidak bergerak.

Tidak malam ini.

Ia menunduk.

Fiona masih tertidur.

Napasnya lembut.

Rambutnya sedikit berantakan di atas dadanya.

Raizen mengangkat tangan dan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Fiona.

Fiona bergerak kecil.

Kemudian semakin mendekat.

Raizen berhenti.

Ia menatapnya beberapa detik.

Lalu menarik selimut sedikit lebih tinggi untuk menutupi tubuh Fiona.

Veyth bisa menunggu.

Mereka tidak akan menemukan jalan menuju istana hanya dalam satu malam.

Dan jika mereka berhasil...

Mufasa akan memberitahunya.

Raizen tidak perlu berdiri di gerbang setiap saat.

Untuk sekarang...

ia memilih tetap di sini.

Menjaga Fiona yang sedang tidur.

Tangannya perlahan melingkari tubuh Fiona.

Fiona menghela napas kecil dalam tidurnya.

Nyaman.

Tenang.

Tidak mengetahui bahwa di luar sana...

sekelompok orang sedang berjuang mati-matian hanya untuk menemukan jalan menuju tempat ia berada.

Raizen memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia akhirnya ikut beristirahat.

---

Matahari mulai muncul di balik pegunungan.

Cahaya pagi menyentuh pepohonan.

Kabut perlahan menipis.

Darrien membuka mata.

Ia melihat anggota kelompoknya yang masih berserakan di tanah.

Ace bahkan tidur sambil memeluk tasnya.

Darrien berdiri.

"Bangun."

Tidak ada reaksi.

"Bangun."

Ace bergumam.

"Lima menit..."

"Kita mencari jalan menuju Shadowcresent."

Mata Ace langsung terbuka.

"...Aku bangun."

Kevin tertawa.

Elyon berdiri sambil merapikan jubahnya.

Rowan memeriksa peta.

Elarion menghela napas.

Hari baru dimulai.

Dan perjalanan mereka masih panjang.

Mereka belum mencapai istana.

Belum bertemu Raizen.

Belum menemukan Fiona.

Namun sekarang mereka tahu satu hal.

Shadowcresent tidak hanya memiliki kerajaan yang tersembunyi.

Kerajaan itu sendiri...

seolah tidak ingin membiarkan siapa pun menemukannya.

Dan Veyth?

Mereka tentu saja tidak akan menyerah.

Mereka hanya belum tahu...

berapa banyak sarapan yang harus mereka korbankan sebelum akhirnya sampai ke sana.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience