15. Pelajaran Pertama

Romance Series 94

BAB 15
PELAJARAN PERTAMA

Pagi datang perlahan di tengah hutan.

Cahaya matahari menembus celah pepohonan dan jatuh ke lantai kayu rumah Elarion.

Fiona terbangun lebih dulu.

Ia duduk dan memperhatikan sekeliling.

Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa mereka telah meninggalkan Akasia.

Kemudian semuanya kembali teringat.

Maria.

Pengejaran.

Pelarian.

Dan rumah kecil milik Elf yang menyelamatkan mereka.

Fiona bangkit dan berjalan keluar.

Di belakang rumah, Elarion sudah berada di halaman.

Ia sedang menyusun beberapa botol kecil di atas meja kayu.

“Selamat pagi,” sapa Fiona.

Elarion menoleh.

“Tidurmu cukup?”

Fiona mengangguk.

“Cukup.”

Darrien muncul beberapa saat kemudian.

Ia masih terlihat sedikit mengantuk.

Elarion memandang keduanya.

“Bagus. Kalian sudah bangun.”

Ia menunjuk beberapa benda di atas meja.

“Datanglah.”

Fiona dan Darrien mendekat.

Ada beberapa daun, akar, batu kecil, dan botol berisi cairan berwarna berbeda.

“Apa itu?”

“Bahan.”

“Untuk apa?”

“Ramuan.”

Fiona langsung terlihat tertarik.

“Ramuan ajaib?”

Elarion tersenyum.

“Sebagian.”

Ia mengambil sebuah daun hijau.

“Ini bisa membantu menurunkan demam.”

Kemudian ia mengambil botol merah.

“Ini untuk mengembalikan tenaga.”

Ia menunjuk botol biru.

“Dan ini bisa membantu seseorang yang terlalu banyak menggunakan sihir.”

Darrien memperhatikan semuanya.

“Kau membuat semuanya sendiri?”

“Sebagian besar.”

“Kenapa?”

Elarion mengangkat bahu.

“Karena aku seorang pengembara. Aku tidak bisa membawa tabib ke mana pun.”

Fiona terlihat kagum.

Elarion kemudian menatap mereka berdua.

“Sekarang giliranku bertanya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa?”

“Apakah kalian tahu cara menggunakan sihir?”

Keduanya saling menatap.

Kemudian Fiona menggeleng.

“Tidak.”

“Tidak pernah belajar?”

“Tidak.”

Elarion memandang Darrien.

“Dan kau?”

Darrien menggeleng.

“Aku bahkan tidak tahu apakah aku punya sihir.”

Elarion terdiam sebentar.

“Menarik.”

Ia mengambil sebuah batu kecil berwarna putih.

“Kalau begitu, kita mulai dari hal paling dasar.”

Ia meletakkan batu itu di atas meja.

“Sentuh.”

Fiona menyentuhnya lebih dulu.

Tidak terjadi apa-apa.

Elarion mengangguk.

“Sekarang kau.”

Darrien menyentuh batu tersebut.

Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.

Kemudian—

Retakan kecil muncul di permukaannya.

Darrien langsung menarik tangannya.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

Elarion memperhatikan batu itu.

“Aku tahu.”

Fiona mendekat.

“Apakah itu sihirnya?”

“Mungkin.”

Elarion mengambil batu lain.

“Coba lagi. Tapi kali ini jangan melawan apa pun yang kalian rasakan.”

Darrien menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Rasakan napasmu.”

Darrien menarik napas.

“Rasakan detak jantungmu.”

Ia menurut.

“Sekarang rasakan sesuatu yang bergerak di dalam tubuhmu.”

Darrien memejamkan mata.

Awalnya tidak ada apa-apa.

Kemudian hawa dingin yang pernah ia rasakan sebelumnya muncul kembali.

Sangat tipis.

Sangat dalam.

Darrien membuka mata.

“Ini…”

Elarion mengangkat tangan.

“Jangan dipaksa.”

Hawa dingin itu perlahan menghilang.

Darrien menghela napas.

Elarion mengangguk.

“Bagus.”

“Bagus?”

“Kau bisa merasakannya.”

Darrien menatap tangannya.

“Apa itu?”

Elarion tersenyum kecil.

“Itulah yang harus kita cari tahu.”

Kemudian ia menoleh kepada Fiona.

“Sekarang kau.”

Fiona tampak gugup.

Ia menyentuh batu yang sama.

Tidak terjadi apa-apa.

Elarion tidak berkata apa pun.

“Jangan dipaksa.”

Fiona menarik napas.

Ia mencoba lagi.

Kali ini, sebuah cahaya keemasan yang sangat samar muncul dari ujung jarinya.

Fiona langsung menarik tangannya.

“Aku tidak sengaja!”

Elarion menatap cahaya yang perlahan menghilang.

Ia tidak terlihat terkejut.

Namun matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang semakin dalam.

“Jangan takut.”

Fiona menatapnya.

“Aku tidak tahu bagaimana menghentikannya.”

“Kalau begitu, kita akan belajar.”

Darrien menoleh kepada Elarion.

“Kau mau mengajari kami?”

Elarion menyandarkan tubuhnya pada meja.

“Kalau kalian mau belajar.”

Fiona tersenyum.

“Aku mau.”

Darrien diam sejenak.

Kemudian mengangguk.

“Aku juga.”

Elarion tersenyum.

“Baik.”

Ia mengambil dua tongkat kayu pendek dari dekat rumah.

“Tapi ingat.”

Ia menyerahkan satu kepada Darrien dan satu kepada Fiona.

“Sihir bukan satu-satunya cara untuk bertahan hidup.”

Darrien memegang tongkat itu.

“Lalu apa?”

Elarion menunjuk hutan di belakang mereka.

“Tubuh kalian.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalau kalian ingin hidup di luar Akasia, kalian harus belajar menggunakan keduanya.”

Fiona menatap tongkat di tangannya.

Darrien menatap hutan.

Hari itu menjadi awal dari pelajaran pertama mereka.

Bukan tentang siapa sebenarnya mereka.

Bukan tentang darah yang mengalir dalam tubuh mereka.

Hanya tentang satu hal sederhana—

bagaimana caranya bertahan hidup di dunia yang baru saja mereka masuki.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience