Series
382
BAB 144
ENAM TAHUN
Sore mulai turun di Veyra.
Setelah latihan dan waktu mereka di danau, Fiona dan Darrien berjalan kembali menuju kediaman Rowan.
Tangan mereka masih saling menggenggam.
Fiona sesekali menatap Darrien.
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Darrien.”
“Hm?”
“Kalau dipikir-pikir…”
Ia berhenti sejenak.
“Kita sudah lama bersama.”
Darrien menoleh.
“Enam tahun.”
Fiona mengangguk.
“Enam tahun.”
Ia tersenyum.
“Rasanya seperti baru kemarin.”
Darrien ikut tersenyum.
Namun ingatannya perlahan kembali ke masa lalu.
***
Enam tahun yang lalu—
Fiona masih berusia sebelas tahun.
Darrien berusia tiga belas tahun.
Saat itu mereka belum mengetahui apa pun tentang kerajaan.
Belum mengenal Veyra.
Belum mengenal Elarion.
Dan belum mengetahui bahwa kehidupan mereka suatu hari akan dipenuhi sihir, vampir, dan rahasia kerajaan.
Yang mereka tahu hanyalah—
mereka harus pergi.
Jauh dari tempat itu.
Penjaga baru tempat penampungan tersebut telah mengetahui bahwa mereka memiliki nilai yang tinggi.
Ia berniat menjual mereka kepada seseorang yang bersedia membayar mahal.
Fiona dan Darrien tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tetap tinggal.
Jadi mereka melarikan diri.
Malam itu terasa dingin.
Fiona berlari sambil menggenggam tangan Darrien.
“Darrien…”
“Aku di sini.”
“Aku takut.”
Darrien sendiri sebenarnya juga takut.
Namun ia tidak menunjukkannya.
Ia terus menarik Fiona.
“Kita harus terus berjalan.”
“Ke mana?”
Darrien terdiam.
Ia tidak tahu.
Namun ia tetap menjawab,
“Ke mana saja.”
“Asalkan jauh dari sana.”
Fiona mengangguk.
Mereka terus berjalan.
Tanpa tahu bahwa perjalanan itu akan mengubah hidup mereka selamanya.
***
Kemudian mereka bertemu Elarion.
Pertemuan yang awalnya terlihat seperti kebetulan.
Namun sejak saat itu—
hidup mereka berubah.
Elarion memberi mereka tempat untuk tinggal.
Makanan.
Perlindungan.
Dan sesuatu yang belum pernah mereka miliki sebelumnya.
Sebuah rumah.
Enam tahun berlalu.
Namun ada satu bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Darrien.
Empat tahun setelah mereka melarikan diri—
ketika Fiona berusia lima belas tahun—
mereka kembali harus berpisah.
Kali ini karena keluarga Greig.
Darrien masih mengingat hari itu.
Fiona harus pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka melarikan diri bersama—
ia tidak bisa berada di sisinya.
Tidak bisa menggenggam tangannya.
Tidak bisa memastikan bahwa Fiona baik-baik saja.
Saat itu Darrien baru menyadari sesuatu.
Ia bisa menghadapi banyak hal.
Ia bisa hidup tanpa mengetahui masa lalunya.
Ia bahkan bisa menghadapi bahaya yang tidak ia mengerti.
Namun kehilangan Fiona—
adalah sesuatu yang tidak sanggup ia terima.
Masa itu hampir membuatnya kehilangan Fiona.
Dan sejak saat itu—
ketakutan tersebut tidak pernah benar-benar hilang.
***
Fiona menatap Darrien.
“Kau diam.”
Darrien tersadar dari lamunannya.
“Tidak apa-apa.”
“Kau memikirkan sesuatu?”
Darrien menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Fiona.
“Kejadian waktu kau berusia lima belas tahun.”
Fiona terdiam.
Ia tahu persis apa yang dimaksud Darrien.
“Greig…”
Darrien mengangguk.
“Waktu itu aku hampir kehilanganmu.”
Fiona menunduk.
“Ya.”
Beberapa saat mereka tidak berbicara.
Kemudian Darrien berkata pelan,
“Setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri.”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
“Aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi.”
Fiona tersenyum lembut.
“Darrien…”
“Bahkan ketika aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya.”
Ia menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku tetap tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Fiona terdiam.
Matanya perlahan menjadi berkaca-kaca.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku juga tidak ingin kehilanganmu.”
Darrien menatapnya.
Enam tahun.
Enam tahun sejak mereka melarikan diri.
Enam tahun sejak mereka mulai hidup bersama.
Dan di tengah perjalanan itu—
mereka pernah kehilangan satu sama lain.
Namun mereka menemukan jalan untuk kembali.
Fiona tertawa kecil.
“Dulu kita benar-benar tidak punya apa-apa.”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
“Kita bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.”
“Kau terus bertanya kepadaku.”
Fiona tertawa.
“Karena kau lebih tua.”
“Selisih dua tahun.”
“Dua tahun tetap lebih tua.”
Darrien tertawa.
“Baiklah.”
Mereka kembali berjalan.
Fiona menggenggam tangannya lebih erat.
“Sekarang kita punya rumah.”
“Ya.”
“Teman.”
“Ya.”
“Elarion.”
Darrien menghela napas.
“Sayangnya.”
Fiona tertawa.
Kemudian suasana kembali lembut.
“Dan kita masih bersama.”
Darrien menatapnya.
“Ya.”
Mereka berhenti sejenak.
Fiona menatapnya.
“Enam tahun lagi…”
Darrien mengangkat alis.
“Apa?”
“Aku ingin kita masih seperti ini.”
Darrien terdiam beberapa saat.
Kemudian menggenggam tangannya lebih erat.
“Kita akan tetap seperti ini.”
Fiona tersenyum.
“Janji?”
“Janji.”
Mereka kembali berjalan.
Dua anak yang dulu melarikan diri tanpa tahu masa depan—
kini telah tumbuh menjadi seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan seorang pemuda berusia sembilan belas tahun.
Namun bagi mereka—
enam tahun itu bukan sekadar waktu.
Itu adalah kenangan.
Ketakutan.
Perpisahan.
Tawa.
Perjalanan.
Dan rumah yang mereka bangun bersama.
Mereka pernah hampir kehilangan satu sama lain.
Mungkin itulah alasan mengapa sekarang—
keduanya begitu menghargai setiap kesempatan untuk tetap bersama.
Tanpa mereka sadari—
masa depan akan segera meminta mereka menghadapi satu lagi bagian dari masa lalu yang selama ini tersembunyi.
Namun sore itu—
mereka hanya berjalan pulang.
Bersama.
Share this novel