326. Hari Yang Panjang

Romance Series 382

BAB 326 — HARI YANG PANJANG

Pagi kembali datang di Istana Lunaris.

Seperti biasa—

para pelayan mulai menjalankan tugas mereka.

Sarapan disiapkan.

Koridor kembali dipenuhi aktivitas.

Namun suasana hari ini terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Semua orang seolah-olah menunggu sesuatu.

Atau lebih tepatnya—

menunggu seseorang.

Fiona.

***

Di ruang makan—

Zeith dan Seraphine kembali duduk bersama.

Namun kursi Fiona masih kosong.

Tidak ada yang benar-benar membicarakannya.

Mereka hanya makan dalam diam.

Sesekali—

pandangan mereka berpindah menuju pintu.

Berharap Fiona tiba-tiba muncul dari sana.

Namun pintu tetap tertutup.

Seraphine akhirnya menghela napas.

“Semoga dia baik-baik saja.”

Zeith mengangguk.

“Dia pasti akan kembali.”

***

Tidak jauh dari sana—

Ace dan Rowan juga sarapan dalam keheningan.

Ace memutar sendoknya di dalam mangkuk.

“Menurutmu dia akan kembali hari ini?”

Rowan mengangkat bahu.

“Aku berharap begitu.”

Kevin duduk di seberang mereka.

“Dia berjanji.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Tidak ada yang mengatakan lebih banyak.

Namun semuanya memiliki pikiran yang sama.

**Kapan Fiona akan kembali?**

***

Darrien—

bahkan tidak benar-benar menikmati sarapannya.

Ia hanya duduk.

Menunggu.

Sejak tadi malam—

ia masih belum bisa merasakan keberadaan Fiona.

Dan itu membuatnya semakin tidak tenang.

Namun ia tetap mengingat perkataan Elarion.

*Berikan dia waktu.*

Darrien menarik napas.

“Dia akan kembali.”

Ia mengatakannya lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain.

***

Sementara itu—

jauh dari Istana Lunaris.

Fiona masih berada di tepi Danau Lunaris.

Matahari pagi telah menggantikan cahaya bulan.

Ia berdiri dari cabang pohon.

Menatap ke arah kejauhan.

Sudah waktunya kembali.

Namun sebelum bergerak—

Fiona teringat sesuatu.

Veyth.

Kerajaan Veyth.

King Edward.

Queen Gloria.

Fiona menutup matanya sebentar.

“Benar…”

Ada satu hal lagi yang harus dilakukan.

Jika semua rahasia masa lalu akan dibuka—

maka keluarga kerajaan Veyth juga perlu mengetahui kebenaran tentang Darrien.

Terutama—

tentang hilangnya seorang anak kecil bertahun-tahun lalu.

Darrien yang mereka cari.

Darrien yang seharusnya tumbuh di Veyth.

Darrien yang akhirnya ditemukan kembali dalam kehidupan yang sama sekali berbeda.

Fiona menghela napas.

“Ini akan menjadi hari yang panjang.”

Ia menatap langit.

Kemudian menunduk.

Sebuah pikiran lain muncul.

Mungkin—

setelah semuanya selesai…

ia bisa langsung pergi.

Menghilang.

Tidak perlu melihat ekspresi Darrien.

Tidak perlu melihat bagaimana ia memandangnya setelah mengetahui seluruh kebenaran.

Fiona menggenggam tangannya.

“Kalau aku langsung menghilang setelah semuanya selesai…”

Ia menelan ludah.

“…setidaknya aku tidak perlu melihat wajahnya.”

Fiona mengangguk pelan.

Seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

“Ya.”

“Begitu saja.”

Namun setelah beberapa detik—

senyum kecil muncul di wajahnya.

Senyum yang justru terlihat sedih.

“Setidaknya…”

Ia berbisik.

“…itu lebih mudah.”

Angin pagi berhembus melewati rambutnya.

Fiona berdiri sendirian di tepi danau.

Mencoba mempercayai rencana yang baru saja ia buat.

Namun jauh di dalam hatinya—

ia sendiri tahu.

Ia tidak benar-benar ingin pergi.

Ia hanya takut.

Takut melihat mata Darrien—

setelah seluruh kebenaran akhirnya terungkap.

Fiona menarik napas panjang.

Kemudian menatap ke arah Istana Lunaris.

“Baiklah…”

Ia mengepalkan tangan.

“Kalau begitu…”

“Ini saatnya pulang.”

Namun langkahnya belum bergerak.

Karena untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun—

Fiona justru takut pulang ke rumah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience