282. Target Yang Ditemukan

Romance Series 382

BAB 282 — TARGET YANG DITEMUKAN

Keesokan harinya—

Elarion kembali meminta untuk mengunjungi Pasar Herbal.

Tentu saja—

tidak ada seorang pun yang terkejut.

Fiona bahkan sudah menduga sejak malam sebelumnya.

Begitu mereka tiba di bagian timur Pasar Cahaya, Elarion langsung menuju kios terakhir yang belum sempat ia kunjungi kemarin.

Pemilik kios segera mengenalinya.

“Anda kembali.”

Elarion tersenyum.

“Aku mendengar masih ada beberapa bahan yang belum dikeluarkan.”

“Benar.”

Pemilik kios kemudian membuka beberapa kotak penyimpanan.

Begitu melihat isinya—

mata Elarion langsung berbinar.

“Ini…”

Ia mengambil satu tanaman dengan hati-hati.

“Bagus.”

Kemudian mengambil yang lain.

“Dan ini juga.”

Fiona yang berdiri tidak jauh hanya bisa tertawa.

“Sepertinya hari ini kita akan berada di sini cukup lama.”

Darrien mengangguk.

“Aku juga berpikir begitu.”

Elyon hanya menghela napas kecil.

---

Sementara Elarion sibuk memilih bahan—

suasana di sekitar mereka tetap berjalan seperti biasa.

Pedagang menawarkan dagangan.

Orang-orang berlalu-lalang.

Suara percakapan memenuhi pasar.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan dua sosok yang berdiri jauh di atas kawasan hutan.

Di sebuah dataran tinggi—

dua bayangan berdiri di antara pepohonan.

Keduanya mengenakan pakaian gelap.

Tatapan mereka tertuju ke arah pasar.

Lebih tepatnya—

kepada kumpulan Elarion.

Salah satu dari mereka menyipitkan mata.

“Apakah benar dia?”

Sosok kedua tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan kumpulan Elarion lebih lama.

Kemudian berkata pelan,

“Tidak salah.”

Ia menarik napas.

“Auranya sama.”

Sosok pertama terdiam.

Tatapannya menjadi serius.

“Jadi…”

Ia kembali melihat ke arah pasar.

“Target kita mungkin sudah ditemukan.”

Sosok kedua mengangguk.

“Kita tidak boleh bertindak terburu-buru.”

“Benar.”

Sosok pertama mundur satu langkah.

“Kita harus melaporkannya kepada Kaguya terlebih dahulu.”

Sosok kedua kembali mengangguk.

“Jangan dekati mereka.”

“Biarkan mereka tetap tidak menyadari keberadaan kita.”

“Dimengerti.”

Keduanya kemudian berbalik.

Namun sebelum pergi—

sosok kedua kembali melirik ke arah pasar.

“Kalau benar dia…”

Suaranya merendah.

“…maka kita akhirnya menemukan target yang selama ini dicari.”

Dua sosok yang sejak tadi berdiri di antara pepohonan akhirnya bergerak.

Mereka tidak menuju pasar.

Tidak mendekati target.

Tidak mencoba menyerang.

Mereka hanya pergi.

Karena apa yang mereka lihat sudah cukup untuk saat ini.

Target mereka telah ditemukan.

Dan kabar itu harus disampaikan terlebih dahulu.

---

Sementara itu—

di bawah sana, kehidupan Pasar Cahaya tetap berjalan seperti biasa.

Fiona bahkan sedang berdiri di depan sebuah kios makanan.

“Yang ini apa?”

Elyon melihat makanan yang ditunjuknya.

“Daging panggang dengan bumbu herbal.”

Fiona langsung tersenyum.

“Boleh coba?”

Darrien yang berdiri di sampingnya hanya tertawa.

“Kau sudah makan beberapa kali.”

Fiona menoleh.

“Ini berbeda.”

“Semua makanan terlihat berbeda bagimu.”

“Karena memang berbeda.”

Darrien tidak dapat membantah.

Fiona akhirnya membeli satu.

Begitu mencicipinya—

matanya langsung berbinar.

“Enak.”

Darrien tersenyum.

“Bagus.”

Fiona kemudian menyodorkan sedikit kepadanya.

“Coba.”

Darrien mencicipinya.

“Lumayan.”

Fiona langsung menarik kembali makanannya.

“Kalau begitu ini punyaku.”

Darrien tertawa.

“Aku hanya bilang lumayan.”

“Tidak peduli.”

---

Tidak jauh dari mereka—

Ace sedang berada di depan kios perlengkapan senjata.

Ia sudah menghabiskan cukup banyak waktu di sana.

Sebuah pisau pendek berada di tangannya.

Ia memeriksa beratnya.

Kemudian menggenggam gagangnya.

Mencoba gerakannya.

Penjual memperhatikannya.

“Senjata itu dibuat oleh pandai besi dari wilayah utara.”

Ace mengangkat alis.

“Ringan.”

“Namun kuat.”

Ace melakukan satu gerakan kecil.

Pisau itu membelah udara dengan suara tipis.

“Menarik.”

Rowan yang kebetulan lewat melihatnya.

“Kau mau membelinya?”

Ace mengangguk.

“Mungkin.”

“Bukankah kau sudah punya beberapa?”

Ace menoleh.

“Tidak ada salahnya memiliki satu lagi.”

Rowan menggeleng.

“Kau memang tidak bisa melihat senjata tanpa tertarik.”

Ace tersenyum.

“Dan kau tidak bisa melihat buku tanpa berhenti.”

Rowan terdiam.

“…Itu berbeda.”

Ace tertawa.

---

Seolah membuktikan perkataan Ace—

Rowan beberapa saat kemudian benar-benar berhenti di depan lapak seorang pedagang keliling.

Bukan senjata.

Bukan makanan.

Buku.

Tumpukan buku tua memenuhi meja.

Beberapa sampulnya telah rusak.

Sebagian halaman terlihat menguning.

Namun sebuah buku dengan sampul gelap menarik perhatian Rowan.

Ia mengambilnya.

Membuka halaman pertama.

Matanya langsung berubah serius.

Pedagang itu tersenyum.

“Tertarik?”

“Buku ini dari mana?”

“Dari pedagang perjalanan yang datang dari utara.”

“Isinya?”

“Catatan mengenai wilayah lama.”

Rowan membalik beberapa halaman.

“Langka?”

“Tidak banyak yang memilikinya.”

Rowan memandang buku itu.

Kemudian melihat harganya.

Ia terdiam.

Ace yang datang dari belakang langsung tertawa.

“Jangan bilang kau akan membelinya.”

Rowan menjawab tenang.

“Kenapa tidak?”

“Kita sedang berlibur.”

“Justru itu.”

Rowan tersenyum.

“Aku menemukan sesuatu yang menarik.”

Ace menggeleng.

“Baiklah.”

---

Sementara itu—

Elarion sudah benar-benar lupa bahwa ia datang ke pasar bersama rombongan.

Begitu menemukan kios herbal terakhir yang belum ia kunjungi—

perhatiannya sepenuhnya tertuju pada tanaman.

Ia memeriksa daun.

Akar.

Bunga.

Biji.

Satu demi satu.

Pemilik kios bahkan mulai mengambil beberapa kotak dari bagian belakang.

“Kalau Anda tertarik dengan bahan yang lebih langka, saya juga memiliki beberapa stok lama.”

Elarion langsung menoleh.

“Stok lama?”

“Ya.”

Kotak kayu dibuka.

Elarion melihat isinya.

Ia terdiam.

Fiona yang berada tidak jauh darinya ikut melihat.

“Elarion?”

Tidak ada jawaban.

“Elarion?”

Masih tidak ada.

Darrien akhirnya menoleh.

“Dia sudah masuk dunia lain.”

Fiona menahan tawa.

“Sepertinya.”

Elarion mengambil sebuah bunga kering dengan sangat hati-hati.

“Ini…”

Pemilik kios mengangguk.

“Moon Veil.”

Elarion memperhatikannya.

“Sulit ditemukan di Veyra.”

“Karena hanya tumbuh di daerah tertentu.”

Elarion kemudian mengambil bahan lain.

“Dan ini?”

“Nightroot.”

“Ini?”

“Silver Moss.”

Elarion mengangguk perlahan.

“Ambil semuanya.”

Fiona langsung tertawa.

“Lagi?”

Elarion menoleh.

“Bahan ini berguna.”

“Berapa banyak elixir yang ingin kau buat?”

Elarion berpikir sebentar.

“Cukup.”

Ace yang mendengar dari kejauhan langsung tertawa.

“Kalau dia bilang cukup, artinya tidak cukup.”

Rowan mengangguk.

“Benar.”

---

Hari semakin siang.

Mereka berpindah dari satu bagian pasar ke bagian lainnya.

Fiona mencoba makanan.

Darrien membawa beberapa barang.

Ace akhirnya mendapatkan pisau yang sejak tadi ia incar.

Rowan membeli buku langka yang ditemukannya.

Elarion—

membawa semakin banyak herbal.

Kevin tetap berjalan dengan santai.

Sesekali ia memperhatikan sekeliling.

Tidak ada tanda-tanda bahaya.

Namun kebiasaan selama bertahun-tahun membuat matanya tetap bergerak.

Atap.

Jalan.

Gang kecil.

Kerumunan.

Jalur keluar.

Ia memastikan semuanya aman.

Elyon melakukan hal yang sama.

Mereka beberapa kali bertukar pandangan.

Tidak perlu banyak kata.

Keduanya memahami tugas masing-masing.

Menjaga rombongan.

---

Menjelang sore—

Fiona mulai merasa lelah.

Ia memegang minuman dingin yang baru dibelinya.

“Kita sudah berjalan berapa lama?”

Elyon melihat langit.

“Cukup lama.”

Darrien tersenyum.

“Masih ingin lanjut?”

Fiona melihat pasar.

Kemudian melihat kantong belanja di tangannya.

Ia berpikir sebentar.

“…Mungkin sedikit lagi.”

Darrien tertawa.

“Sedikit lagi.”

---

Matahari perlahan turun.

Cahaya keemasan menyelimuti seluruh Pasar Cahaya.

Kristal-kristal di sepanjang jalan mulai menyala.

Suasana pasar berubah.

Lebih hangat.

Lebih indah.

Namun akhirnya—

Elyon berkata,

“Kita harus kembali.”

Tidak ada yang membantah.

Bahkan Fiona.

Mereka mulai berjalan menuju istana.

Fiona sesekali masih menoleh ke belakang.

Ia tersenyum melihat pasar yang mulai diterangi cahaya kristal.

“Aku ingin kembali lagi.”

Darrien mengangguk.

“Masih ada beberapa hari.”

Fiona tersenyum.

“Bagus.”

---

Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang.

Mereka tidak terburu-buru.

Hari itu cukup melelahkan.

Namun semuanya tampak puas.

Terutama Elarion.

Ia bahkan beberapa kali melihat kembali kantong-kantong herbalnya.

Fiona memperhatikannya.

“Kau benar-benar bahagia, ya?”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

Jawabannya begitu sederhana sampai Fiona tertawa.

“Bagus.”

---

Begitu mereka tiba di istana—

Elarion langsung menuju tempat penyimpanan barang.

Ia memastikan semua herbal aman.

Kemudian mengambil beberapa bahan.

Elyon yang melihatnya bertanya,

“Kau mau langsung ke ruang penelitian?”

“Ya.”

“Tidak makan dulu?”

Elarion berhenti.

Ia berpikir sebentar.

Kemudian menghela napas.

“…Setelah itu.”

Fiona langsung tertawa.

“Setidaknya kau masih ingat makan.”

Elarion mengangguk.

“Aku tidak akan lupa.”

Elyon kemudian memberi isyarat agar Elarion mengikutinya.

“Kita pergi.”

---

Ruang penelitian Lunaris berada di bagian istana yang lebih tenang.

Pintunya besar.

Begitu terbuka—

aroma berbagai tanaman dan bahan magis langsung terasa.

Beberapa peneliti Lunaris sedang bekerja.

Mereka segera menoleh ketika Elyon masuk.

“Ini Elarion.”

Elyon memperkenalkannya.

“Dia akan menggunakan ruang penelitian untuk beberapa eksperimen.”

Salah satu peneliti tersenyum.

“Silakan.”

Elarion mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia berjalan menuju salah satu meja.

Kemudian mulai mengeluarkan bahan-bahan herbal yang baru dibelinya.

Satu demi satu.

Daun.

Akar.

Bunga.

Kristal kecil.

Beberapa bahan langka.

Salah satu peneliti memperhatikan.

“Bahan-bahan itu berasal dari pasar?”

“Ya.”

Peneliti itu melihat salah satu bunga.

“Ini sulit ditemukan.”

Elarion mengangguk.

“Itulah alasan aku membelinya.”

Peneliti tersebut tersenyum.

“Kalau begitu, mungkin kami juga bisa membantu.”

Elarion menoleh.

“Dengan senang hati.”

---

Di sisi lain istana—

Fiona, Darrien, Ace, Rowan, dan Kevin akhirnya kembali ke kamar masing-masing.

Hari yang panjang membuat semuanya lelah.

Fiona meletakkan barang-barang belanjaannya.

Ia tersenyum ketika melihat beberapa makanan ringan yang dibelinya.

Darrien hanya menggeleng.

“Besok kau akan membeli lagi?”

Fiona tersenyum polos.

“Mungkin.”

Darrien tertawa.

Ace sibuk memeriksa senjata barunya.

Rowan membaca buku yang dibelinya.

Kevin menikmati malam yang tenang.

Sementara Elarion—

masih berada di ruang penelitian.

Beberapa peneliti Lunaris membantunya menyiapkan peralatan.

Cairan perlahan dituangkan ke dalam wadah.

Herbal dipotong.

Beberapa bahan dihancurkan.

Dan sebuah eksperimen baru mulai dilakukan.

Namun jauh dari istana—

malam yang sama membawa kabar lain.

---

Sebuah kediaman besar berdiri dalam kegelapan.

Tidak ada cahaya hangat seperti Istana Lunaris.

Tidak ada suara tawa.

Udara terasa dingin.

Pintu sebuah ruangan terbuka.

Dua sosok yang sebelumnya mengawasi Pasar Cahaya masuk.

Mereka berhenti di hadapan seorang pria.

Kaguya.

Tatapannya tajam ketika melihat mereka.

“Bagaimana?”

Salah satu dari mereka segera menundukkan kepala.

“Kami menemukan target.”

Kaguya sedikit mengangkat alis.

“Di mana?”

“Pasar Cahaya.”

Kaguya terdiam.

“Apakah kalian yakin?”

“Ya.”

“Auranya sama dengan yang selama ini kami cari.”

Di samping Kaguya berdiri seorang pria lain.

Mufasa.

Ia adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Kaguya, seseorang yang selama ini mendampinginya dalam berbagai urusan.

Mufasa mendengarkan laporan tersebut dengan tenang.

“Kalian tidak melakukan apa pun?”

“Tidak, Tuan Mufasa.”

“Bagus.”

Mufasa mengangguk.

“Kita belum mengetahui kekuatan mereka.”

Kaguya tersenyum tipis.

“Dan kita tidak perlu terburu-buru.”

Tatapannya kembali mengarah ke jendela.

“Jika target itu memang orang yang kita cari…”

Ia berhenti sejenak.

“…maka dia tidak akan pergi terlalu jauh.”

Mufasa berdiri di sisinya.

“Haruskah aku menyiapkan orang-orang untuk mengawasi mereka?”

Kaguya mengangguk.

“Ya.”

“Namun jangan lakukan apa pun tanpa perintahku.”

“Dimengerti.”

Mufasa menundukkan kepala.

Kemudian berjalan keluar dari ruangan.

Kaguya tetap berdiri di tempatnya.

Tatapannya masih mengarah ke kejauhan.

Pasar Cahaya.

Target akhirnya ditemukan.

Dan tanpa diketahui siapa pun—

pencarian yang telah berlangsung cukup lama akhirnya memasuki tahap baru.

Target telah ditemukan.

Dan malam itu—

untuk pertama kalinya sejak kedatangan mereka di Lunaris,

bayangan bahaya mulai bergerak menuju mereka.

Namun mereka belum tahu bahwa pencarian itu tidak akan berakhir seperti yang mereka bayangkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience