257. Batas Yang Harus Dikuasai

Romance Series 382

BAB 257

Pagi telah tiba di Istana Veyth.

Cahaya matahari perlahan menyinari lapangan latihan yang terletak di salah satu bagian istana.

Udara pagi masih terasa sejuk.

Namun suasana di tempat itu—

sama sekali tidak menenangkan.

Darrien berdiri beberapa langkah dari sebuah penghalang besar yang baru saja selesai dibentuk.

Ia menatap penghalang tersebut dengan tatapan curiga.

Berbeda dari penghalang yang digunakan dalam latihan sebelumnya—

yang satu ini jauh lebih tebal.

Beberapa lapisan energi transparan saling bertumpuk, membentuk sebuah ruang tertutup yang memisahkan bagian dalam dan luar.

Darrien mengangkat alis.

“Ini baru?”

Kevin berdiri di depannya.

Namun penampilannya kali ini berbeda.

Wajah yang biasa Darrien kenal telah menghilang.

Rambut, pakaian, bahkan aura yang biasanya mudah dikenali—

semuanya telah berubah.

Seorang pria lain berdiri di hadapannya.

Darrien menyipitkan mata.

“Kau benar-benar mengubah penampilanmu.”

Kevin menjawab datar.

“Tujuannya agar kau tidak bergantung pada pengenalan wajah atau aura.”

Darrien menghela napas.

“Kenapa rasanya latihan hari ini akan buruk?”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk penghalang.

“Masuk.”

Darrien menatapnya beberapa detik.

Kemudian menghela napas panjang.

“Baiklah.”

Ia melangkah masuk.

Begitu kakinya melewati batas—

penghalang langsung tertutup.

Darrien menoleh.

Ia mencoba melihat ke luar.

Tidak bisa.

Dari dalam—

ia tidak dapat melihat apa pun yang berada di luar penghalang.

Namun dari luar—

Fiona, Elarion, Ace, dan Rowan masih dapat melihat dengan jelas seluruh bagian dalam arena.

Fiona memperhatikan penghalang itu.

“Jadi dia benar-benar tidak bisa melihat kita?”

Elarion mengangguk.

“Tidak.”

Ace menyilangkan tangan.

“Bagus.”

Rowan menoleh.

“Bagus?”

Ace menghela napas.

“Setidaknya dia tidak akan melihat Fiona selama latihan.”

Fiona menatapnya.

“Kenapa?”

Ace hanya tersenyum tipis.

“Entahlah.”

Elarion melirik Ace.

Ia sudah memiliki firasat buruk.

***

Di dalam arena—

Darrien berdiri dengan posisi siap.

Kevin berada beberapa meter di depannya.

Tidak ada aba-aba panjang.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu kata.

“Mulai.”

Kevin menghilang.

Darrien bahkan tidak sempat berkedip.

Sebuah serangan datang dari samping.

**CLANG!**

Darrien berhasil menahannya.

Namun kekuatannya membuat kedua kakinya bergeser ke belakang.

“Cepat…”

Kevin sudah menghilang lagi.

Darrien berbalik.

**CLANG!**

Serangan kedua datang dari belakang.

Darrien memblokir.

Serangan ketiga.

Keempat.

Kelima.

**CLANG!**

**CLANG!**

**CLANG!**

Darrien mulai mundur.

Napasnya berubah.

Kevin tidak memberinya kesempatan untuk mengatur ritme.

Satu serangan datang dari kanan.

Darrien menghindar.

Serangan berikutnya datang dari bawah.

Ia melompat.

Namun ketika ia mendarat—

Kevin sudah berada di belakangnya.

Darrien berbalik.

Terlambat.

**BOOM!**

Tubuhnya terlempar.

Ia berguling di tanah beberapa kali sebelum berhenti.

Darrien mengusap sudut bibirnya.

Darah.

Ia melihat Kevin.

“Kau lebih cepat.”

“Benar.”

“Dibanding kemarin?”

“Benar.”

Darrien berdiri.

“Kau sengaja.”

Kevin mengangkat senjatanya.

“Ya.”

Darrien tertawa kecil.

“Setidaknya jujur.”

Kevin langsung bergerak.

***

Pertarungan kembali berlangsung.

Darrien mencoba mengejar.

Salah.

Ia mencoba membaca senjata.

Salah.

Ia mencoba mengantisipasi arah serangan.

Salah lagi.

Setiap kali ia merasa telah memahami ritme Kevin—

ritme itu berubah.

Darrien terjatuh.

Bangkit.

Terjatuh lagi.

Bangkit lagi.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada permintaan berhenti.

Hanya satu hal yang terus diberikan Kevin.

“Lagi.”

Darrien terengah-engah.

“Kau benar-benar menyukai kata itu.”

“Lagi.”

Darrien mengusap wajahnya.

“Aku tahu.”

Kevin bergerak.

Darrien mengangkat senjatanya.

**CLANG!**

Serangan itu tertahan.

Kevin menatapnya.

“Kau melihat senjataku.”

Darrien mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Jangan.”

Kevin menyerang lagi.

“Lihat tubuhku.”

Darrien mencoba.

Kevin bergerak.

Darrien melihat bahunya.

Terlambat.

**BOOM!**

Ia kembali terpental.

Kevin berdiri beberapa meter darinya.

“Bahu.”

Darrien berdiri.

Kevin melanjutkan.

“Kaki.”

Darrien kembali menyerang.

Kevin menghindar.

“Pinggul.”

Serangan berikutnya.

“Pusat gravitasi.”

Darrien terdiam.

Kevin menyerang.

Darrien memaksa dirinya untuk tidak melihat senjata.

Ia melihat tubuh.

Kaki.

Bahu.

Gerakan.

Mana.

Serangan datang.

Darrien menghindar.

Untuk pertama kalinya—

serangan Kevin tidak mengenai dirinya.

Darrien langsung menyerang balik.

**CLANG!**

Kevin menahan serangan itu.

Darrien tersenyum.

“Aku melihatnya.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menghela napas lega.

Namun—

Kevin menghilang.

Darrien membeku.

“Apa—”

**BOOM!**

Serangan menghantam sisi tubuhnya.

Darrien terlempar lagi.

Kevin berdiri tenang.

“Kau melihat satu pola.”

Ia menatap Darrien.

“Musuh tidak akan memberimu pola yang sama dua kali.”

Darrien mengusap tubuhnya yang sakit.

“Jadi kau sengaja mengubah ritme.”

“Ya.”

Darrien menarik napas.

“Baik.”

Ia mengangkat senjatanya.

“Kalau begitu aku akan menyesuaikan diri.”

Kevin mengangguk.

“Lagi.”

***

Waktu berlalu.

Pertarungan menjadi semakin cepat.

Darrien mulai memahami bahwa ia tidak dapat mengandalkan satu pola.

Ia harus membaca semuanya.

Gerakan.

Jarak.

Kecepatan.

Arah.

Perubahan mana.

Bahkan suara langkah.

Setiap kali gagal—

ia memperbaiki kesalahannya.

Setiap kali jatuh—

ia bangkit.

Perlahan—

gerakannya menjadi lebih efisien.

Tidak ada lagi gerakan yang sia-sia.

Ia mulai bergerak mengikuti ritme pertempuran.

Bukan mengejar Kevin.

Bukan mencoba memaksakan kecepatannya.

Tetapi—

menunggu celah.

Kevin menyerang.

Darrien menghindar.

Kevin mengubah arah.

Darrien mengikuti.

Kevin mempercepat gerakan.

Darrien memperpendek jarak.

**CLANG!**

Serangan Darrien akhirnya mengenai bahu Kevin.

Tidak dalam.

Namun cukup untuk meninggalkan sebuah garis luka.

Kevin menyentuh bahunya.

Melihat darah di jarinya.

Kemudian menatap Darrien.

“Bagus.”

Darrien tersenyum lelah.

“Akhirnya.”

Kevin mengangkat senjatanya.

“Belum selesai.”

Darrien langsung kehilangan senyumnya.

“…”

Kevin bergerak.

***

Pertarungan berlanjut.

Lebih cepat.

Lebih keras.

Namun sekarang—

Darrien tidak lagi hanya bertahan.

Ia mulai menyerang balik.

Ia gagal beberapa kali.

Satu serangan terlalu cepat.

Serangan berikutnya terlalu lambat.

Satu langkah terlalu jauh.

Langkah berikutnya terlalu pendek.

Namun setiap kesalahan membuatnya belajar.

Di luar penghalang—

Fiona terus memperhatikannya.

“Dia benar-benar berubah.”

Elarion mengangguk.

“Dia mulai menemukan ritmenya sendiri.”

Ace tersenyum.

“Berarti latihan beberapa hari terakhir tidak sia-sia.”

Rowan melihat Darrien yang kembali berdiri setelah jatuh.

“Dia juga tidak menyerah.”

Fiona tersenyum.

“Dia tidak boleh.”

***

Di dalam arena—

Kevin tiba-tiba mengubah suasana.

Kabut tipis menyebar.

Darrien berhenti.

“Apa ini?”

Tidak ada jawaban.

Kabut menjadi semakin tebal.

Pandangan Darrien menjadi buram.

Ia mencoba merasakan keberadaan Kevin.

Tidak ada.

“Kevin?”

Hening.

Kemudian—

sebuah suara terdengar.

Lembut.

Familiar.

“Darrien…”

Mata Darrien melebar.

Ia berbalik.

Di salah satu bagian arena—

Fiona berdiri.

Darrien membeku.

“Fiona?”

Ia melangkah mendekat.

Fiona tidak menjawab.

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa kau ada di sini?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian—

sebuah serangan magis muncul dari belakang Fiona.

**BOOM!**

Tubuh Fiona tersentak.

Darrien membeku.

“Fiona!”

Fiona perlahan jatuh.

“Tidak…”

Darrien berlari.

Namun sebuah ledakan kedua muncul.

Fiona terjatuh ke tanah.

Darrien kehilangan napas.

“FIONA!”

Dark mana meledak dari tubuhnya.

**BOOOOOOM!**

Seluruh arena bergetar.

Di luar—

Fiona yang asli langsung berdiri.

“Darrien!”

Ace menghela napas.

“Dia jatuh.”

Rowan menatap penghalang.

“Dia tidak bisa melihat kita.”

Elarion tetap tenang.

“Jangan masuk.”

Fiona menoleh.

“Tapi dia—”

“Biarkan.”

Elarion menatap Darrien.

“Ini bagian dari latihan.”

***

Di dalam—

Darrien sudah tidak mendengar apa pun.

Tidak ada suara Kevin.

Tidak ada suara dunia.

Hanya satu pikiran.

Fiona terluka.

Ia menyerang.

**BOOM!**

Satu magical dummy hancur.

Serangan berikutnya.

**BOOM!**

Dummy kedua.

Ketiga.

Keempat.

Darrien tidak berhenti.

Dark mana memenuhi seluruh arena.

Kevin muncul di hadapannya.

“Darrien.”

Darrien menyerang.

**CLANG!**

Kevin menahan.

“Dia adalah ilusi.”

Darrien menyerang lagi.

“Diam!”

**CLANG!**

Kevin terdorong beberapa langkah.

Darrien mengejar.

“Berikan dia kembali!”

Kevin memblokir.

“Lihat aku.”

Darrien menyerang lagi.

**BOOM!**

Kevin melompat mundur.

Darrien terus mengejar.

Gerakannya liar.

Cepat.

Penuh amarah.

Kevin akhirnya menghentikan satu serangan dengan kedua tangan.

“Darrien.”

Darrien menatapnya dengan mata penuh kemarahan.

“Dia terluka!”

“Tidak.”

Kevin menjawab tegas.

“Yang kau lihat bukan Fiona.”

Darrien berteriak.

“Aku melihatnya!”

“Dan itulah masalahmu.”

Kevin menahan serangan berikutnya.

“Kau melihat apa yang ingin kau lihat.”

Darrien terdiam sepersekian detik.

Kemudian menyerang lagi.

Kevin menahan.

“Kau berhenti berpikir.”

Darrien mendorong lebih kuat.

“Aku harus menyelamatkannya!”

Kevin terdorong.

Namun tetap bertahan.

“Kalau musuhmu tahu itu…”

Kevin menyerang balik.

Darrien terlempar.

“…mereka hanya perlu menggunakan Fiona untuk mengendalikanmu.”

Darrien jatuh.

Bangkit lagi.

“Tidak!”

Ia menyerang.

Kevin memblokir.

“Kalau setiap kali Fiona terluka kau kehilangan kendali…”

Darrien menyerang.

“…maka kekuatanmu sendiri akan menjadi senjata musuh.”

Darrien berteriak.

“Cukup!”

Dark mana kembali meledak.

**BOOOOOOM!**

Kevin terdorong jauh.

Namun—

ia masih berdiri.

***

Darrien terengah-engah.

Dadanya naik turun.

Ia menatap Fiona yang masih terbaring.

Tangannya gemetar.

“…”

Ia ingin berlari.

Ingin menghancurkan semuanya.

Namun—

suara Kevin kembali terdengar di dalam pikirannya.

*Jangan mengejar gerakan.*

*Baca.*

Darrien memejamkan mata.

Menarik napas.

Sekali.

Kemudian—

sekali lagi.

Dark mana di sekitarnya bergetar.

Namun tidak meledak.

Darrien membuka mata.

Ia melihat sekeliling.

Tanah.

Kabut.

Dummy.

Proyeksi Fiona.

Ia memperhatikan.

Tidak seperti sebelumnya.

Ia tidak melihat wajah.

Ia melihat mana.

Pergerakan.

Bayangan.

Napas.

Dan kemudian—

ia menyadarinya.

Fiona di depannya tidak memiliki aliran mana yang sama.

Bayangannya tidak mengikuti cahaya.

Dan—

tidak ada hubungan energi dengan lingkungan.

Darrien menatapnya lama.

Kemudian berbisik,

“…Kau bukan Fiona.”

Proyeksi itu perlahan menghilang.

Darrien berdiri diam.

Dark mana di sekitarnya mulai mereda.

Kevin tidak bergerak.

Darrien menundukkan kepala.

“Aku hampir kehilangan kendali lagi.”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Tapi kali ini…”

Ia mengangkat wajah.

“…aku menghentikannya.”

Kevin menjawab,

“Benar.”

Darrien menarik napas.

“Karena aku berpikir.”

“Karena kau belajar.”

Darrien terdiam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Aku masih takut.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kenapa itu bagus?”

“Karena rasa takut berarti kau peduli.”

Kevin menurunkan senjatanya.

“Yang harus kau kendalikan bukan perasaanmu.”

Ia menatap Darrien.

“Dirimu sendiri.”

Darrien terdiam.

Kata-kata itu masuk lebih dalam daripada serangan apa pun.

Ia memandang tangannya.

“Aku tidak ingin kehilangan kendali setiap kali Fiona terluka.”

“Kalau begitu jangan.”

Darrien tertawa kecil.

“Sesederhana itu?”

“Tidak.”

Kevin menggeleng.

“Itu sebabnya kau berlatih.”

Darrien mengangguk perlahan.

Kemudian—

ia kembali mengambil posisi.

Kevin mengangkat alis.

“Kau masih ingin lanjut?”

Darrien tersenyum.

“Ya.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menarik napas.

Kali ini—

dark mana mengalir dengan tenang di tubuhnya.

Tidak meledak.

Tidak liar.

Tidak menguasai pikirannya.

Ia mengendalikannya.

Kevin bergerak.

Darrien bergerak.

Pertarungan dimulai kembali.

Namun kali ini—

Darrien tidak bertarung dengan amarah.

Ia bertarung dengan kesadaran.

Ia mengamati.

Menunggu.

Membaca.

Menentukan waktu.

Kemudian menyerang.

Satu serangan.

Tepat.

Efisien.

Terkendali.

Di luar penghalang—

Fiona tersenyum.

Elarion mengangguk.

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Mereka semua memahami hal yang sama.

Darrien masih memiliki perasaan yang sama.

Ia masih akan panik jika Fiona berada dalam bahaya.

Ia masih akan berusaha melindunginya.

Namun sekarang—

ia mulai belajar untuk tidak kehilangan dirinya sendiri ketika melakukannya.

***

Beberapa waktu kemudian—

Kevin akhirnya menurunkan senjatanya.

“Cukup.”

Darrien berdiri dengan napas berat.

Ia melihat sekeliling.

Arena latihan hampir hancur.

Beberapa magical dummy telah menjadi serpihan.

Tanah penuh retakan.

Darrien menatapnya.

“…”

Kemudian ia menoleh kepada Kevin.

“Ini salahmu.”

Kevin menjawab tenang.

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Kau sengaja membuatku marah.”

“Ya.”

“Kau menggunakan Fiona.”

“Ilusi Fiona.”

Darrien menatapnya tajam.

Kevin tetap tenang.

“Perbedaannya penting.”

Darrien terdiam.

Kemudian menghela napas.

“Besok masih latihan?”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Darrien memejamkan mata.

“…”

Di luar penghalang—

Fiona mulai tertawa.

Darrien membuka mata.

“Apa yang lucu?”

Fiona tersenyum.

“Tidak ada.”

Darrien menatapnya curiga.

“Aku tahu kau tertawa.”

“Aku hanya senang kau masih hidup.”

Darrien menghela napas.

“Terima kasih.”

Kevin berjalan melewati mereka.

“Besok kita fokus pada kecepatan.”

Darrien membeku.

“Kecepatan lagi?”

Kevin tidak menoleh.

“Ya.”

Darrien menatap punggungnya.

Kemudian menghela napas panjang.

“Kenapa aku merasa latihan ini tidak akan pernah selesai?”

Fiona menepuk bahunya.

“Karena kau masih hidup.”

Darrien menatapnya.

“…Itu seharusnya menghibur?”

Fiona tersenyum.

“Sedikit.”

Darrien hanya menggeleng.

Namun kali ini—

ia tersenyum.

Karena meskipun latihan Kevin terasa seperti bencana—

ia tahu satu hal.

Ia semakin kuat.

Bukan hanya dalam kekuatan.

Bukan hanya dalam kecepatan.

Tetapi juga dalam mengendalikan dirinya sendiri.

Dan itu—

jauh lebih penting daripada sekadar menang dalam sebuah pertarungan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience