40. Jejak Yang Tertinggal

Romance Series 94

BAB 40
JEJAK YANG TERTINGGAL

Malam semakin larut di Istana Veyth.

Setelah komunikasi dengan Ace berakhir, King Edward Veyth masih berdiri di depan jendela.

Gloria berada di sampingnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Mereka hanya memandang kota yang diterangi cahaya kristal.

“Dia masih hidup…”

Suara Gloria hampir tidak terdengar.

Edward mengangguk.

“Ya.”

Namun wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan sepenuhnya.

Ada sesuatu yang lain di matanya.

Kemarahannya.

Bertahun-tahun lalu, anak mereka tidak sekadar hilang.

Pangeran Darrien telah menghilang dalam sebuah insiden yang tidak pernah berhasil mereka pecahkan.

Tidak ada mayat.

Tidak ada saksi yang dapat dipercaya.

Tidak ada jejak yang cukup jelas.

Hanya kehancuran.

Dan seorang bayi yang tidak pernah ditemukan.

Edward berbalik.

“Kita harus membuka kembali semua catatan.”

Gloria menatapnya.

“Kau berpikir orang yang sama masih terlibat?”

“Aku tidak tahu.”

Edward berjalan menuju meja besar di ruangan itu.

Ia membuka sebuah peti tua yang telah disimpan selama bertahun-tahun.

Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen kerajaan.

Laporan penjaga.

Peta.

Surat.

Dan beberapa catatan yang sudah menguning.

Gloria ikut mendekat.

“Selama ini kita hanya mencari Darrien.”

Edward mengangguk.

“Karena kita percaya dia korban.”

Ia mengambil salah satu laporan.

“Sekarang kita tahu dia selamat.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Berarti seseorang menyembunyikannya.”

Gloria terdiam.

“Menurutmu… siapa?”

“Itulah yang harus kita cari tahu.”

Edward membuka laporan pertama.

Malam ketika Darrien menghilang.

Catatan menyebutkan bahwa penjagaan istana diperketat malam itu.

Namun beberapa menit sebelum kejadian, sebagian kristal komunikasi kerajaan tiba-tiba mati.

Gloria mengerutkan kening.

“Bukankah waktu itu kita mengira itu gangguan sihir?”

“Ya.”

Edward mengambil laporan lain.

“Namun lihat ini.”

Ia menunjuk sebuah catatan.

“Ada seseorang yang memasuki area terlarang malam itu.”

“Siapa?”

“Tidak diketahui.”

Gloria menatap dokumen tersebut.

“Kenapa tidak ada nama?”

“Karena catatan penjaga yang bertugas di sana hilang.”

Ruangan menjadi sunyi.

Edward membuka laporan lain.

“Dan ini.”

Sebuah peta tua terbentang di atas meja.

Terdapat tanda di beberapa wilayah.

“Ini semua tempat yang pernah diselidiki?”

“Ya.”

Gloria memperhatikan salah satu tanda.

“Akasia…”

Edward mengangguk.

“Tidak ada hasil waktu itu.”

“Karena kita tidak tahu Darrien berada di sana.”

Edward menghela napas.

“Sekarang semuanya berbeda.”

Gloria menyentuh peta tersebut.

“Jika seseorang membawa Darrien pergi…”

“Kenapa membiarkannya hidup?”

Edward tidak menjawab.

Pertanyaan itu juga selama ini menghantuinya.

Jika pelakunya ingin menghancurkan garis keturunan Veyth, mengapa tidak membunuh pewaris mereka?

Mengapa membuangnya jauh dari kerajaan?

Mengapa membuatnya hidup sebagai anak biasa?

Gloria perlahan berkata,

“Mungkin mereka tidak ingin membunuhnya.”

Edward menatapnya.

“Mungkin mereka membutuhkan sesuatu darinya.”

Keduanya saling memandang.

Kemungkinan itu jauh lebih mengerikan.

***

Beberapa saat kemudian, Edward memanggil seseorang.

Pintu terbuka.

Seorang pria muda masuk dengan pakaian resmi berwarna gelap.

Ia berlutut.

“Yang Mulia.”

“Kevin.”

Kevin menundukkan kepala.

“Ya.”

Edward menatapnya.

“Aku ingin kau pergi bersama Ace.”

Kevin mengangkat wajah.

“Ke wilayah Akasia?”

“Ya.”

“Tugas saya?”

“Pertama, lindungi Darrien.”

Kevin langsung memahami.

“Dan jika terjadi keadaan darurat?”

“Bawa dia pergi.”

“Ke mana?”

“Tempat yang aman.”

Edward berhenti sejenak.

“Namun ada tugas kedua.”

Kevin menunggu.

“Ajari dia.”

“Magic?”

“Ya.”

Edward menatapnya serius.

“Jika kekuatannya benar-benar berasal dari garis darah Veyth, maka suatu hari nanti kemampuan itu akan berkembang jauh melampaui apa yang bisa dia kendalikan sekarang.”

Kevin mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Jangan memaksanya.”

“Baik.”

“Dan jangan katakan siapa dirinya.”

Kevin terdiam.

“Bahkan jika dia bertanya?”

“Bahkan saat itu.”

Edward menatapnya tajam.

“Sampai waktunya tiba.”

Kevin menundukkan kepala.

“Dipahami, Yang Mulia.”

Gloria kemudian mendekat.

“Kevin.”

“Ya, Yang Mulia?”

“Jika sesuatu terjadi pada anak itu…”

Suaranya bergetar sedikit.

“Jangan biarkan dia sendirian.”

Kevin menatapnya beberapa saat.

Kemudian menundukkan kepala lebih dalam.

“Dengan nyawa saya.”

***

Setelah Kevin pergi, Gloria kembali melihat peta.

Edward berdiri di sampingnya.

“Kita punya putra kita kembali.”

Gloria tersenyum tipis.

“Namun kita masih belum tahu siapa yang mengambilnya.”

Edward menatap dokumen lama itu.

“Dan aku tidak akan berhenti sampai menemukannya.”

Ia mengambil satu laporan terakhir.

Di bagian bawah terdapat sebuah simbol yang hampir tidak terlihat.

Simbol yang tidak pernah mereka pahami.

Gloria menatapnya.

“Apa itu?”

Edward menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Ia menggenggam dokumen tersebut.

“Namun seseorang meninggalkannya malam itu.”

Gloria menatap simbol itu dengan perasaan tidak nyaman.

“Kalau begitu…”

Edward mengangguk.

“Pencarian kita bukan hanya untuk menemukan Darrien.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Kita akan menemukan siapa yang mengambil putra kita.”

Di luar jendela, cahaya bulan menyinari Istana Veyth.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kerajaan tidak hanya mencari pewaris yang hilang.

Mereka mulai memburu kebenaran.

Dan seseorang, di suatu tempat di Lunareth…

mungkin belum menyadari bahwa masa lalu yang selama ini mereka sembunyikan mulai terbuka kembali.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience