186. Privasi Yang Terganggu

Romance Series 382

BAB 186
PRIVASI YANG TERGANGGU

Suasana di dalam kamar masih terasa canggung.

Fiona berdiri di samping Darrien dengan wajah merah.

Edward dan Gloria masih berada di ambang pintu.

Kevin, Rowan, dan Ace juga masih di belakang mereka.

Darrien menarik napas.

Kemudian ia berkata dengan tenang,

“Bisakah kita membicarakannya nanti?”

Edward berkedip.

“Nanti?”

Darrien mengangguk.

“Aku masih punya urusan.”

Tatapannya beralih kepada Fiona.

Kemudian kembali kepada kedua orang tuanya.

“Dan sepertinya…”

Ia berhenti sebentar.

“…aku sedang sibuk.”

Fiona langsung menatapnya.

“Darrien!”

Kevin menutup mulutnya.

Rowan menundukkan kepala.

Ace pura-pura tidak mendengar apa pun.

Edward akhirnya menyadari situasinya.

Ia menatap Gloria.

Gloria menatap Edward.

Keduanya kemudian melihat kembali ke arah Darrien dan Fiona.

“Oh…”

Edward berdeham.

“Baiklah.”

Gloria tersenyum kecil.

“Kami akan kembali nanti.”

Edward menarik pintu.

Namun sebelum menutupnya, ia sempat berkata,

“Silakan lanjutkan…”

Darrien langsung menatapnya.

“Yang Mulia.”

Edward tertawa kecil.

“Baik. Baik.”

Pintu akhirnya tertutup.

**Klik.**

Keheningan.

Darrien menghela napas lega.

Namun saat ia berbalik—

Fiona sudah menatapnya.

Wajahnya merah.

“Urusan?”

Darrien tersenyum.

“Bukankah memang ada?”

Fiona memelototinya.

“Kau sengaja!”

“Aku hanya ingin mereka pergi.”

Fiona memalingkan wajah.

“Aku malu!”

Darrien mendekat.

“Kau tadi tidak terlihat malu.”

“Itu sebelum orang tuamu masuk!”

Darrien tertawa kecil.

Fiona semakin merah.

Kemudian Darrien mencoba mendekat lagi.

Fiona langsung mundur.

“Jangan!”

Darrien berhenti.

“Kenapa?”

Fiona menunjuk pintu.

“Mereka mungkin masih di luar!”

Darrien menghela napas.

“Benar juga.”

Fiona berjalan menuju sisi lain kamar.

Namun kemudian ia berhenti.

Ia sadar sesuatu.

“Tunggu…”

Ia menatap Darrien.

“Kenapa kau tadi bilang sedang punya urusan?”

Darrien tersenyum.

“Karena aku memang punya urusan.”

Fiona memelototinya.

“Kau!”

Ia langsung berbalik.

“Aku pergi!”

Darrien mengangkat alis.

“Ke mana?”

“Mana saja!”

Fiona membuka pintu.

Kemudian berlari keluar.

Darrien hanya berdiri di tempatnya.

Ia menghela napas.

“…”

Kemudian tersenyum kecil.

“Lari lagi.”

***

Di luar kamar—

Edward, Gloria, Kevin, Rowan, dan Ace masih berada tidak jauh dari pintu.

Fiona keluar dengan wajah merah.

Semua orang langsung menoleh.

Fiona berhenti.

Mereka saling berpandangan.

Kevin menahan tawa.

Fiona menunjuk mereka.

“Jangan ada yang bertanya!”

Kemudian ia langsung berjalan cepat melewati mereka.

Kevin akhirnya tidak tahan.

Ia tertawa.

Rowan ikut tersenyum.

Ace hanya menggeleng.

Gloria menatap putranya yang masih berada di dalam kamar.

Kemudian tersenyum kecil.

Edward berdiri di sampingnya.

“Sepertinya…”

Ia berhenti.

Gloria mengangguk.

“Biarkan saja.”

Edward tersenyum.

“Lagipula, kita sudah mendapatkan bukti yang kita cari.”

Gloria menyentuh dadanya.

“Ya.”

Ia masih tidak dapat menyembunyikan emosinya.

Namun kali ini—

ia tidak ingin mengganggu putranya.

Setidaknya untuk pagi itu.

***

Sementara itu—

Fiona terus berjalan menyusuri koridor.

Wajahnya masih panas.

“Aduh…”

Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa mereka harus datang sekarang?”

Di belakangnya—

pintu kamar Darrien terbuka.

Darrien keluar.

Ia melihat Fiona yang sedang berjalan menjauh.

Kemudian tersenyum.

“Fiona.”

Fiona tidak menoleh.

“Aku tidak mau bicara denganmu!”

Darrien tertawa kecil.

“Baik.”

Fiona terus berjalan.

Namun sudut bibirnya perlahan terangkat.

Meskipun malu—

ia juga tidak benar-benar marah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience