249. Nama Yang Sama

Romance Series 382

BAB 249

Langit di luar Crystal Hall mulai berubah warna.

Cahaya matahari yang sebelumnya memenuhi Crystal Garden perlahan menjadi lebih lembut.

Di dalam aula—

pesta masih berlangsung.

Namun suasana sudah tidak seramai sebelumnya.

Beberapa tamu mulai berbincang dalam kelompok-kelompok kecil.

Sebagian bangsawan telah kembali duduk.

Sementara King Edward dan Queen Gloria masih berada bersama tamu kehormatan dari Lunaris.

Fiona baru saja kembali dari Crystal Garden bersama Darrien, Elarion, Ace, dan Rowan.

Mereka belum sempat kembali ke meja ketika seorang pelayan kerajaan mendekat.

Ia menundukkan kepala.

“Yang Mulia Pangeran Darrien.”

Darrien menoleh.

“Ya?”

“Yang Mulia Raja Edward dan Yang Mulia Ratu Gloria meminta kehadiran Anda.”

Darrien mengangkat alis.

“Sekarang?”

“Ya, Yang Mulia.”

Darrien melirik Fiona.

Fiona mengangkat bahu.

“Pergilah.”

Darrien kemudian menoleh kepada Ace dan Rowan.

“Kalian?”

Ace langsung menjawab,

“Kami ikut.”

Rowan mengangguk.

“Tentu.”

Pelayan itu terlihat sedikit ragu.

Namun akhirnya hanya tersenyum sopan.

“Baik.”

Elarion juga berjalan bersama mereka.

Fiona memperhatikan.

“Kau juga?”

Elarion mengangguk.

“Aku ingin tahu apa yang sedang direncanakan kerajaan.”

Fiona tersenyum.

“Curiga sekali.”

“Pengalaman.”

Darrien tertawa kecil.

Mereka pun berjalan menuju tempat King Edward dan Queen Gloria berada.

***

Ketika mereka mendekat—

Edward langsung tersenyum.

“Darrien.”

Darrien menghampiri.

“Ayah.”

Gloria tersenyum hangat.

“Kemari.”

Darrien berdiri di antara kedua orang tuanya.

Edward kemudian melihat kepada King Zeith dan Queen Seraphine.

“Yang Mulia.”

Zeith mengangguk.

“Pangeran Darrien.”

Edward tersenyum.

“Karena kalian telah datang sejauh ini untuk menghadiri perayaan kami, rasanya kurang pantas jika putra kami hanya diperkenalkan di hadapan seluruh tamu tanpa kesempatan untuk berbicara secara langsung.”

Zeith tersenyum.

“Tidak perlu terlalu formal.”

Seraphine tertawa kecil.

“Kami juga ingin mengenalnya.”

Darrien menundukkan kepala dengan sopan.

“Merupakan kehormatan bagi saya bertemu dengan Raja dan Ratu Lunaris.”

Zeith memperhatikan Darrien beberapa saat.

Kemudian tersenyum.

“Sekarang aku mengerti.”

Darrien sedikit bingung.

“Mengerti apa, Yang Mulia?”

Zeith tertawa kecil.

“Mengapa Edward begitu bangga kepadamu.”

Gloria langsung tersenyum.

“Tentu saja.”

Edward menepuk bahu Darrien.

“Setelah bertahun-tahun mencarinya…”

Ia menarik napas.

“Rasanya kami tidak pernah ingin kehilangan kesempatan untuk memperkenalkannya kepada dunia.”

Darrien tersenyum tipis.

“Aku masih harus membiasakan diri dengan semua ini.”

Seraphine tersenyum.

“Itu wajar.”

“Tidak semua orang tiba-tiba kembali menjadi seorang pangeran setelah bertahun-tahun hidup tanpa mengetahui siapa dirinya.”

Darrien terdiam.

Kemudian mengangguk.

“Benar.”

***

Elarion berdiri sedikit di belakang.

Sejak tadi—

tatapannya sesekali berpindah kepada satu sosok.

Elyon.

Light Elf itu berdiri tidak jauh dari King Zeith dan Queen Seraphine.

Tenang.

Tidak banyak berbicara.

Namun kehadirannya—

terasa familiar.

Terlalu familiar.

Elarion akhirnya menyipitkan mata.

Ia sudah merasakan hal itu sejak Elyon pertama kali tiba.

Namun sekarang—

jaraknya jauh lebih dekat.

Dan untuk pertama kalinya—

ia bisa merasakan aliran mana itu dengan jelas.

Elarion menarik napas perlahan.

“…”

Ace yang berdiri di sampingnya memperhatikan.

“Kau kenapa?”

Elarion tidak menjawab.

Tatapannya masih tertuju kepada Elyon.

Kemudian—

ia berkata pelan,

“Sekarang aku yakin.”

Rowan menoleh.

“Yakin tentang apa?”

Elarion tidak langsung menjawab.

Ia hanya melihat Elyon.

“Dia…”

Elarion berhenti.

“…adalah Elyon.”

Ace membeku.

Rowan juga terdiam.

Darrien yang mendengar dari depan menoleh.

“Apa?”

Elarion akhirnya berkata,

“Elyon yang kita kenal.”

Hening.

Fiona juga menoleh.

“Apa?”

Ace memandang Elyon.

Kemudian memandang Elarion.

“Tunggu.”

Rowan mengerutkan kening.

“Yang kita temui sebagai traveler?”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

Fiona berkedip.

“Tidak mungkin.”

Ia kembali melihat sosok Light Elf itu.

“Wajahnya berbeda.”

“Pakaiannya juga berbeda.”

Ace menambahkan,

“Statusnya bahkan…”

Ia melihat ke arah Elyon.

“…Penasihat Agung Negara Lunaris.”

Rowan menghela napas.

“Jadi…”

Ia menatap Elarion.

“Kau yakin?”

Elarion tersenyum tipis.

“Mana tidak berbohong.”

***

Percakapan kecil itu—

ternyata tidak luput dari perhatian Elyon.

Ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Elarion.

Fiona.

Darrien.

Ace.

Rowan.

Untuk beberapa detik—

Elyon hanya diam.

Kemudian—

ia tersenyum.

Senyum yang sangat familiar.

Fiona langsung membeku.

“…Senyum itu.”

Darrien menoleh kepadanya.

Fiona menunjuk Elyon.

“Dia…”

Elyon akhirnya berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Tidak tergesa.

Ketika sampai di hadapan mereka—

ia berhenti.

Kemudian membungkuk ringan.

“Kurasa sudah waktunya kita berhenti berpura-pura menjadi orang asing.”

Ace membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Rowan hanya menatap.

Elarion tersenyum kecil.

“Akhirnya.”

Fiona masih belum bergerak.

“Elyon?”

Light Elf itu menatapnya.

“Ya.”

Fiona berkedip beberapa kali.

“Kau…”

Ia melihat pakaian kerajaan Elyon.

Kemudian kembali ke wajahnya.

“Kau benar-benar Elyon?”

Elyon tersenyum.

“Bukankah aku baru saja mengatakan itu?”

Ace langsung menunjuk.

“Jadi kau benar-benar seorang Penasihat Agung Lunaris?!”

Elyon mengangguk.

“Benar.”

Rowan memegang kepalanya.

“Dan selama ini…”

Elyon melanjutkan dengan tenang,

“…aku bepergian bersama kalian.”

Hening.

Ace menatapnya.

“Sebagai traveler.”

“Ya.”

“Dan kau tidak pernah mengatakan bahwa kau adalah Penasihat Agung?”

“Tidak ada yang bertanya.”

Ace terdiam.

Rowan menutup wajahnya.

“…”

Fiona akhirnya tertawa kecil.

“Jadi selama ini…”

Ia menggeleng.

“Kau menyembunyikan identitasmu.”

Elyon tersenyum.

“Begitu juga kalian.”

Fiona berhenti.

“…Oh.”

Darrien langsung tertawa.

Ace ikut tertawa.

Bahkan Rowan tidak bisa menahan senyumnya.

Elarion hanya menggeleng.

“Kalau dipikir-pikir…”

Ia menatap Elyon.

“Seharusnya kami sudah menyadarinya.”

Elyon mengangkat alis.

“Benarkah?”

“Tidak.”

Elarion menjawab datar.

“Kau terlalu meyakinkan sebagai traveler.”

Elyon tertawa kecil.

***

King Zeith memperhatikan interaksi mereka.

Ia kemudian berkata,

“Sepertinya kalian sudah cukup dekat.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Zeith tersenyum.

“Bagus.”

Seraphine kemudian memandang Fiona.

Tatapannya menjadi sedikit berbeda.

Lebih lembut.

Lebih hangat.

Fiona menyadarinya.

“Yang Mulia?”

Seraphine tersenyum.

“Fiona.”

Fiona berdiri lebih tegak.

“Ya?”

Seraphine berjalan mendekat.

“Kami ingin mengundangmu.”

Fiona berkedip.

“Mengundang saya?”

“Ya.”

Zeith mengangguk.

“Ke Lunaris.”

Fiona terdiam.

Darrien langsung menoleh kepada mereka.

“Ke Lunaris?”

Seraphine tersenyum.

“Tidak untuk urusan resmi.”

Zeith menambahkan,

“Anggap saja…”

Ia berpikir sebentar.

“…sebagai kunjungan santai.”

Fiona masih terlihat bingung.

“Untuk apa?”

Seraphine tersenyum semakin lebar.

“Untuk menginap.”

Fiona:

“…Menginap?”

Ace langsung menoleh.

Rowan juga.

Elarion mengangkat alis.

Darrien bahkan terlihat sedikit terkejut.

Zeith tertawa.

“Ya.”

Seraphine mengangguk.

“Kami ingin Fiona menjadi tamu kami.”

Fiona menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa saya?”

Seraphine hanya tersenyum.

“Itulah yang ingin kami bicarakan nanti.”

Fiona menatap Darrien.

Darrien menatapnya kembali.

Keduanya sama-sama tidak mengerti.

Ace berbisik kepada Rowan,

“Ini bukan lagi undangan biasa.”

Rowan mengangguk.

“Jelas bukan.”

Elarion diam.

Tatapannya beralih kepada Elyon.

Elyon juga sedang melihat Fiona.

Dan untuk pertama kalinya sejak kedatangan Lunaris—

senyumnya tidak lagi terlihat seperti senyum seorang penasihat kerajaan.

Ada sesuatu yang jauh lebih personal di sana.

Namun ia tetap diam.

***

Fiona akhirnya tersenyum.

“Kalau hanya menginap…”

Ia menatap Seraphine.

“…boleh.”

Darrien langsung menoleh.

“Fiona.”

“Apa?”

“Kau bahkan belum bertanya berapa lama.”

Fiona berpikir.

“Benar juga.”

Seraphine tertawa kecil.

“Tenang.”

Ia kemudian berkata,

“Tidak lama.”

Fiona mengangguk.

“Baik.”

Zeith tersenyum puas.

“Kalau begitu sudah disepakati.”

Darrien menghela napas.

“Aku bahkan belum sempat memproses bahwa Elyon ternyata Penasihat Agung Lunaris.”

Elyon tersenyum.

“Dan sekarang kau sudah harus memproses undangan ke Lunaris.”

Darrien menatapnya.

“Kau sengaja?”

“Tidak.”

Elyon menjawab tenang.

“Sepertinya keadaan yang mengaturnya.”

Fiona tertawa kecil.

“Ini mulai terasa aneh.”

Elarion menatapnya.

“Baru mulai?”

Fiona memandangnya.

“Jangan mulai juga.”

Ace tertawa.

Rowan ikut.

Dan untuk beberapa saat—

tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa sebuah undangan sederhana untuk menginap di Lunaris mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Karena terkadang—

perjalanan yang tampaknya hanya sebuah kunjungan biasa…

justru membawa seseorang semakin dekat kepada jawaban yang selama ini tidak pernah ia cari.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience