426. Sebelum Dan Sesudahnya

Romance Completed 594

BAB 426 — SEBELUM DAN SESUDAHNYA

Shadowcresent.

Sebelum Fiona datang—

istana ini selalu sunyi.

Tidak ada suara tawa.

Tidak ada langkah kaki yang terburu-buru di koridor.

Tidak ada seseorang yang bertanya mengenai makanan.

Tidak ada seseorang yang mengeluh karena bosan.

Tidak ada seseorang yang berani mengganggu ketenangan sang Raja.

Raizen telah terbiasa dengan semuanya.

Kesunyian.

Kegelapan.

Dan waktu yang berjalan begitu lambat.

Selama ribuan tahun—

ia tidak merasa membutuhkan siapa pun.

Ia memiliki kerajaan.

Memiliki kekuatan.

Memiliki pengikut.

Namun tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seseorang di sisinya.

Taman favoritnya adalah tempat yang paling sering ia datangi.

Di sana ia duduk sendirian.

Melihat mawar hitam bermekaran.

Mendengar suara air mancur.

Memandang bulan crimson.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Abad demi abad.

Semuanya sama.

Raizen tidak pernah keberatan.

Kesendirian adalah sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya.

***

Kemudian—

Fiona datang.

Awalnya—

Raizen hanya tertarik pada magicure-nya.

Pure Light yang begitu kuat.

Magicure yang bahkan mampu menyingkirkan auranya.

Sesuatu yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Ia ingin tahu siapa Fiona.

Dari mana kekuatannya berasal.

Dan mengapa—

perempuan itu tidak takut kepadanya.

Namun semakin lama—

alasan itu mulai berubah.

Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Cara Fiona berbicara.

Cara ia memandang taman.

Cara ia makan.

Cara ia tertawa.

Cara ia memandangnya ketika kesal.

Dan terutama—

cara perempuan itu selalu menyebut nama seseorang.

Darrien.

Awalnya—

Raizen merasa terganggu.

Kemudian penasaran.

Lalu—

cemburu.

Perasaan yang bahkan tidak ia sadari sampai terlambat.

***

Sekarang—

taman yang dahulu selalu kosong telah berubah.

Ada suara tawa.

Ada langkah kaki.

Ada seseorang yang duduk di kursi lain.

Ada seseorang yang menyentuh bunga-bunga hitamnya.

Ada seseorang yang tertidur di bawah matahari.

Dan anehnya—

Raizen tidak lagi menginginkan kesendirian.

Ia bahkan mulai menyukai suara itu.

Suara Fiona.

“Raizen.”

Satu kata sederhana.

Namun setiap kali mendengarnya—

ia selalu menoleh.

***

Raizen berdiri di taman.

Ia melihat kursi tempat Fiona biasanya duduk.

Kosong.

Namun ia masih dapat membayangkan perempuan itu berada di sana.

Tertawa.

Memegang mawar.

Mengeluh tentang duri.

Raizen tersenyum tipis.

“…”

Ia akhirnya memahami sesuatu.

Kesepian selama ribuan tahun ternyata bukan karena ia menyukai kesendirian.

Mungkin—

ia hanya belum pernah menemukan seseorang yang ingin ia ajak berbagi.

Raizen mengangkat wajah.

Bulan crimson terlihat di atasnya.

“Fiona…”

Ia menyebut namanya pelan.

Kemudian tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama—

Shadowcresent terasa seperti rumah.

***

VEYTH.

Malam.

Darrien masih belum tidur.

Ia duduk sendirian di dekat jendela.

Tangannya memegang cangkir yang telah lama dingin.

Namun pikirannya tidak berada di sana.

Pikirannya kembali kepada hari terakhir sebelum Fiona menghilang.

Wajahnya.

Tatapannya.

Air mata yang hampir jatuh.

Dan cara Fiona berusaha tetap kuat di hadapannya.

Darrien menutup mata.

Ia masih dapat mengingatnya dengan jelas.

Terlalu jelas.

Ia bertanya-tanya—

apa yang dilakukan Fiona sekarang?

Apakah ia takut?

Apakah ia menangis?

Apakah ia terluka?

Atau—

mungkin ia sedang mencoba bertahan sendirian.

Darrien mengepalkan tangan.

“Aku seharusnya berada di sana.”

Ia menundukkan kepala.

Bayangan terakhir Fiona terus muncul di pikirannya.

Namun ada satu hal yang lebih menyakitkan.

Ia tidak hanya mengingat air mata Fiona.

Ia juga mengingat tawanya.

Cara Fiona tersenyum ketika sedang bahagia.

Cara ia berbicara terlalu banyak ketika merasa nyaman.

Cara ia bisa membuat suasana menjadi ringan hanya dengan satu kalimat.

Semua kenangan itu sekarang terasa begitu jauh.

Darrien membuka matanya.

“Fiona…”

Ia menatap langit malam.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kau rasakan.”

Ia berhenti.

“Tapi aku harap kau masih bisa tertawa.”

Suaranya melemah.

“Aku harap kau tidak sendirian.”

Darrien menutup matanya.

Namun bayangan wajah Fiona sebelum mereka berpisah kembali muncul.

Wajah yang tidak pernah bisa ia lupakan.

Darrien menarik napas panjang.

“Bertahanlah.”

Tangannya mengepal.

“Aku akan menemukanmu.”

***

Di satu sisi—

seorang Raja Vampire yang telah hidup ribuan tahun akhirnya menemukan alasan untuk tidak ingin sendirian.

Di sisi lain—

seorang pria yang telah kehilangan orang yang dicintainya hanya memiliki satu tujuan.

Menemukannya.

Dua orang.

Dua kerajaan.

Dua jalan yang perlahan bergerak menuju tempat yang sama.

Namun belum waktunya mereka bertemu.

Belum.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience