Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 353 — GERAKAN YANG TERASA FAMILIAR
Latihan kembali berlanjut.
Area latihan dipenuhi suara langkah dan hembusan angin yang tercipta dari pergerakan dua sosok di tengah lapangan.
Darrien bergerak.
Cepat.
Berubah arah.
Menghilang dari satu titik—
kemudian muncul di titik lainnya.
Kevin terus mengejarnya.
Tidak memberikan kesempatan sedikit pun.
Namun kali ini—
Darrien tidak hanya mengandalkan kecepatannya.
Ia mulai menggunakan pola gerakan yang berbeda.
Kadang ia bergerak lurus.
Kemudian berhenti mendadak.
Berbalik.
Mengubah arah.
Dan dalam sepersekian detik—
menghilang dari pandangan.
**WHOOSH!**
Kevin muncul di sisi kirinya.
Darrien langsung menghindar.
**WHOOSH!**
Ia berpindah ke belakang.
Kevin berbalik.
Namun Darrien sudah tidak berada di sana.
“Bagus.”
Suara Kevin terdengar tenang.
“Kau mulai memahami ritmenya.”
Darrien tidak menjawab.
Ia terus bergerak.
***
Di luar area latihan—
Fiona berdiri diam.
Tangannya terlipat di depan tubuhnya.
Ia tidak memberikan instruksi.
Tidak ikut campur.
Hanya memperhatikan.
Namun di sampingnya—
Ace, Rowan, Elarion, dan Elyon mulai berdiskusi.
Ace menyipitkan mata.
“Gerakannya berubah lagi.”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
“Awalnya dia hanya mencoba mengejar Kevin.”
“Sekarang dia mulai membaca gerakan.”
Elarion memperhatikan Darrien dengan serius.
“Bukan hanya membaca.”
Ace menoleh.
“Maksudmu?”
“Dia mulai bergerak sebelum Kevin mengubah arah.”
Rowan mengerutkan kening.
“Insting?”
“Sepertinya.”
Elyon menyilangkan tangan.
“Menarik.”
Ia memperhatikan gerakan Darrien.
“Yang lebih aneh…”
Semua menoleh kepadanya.
Elyon melanjutkan,
“…dia seolah-olah tidak perlu berpikir untuk melakukan perubahan arah itu.”
Ace mengangguk perlahan.
“Benar.”
“Seperti tubuhnya sudah tahu.”
Fiona tetap diam.
Namun kalimat itu membuat tatapannya sedikit berubah.
Tubuhnya sudah tahu.
Ya.
Fiona tahu.
Terlalu tahu.
Ia pernah melihat gerakan itu.
Bukan dari Darrien yang sekarang.
Melainkan dari seseorang yang hidup ribuan tahun lalu.
Seseorang yang pernah berdiri di sampingnya.
Seseorang yang pernah menjadi Grandmaster Dark Elf.
Fiona perlahan menundukkan pandangan.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
***
Di tengah lapangan—
Kevin tiba-tiba mempercepat gerakannya.
**WHOOSH!**
Darrien menghindar.
Kevin mengubah arah.
Darrien mengikuti.
Kevin berhenti.
Darrien juga berhenti.
Keduanya berdiri beberapa meter satu sama lain.
Kevin tersenyum.
“Sekarang…”
Ia mengambil posisi.
“…serang.”
Darrien mengangguk.
Dalam sekejap—
ia melesat.
Kevin menunggu.
Saat Darrien hampir mencapai dirinya—
Kevin bergeser.
Darrien seharusnya kehilangan momentum.
Namun tubuhnya justru berputar.
Satu kaki menyentuh tanah.
Tubuhnya berbalik.
Dan—
**WHOOSH!**
Ia muncul di sisi Kevin.
Kevin mengangkat alis.
“Bagus.”
Darrien sendiri terlihat sedikit terkejut.
Ia menatap tangannya.
Kemudian kakinya.
“Barusan…”
Ia mengerutkan kening.
“Aku tidak merencanakannya.”
Kevin mengangguk.
“Aku tahu.”
“Lalu bagaimana aku bisa melakukannya?”
Kevin tersenyum tipis.
“Tubuhmu yang melakukannya.”
Darrien terdiam.
Kalimat itu kembali mengingatkannya pada mimpi tadi malam.
Magicure yang murni.
Angin.
Pakaian formal seorang Grandmaster.
Dan sekarang—
gerakan yang terasa seperti sudah tertanam dalam tubuhnya.
Darrien menarik napas.
“…”
***
Fiona melihat ekspresinya.
Ia tahu Darrien mulai menyadarinya.
Namun ia tetap diam.
Belum saatnya.
Jika Darrien bertanya sekarang—
ia tidak tahu apakah dirinya siap menjawab.
Elyon tiba-tiba berkata,
“Fiona.”
Fiona menoleh.
“Hm?”
“Kau terlihat seperti mengetahui sesuatu.”
Fiona terdiam.
Ace dan Rowan ikut melihatnya.
Elarion juga.
Fiona tersenyum kecil.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
Elyon menunjuk Darrien.
“Karena sejak tadi kau tidak terlihat terkejut.”
Fiona memandang Darrien.
Ia tersenyum lembut.
“Aku hanya…”
Ia berhenti.
“…mengenal gerakan itu.”
Semua terdiam.
Elyon mengangkat alis.
“Dari mana?”
Fiona tidak langsung menjawab.
Ia kembali melihat Darrien.
“Dari masa lalu.”
Elyon menunggu.
Namun Fiona tidak menambahkan apa pun.
Ace hendak bertanya.
Namun Rowan menahannya.
“Jangan.”
Ace mengangguk.
Mereka tahu kapan harus berhenti.
***
Kevin kembali menyerang.
Darrien kembali bergerak.
Kali ini—
lebih cepat.
Lebih ringan.
Lebih alami.
Fiona memperhatikannya dalam diam.
Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
Bukan karena ia melihat Grandmaster masa lalu.
Melainkan karena ia melihat Darrien sekarang—
menemukan jalannya sendiri.
Ia tidak ingin memaksanya mengingat.
Tidak ingin memaksanya menjadi seseorang dari masa lalu.
Jika kenangan itu ingin kembali—
biarkan datang sendiri.
Fiona hanya akan berada di sana.
Menunggu.
Seperti dulu.
Namun kali ini—
ia tidak akan menunggu sendirian.
***
“Berhenti!”
Kevin tiba-tiba mengangkat tangan.
Darrien berhenti.
Napasnya berat.
Kevin mengangguk puas.
“Cukup untuk sekarang.”
Darrien mengangguk.
Ia mengusap keringat di dahinya.
Kemudian—
tanpa sadar—
matanya mencari Fiona.
Mereka saling bertatapan.
Fiona tersenyum.
Darrien membalasnya.
Dan untuk beberapa detik—
tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kemudian Ace berbisik kepada Rowan,
“Sepertinya ada yang sudah menemukan alasan baru untuk latihan.”
Rowan tersenyum.
“Bukan Kevin kali ini.”
Elarion tertawa kecil.
“Jangan ganggu.”
Fiona mendengar mereka.
Ia hanya menggeleng.
Namun wajahnya kembali memerah sedikit.
Darrien melihatnya.
Dan tersenyum.
Hari itu—
latihan belum selesai sepenuhnya.
Namun satu hal sudah jelas.
Tubuh Darrien mulai mengingat sesuatu.
Sedikit demi sedikit.
Tanpa dipaksa.
Tanpa dibuka paksa.
Dan Fiona—
akan membiarkan ingatan itu menemukan jalannya sendiri.
