11. Di Luar Akasia

Romance Series 94

BAB 11
DI LUAR AKASIA

Malam semakin larut.

Darrien dan Fiona terus berlari hingga lampu-lampu Akasia benar-benar menghilang dari pandangan.

Mereka baru berhenti ketika kaki Fiona tidak mampu melangkah lebih jauh.

“Aku… sudah tidak kuat.”

Darrien segera menoleh.

“Kita berhenti sebentar.”

Mereka menemukan sebuah tempat kecil di balik pepohonan, cukup jauh dari jalan utama untuk bersembunyi dari pandangan orang.

Fiona duduk di atas tanah dan menarik napas panjang.

Darrien membuka tas kecil mereka.

Masih ada sedikit makanan dan air.

Ia menyerahkan botol kepada Fiona.

“Minum.”

Fiona meneguk beberapa kali sebelum mengembalikannya.

“Kau juga.”

Darrien minum sedikit.

Kemudian ia memandang ke arah kegelapan di belakang mereka.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada cahaya obor.

Untuk sementara, mereka aman.

Fiona memeluk lututnya.

“Darrien…”

“Hm?”

“Apakah mereka akan menemukan kita?”

Darrien terdiam.

Ia ingin mengatakan tidak.

Tetapi ia tidak mau berbohong.

“Mungkin.”

Fiona menundukkan kepala.

“Kalau begitu… bagaimana kita bisa pergi jauh?”

Darrien melihat jalan yang membentang di antara pepohonan.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban itu membuat Fiona terdiam.

Darrien bukanlah orang dewasa.

Ia hanya seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang baru saja membawa satu-satunya orang yang ia cintai keluar dari panti asuhan tanpa tahu harus menuju ke mana.

Namun ia tidak menyesal.

Ia menggenggam tangan Fiona.

“Kita akan mencari jalan.”

Fiona menatapnya.

“Bersama?”

“Bersama.”

Fiona tersenyum kecil.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan sebelum fajar muncul.

Beberapa jam kemudian, mereka menemukan jalan yang lebih besar.

Di kejauhan terlihat beberapa kereta pedagang bergerak menuju wilayah lain.

Darrien memperhatikan mereka.

“Kita bisa mengikuti jalan itu.”

Fiona mengangguk.

Mereka berjalan mengikuti jalan tersebut.

Namun setelah beberapa saat, Fiona berhenti.

“Darrien…”

“Apa?”

Ia menunjuk ke tanah.

Ada jejak kaki.

Beberapa pasang.

Masih baru.

Darrien berjongkok dan memperhatikannya.

Jejak itu bukan milik mereka.

Ia menatap ke belakang.

Kemudian ke arah jalan di depan.

“Kita harus cepat.”

Fiona menggenggam tangannya.

“Mereka?”

Darrien tidak menjawab.

Ia hanya menarik Fiona dan mulai berjalan lebih cepat.

Matahari perlahan muncul di balik cakrawala.

Cahaya pagi pertama menyentuh jalan yang mereka lalui.

Untuk pertama kalinya, Fiona melihat dunia di luar Akasia.

Ada ladang luas.

Bukit-bukit hijau.

Burung-burung yang terbang bebas.

Dan jauh di kejauhan, sebuah kota besar terlihat di balik kabut pagi.

Fiona berhenti sejenak.

“Indah sekali…”

Darrien ikut melihatnya.

Untuk sesaat, mereka melupakan ketakutan mereka.

Mungkin benar.

Mungkin mereka memang bisa memulai hidup baru.

Mereka kembali berjalan dengan tangan yang saling menggenggam.

Tanpa mengetahui bahwa jejak kaki yang mereka temukan tadi semakin dekat dari belakang.

Dan perjalanan mereka baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience