390. Tuntutan Dari Klan Vampire

Romance Completed 594

BAB 390 — TUNTUTAN DARI KLAN VAMPIRE

Setelah beberapa hari yang cukup melelahkan—

Darrien akhirnya mendapatkan sedikit waktu untuk beristirahat.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Seorang penjaga datang mencarinya.

“Yang Mulia Darrien.”

Darrien menoleh.

“Raja dan Ratu memanggilmu ke ruang kerja kerajaan.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Ia segera berjalan menuju ruang kerja kedua orang tuanya.

***

RUANG KERJA KERAJAAN VEYTH

Ketika Darrien masuk—

Edward dan Gloria sudah berada di sana.

Keduanya terlihat serius.

Darrien langsung menyadarinya.

“Ada apa?”

Edward tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sebuah surat dari atas meja.

Kemudian menyerahkannya kepada Darrien.

“Baca ini.”

Darrien menerima surat tersebut.

Segel hitam dengan lambang klan vampire terlihat jelas di bagian depan.

Tatapan Darrien sedikit berubah.

Ia membuka surat itu.

Beberapa baris pertama sudah cukup untuk membuatnya memahami isinya.

Klan Vampire menuntut agar—

**Darrien dan Fiona menyerahkan diri kepada pemimpin mereka, Raizen - Raja Empayar Shadowcresent.**

Alasannya—

kematian dua saudaranya.

Kaguya.

Dan Koga.

Darrien membaca surat itu sampai selesai.

Kemudian—

ia melipatnya kembali.

Wajahnya tetap tenang.

Hampir tidak ada ekspresi.

Gloria memperhatikannya.

“Kau tidak terkejut?”

Darrien mengangkat bahu kecil.

“Sedikit.”

Edward menatapnya.

“Mereka menuntutmu menyerahkan diri.”

“Aku tahu.”

“Dan kau tidak merasa perlu mengatakan apa pun?”

Darrien menghela napas.

“Karena aku sudah tahu kemungkinan ini akan terjadi.”

Edward terdiam.

“Kau tahu?”

“Cepat atau lambat.”

Darrien meletakkan surat itu di atas meja.

“Mereka kehilangan dua anggota keluarga mereka.”

Ia menatap kedua orang tuanya.

“Dan keduanya mati karena kami.”

Gloria menjadi lebih serius.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Darrien terdiam beberapa saat.

Kemudian mulai menjelaskan.

***

“Yang pertama adalah Koga.”

Edward mengerutkan kening.

“Koga?”

Darrien mengangguk.

“Dia adalah vampire yang kami lawan di Waterfall Valley.”

Edward dan Gloria saling memandang.

Darrien melanjutkan.

“Saat itu aku terluka parah dan tidak sadarkan diri.”

“Elarion yang kemudian memastikan identitas vampire tersebut.”

“Dan Koga adalah salah satu vampire yang kami lawan.”

Gloria mengingat kembali kejadian itu.

“Bukankah kami datang setelah pertempuran itu?”

“Ya.”

Darrien mengangguk.

“Kalian datang setelah pertarungan selesai.”

“Itulah saat kalian membawa kami kembali ke Veyth dan memberi kami tempat untuk beristirahat.”

Edward terdiam.

Hari itu—

adalah hari ketika identitas Darrien akhirnya diketahui oleh kedua kerajaan.

Darrien melanjutkan.

“Pada saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi.”

“Aku benar-benar tidak sadar.”

“Namun Elarion menjelaskan bahwa Koga akhirnya dibunuh oleh Fiona.”

Gloria sedikit terkejut.

“Fiona?”

Darrien mengangguk.

“Pure Light Magic.”

“Namun Fiona sendiri juga tidak sadar saat itu.”

Edward mengangkat alis.

“Tidak sadar?”

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Dia hanya melakukan chanting dalam keadaan setengah sadar.”

“Magic tersebut kemudian mengenai Koga.”

“Dan setelah itu…”

Darrien terdiam sejenak.

“…Koga mati.”

Ruangan kembali hening.

***

“Lalu Kaguya?”

Suara Edward terdengar lebih berat.

Darrien menatap surat vampire clan sekali lagi.

“Kaguya berbeda.”

“Beberapa minggu lalu, ketika kami berada di Lunaris…”

Tatapan Darrien berubah sedikit.

“Fiona diculik.”

Gloria langsung menegang.

“Apa?”

“Vampire yang menculiknya adalah Kaguya.”

Edward mengepalkan tangannya.

“Kau tidak pernah mengatakan ini.”

“Aku tidak ingin membuat kalian khawatir.”

Darrien menarik napas.

“Mereka menyakiti Fiona.”

“Membuatnya terluka.”

“Dan setelah kami menyelamatkannya…”

Ia berhenti.

“…Fiona tertidur selama tujuh hari.”

Gloria terdiam.

Ia langsung mengingat percakapan mereka pagi sebelumnya.

Tujuh hari.

Fiona tidak sadar selama tujuh hari.

Darrien menatap kedua orang tuanya.

“Kaguya adalah pemimpin kelompok itu.”

“Dia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Fiona.”

“Jadi…”

Edward menyelesaikan kalimatnya.

“Kau membunuhnya.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Tidak ada penyesalan dalam suaranya.

Bukan karena ia tidak memahami konsekuensinya.

Namun karena menurutnya—

keputusan itu sudah jelas.

“Aku tidak membunuhnya karena dia adalah vampire.”

Darrien berkata perlahan.

“Aku membunuhnya karena dia menyakiti Fiona.”

Gloria terdiam.

Edward menatap putranya cukup lama.

Kemudian ia bertanya,

“Kalau diberi kesempatan lagi…”

Darrien tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

“Aku akan melakukan hal yang sama.”

Hening.

***

Gloria akhirnya menghela napas.

“Aku mengerti.”

Edward masih terlihat serius.

“Namun sekarang Raizen menuntutmu.”

“Ya.”

“Dan mereka mungkin tidak akan berhenti hanya dengan surat.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

Edward menyandarkan tubuhnya pada kursi.

“Klan Vampire mungkin menggunakan kematian Koga dan Kaguya sebagai alasan untuk memulai konflik.”

Darrien terdiam.

Ia kemudian melihat kembali surat tersebut.

“Kalau mereka benar-benar ingin membalas dendam…”

Tatapannya menjadi dingin.

“…mereka tidak akan mengirim surat.”

Edward mengangguk perlahan.

“Benar.”

“Mereka mengirim tuntutan karena ingin melihat bagaimana Veyth bereaksi.”

Gloria menatap surat itu.

“Dan mereka secara khusus meminta Darrien dan Fiona.”

Darrien mengangguk.

“Mereka ingin kami menyerahkan diri.”

Edward menggeleng.

“Itu tidak akan terjadi.”

Darrien menatap ayahnya.

Edward berkata dengan tenang,

“Kau adalah pewaris Veyth.”

“Dan Fiona telah menjadi bagian dari keluarga kita.”

Gloria tersenyum tipis.

“Kami tidak akan menyerahkan kalian begitu saja.”

Darrien terdiam.

Kemudian—

senyum kecil muncul di wajahnya.

“Aku juga tidak berniat menyerahkan diri.”

Edward tertawa kecil.

“Aku sudah menduganya.”

***

Beberapa saat kemudian—

ketiganya kembali berdiskusi.

Mereka perlu mengetahui seberapa besar kekuatan Raizen.

Seberapa luas pengaruh klan vampire.

Dan apakah tuntutan tersebut merupakan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Namun satu hal sudah jelas.

Kematian Koga bukan sebuah pembunuhan yang direncanakan.

Dan kematian Kaguya bukan sesuatu yang akan disesali Darrien.

Keduanya terjadi karena keadaan.

Yang satu—

terbunuh oleh Pure Light Magic Fiona dalam keadaan tidak sadar.

Yang lainnya—

mati setelah menculik dan menyakiti Fiona.

Edward akhirnya mengambil kembali surat tersebut.

“Kita akan membahas ini bersama yang lain.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Ia kemudian berdiri.

Namun sebelum meninggalkan ruangan—

Gloria memanggilnya.

“Darrien.”

Ia menoleh.

“Hm?”

Gloria tersenyum lembut.

“Jangan menghadapi masalah ini sendirian.”

Darrien tersenyum kecil.

“Aku tidak akan.”

Kemudian ia keluar dari ruang kerja.

Edward dan Gloria tetap berada di sana.

Mereka saling memandang.

Untuk beberapa saat—

tidak ada yang berbicara.

Kemudian Edward berkata pelan,

“Sepertinya ketenangan kita tidak akan berlangsung lama.”

Gloria menghela napas.

“Tidak pernah berlangsung lama.”

Keduanya tertawa kecil.

Namun di atas meja—

surat dengan segel hitam klan Vampire masih tergeletak.

Dan nama pemimpinnya—

**Raizen**

Kini telah kembali muncul di hadapan Veyth.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience